SEBELUM berlanjut ke alinea-alinea berikutnya, ada keharusan bagi saya untuk mengawali catatan kecil ini dengan pengingat konstruktif.
Saya sebut konstruktif karena pengingat ini seyogianya diindahkan agar penanganan kasus pidana meninggalnya ananda Arianto Tawakal (semoga Allah Yang Maha Adil sediakan ruang indah baginya di surga) memenuhi empat tolok ukur kualitas pengungkapan peristiwa pidana.
Yakni, berlangsung tuntas, menyeluruh, objektif, dan transparan.
Terealisasinya empat standar mutu tentu merupakan kepentingan semua kalangan, termasuk--harus diasumsikan--menjadi tujuan Polri.
Baca juga: Kronologi Oknum Brimob Aniaya Pelajar di Tual Maluku hingga Tewas, Ditetapkan Tersangka
Salah satu kultur menyimpang di institusi kepolisian adalah curtain code, code of silence, atau sejenisnya.
Manifestasi jiwa korsa sesat ini adalah kecenderungan personel polisi meringankan atau bahkan menutup-nutupi aib, kesalahan, bahkan kejahatan yang dilakukan oleh kolega mereka.
"Kode senyap" memberikan alasan bagi semua pihak untuk mencermati seketat mungkin segala bentuk kerja kepolisian dalam penanganan meninggalnya ananda Arianto dan cedera parahnya ananda Nasri Karim.
Skeptisisme terhadap kerja kepolisian dalam kasus ini merupakan sikap yang terjustifikasi.
Sayangnya, Komisi Kepolisian Nasional pun tidak kunjung sembuh dari penyakit kronisnya. Yaitu, sebagaimana kadung menjadi kepercayaan publik, alih-alih mengawasi kerja Polri, Kompolnas acap berperan sebagai tukang stempel belaka.
Alhasil, dengan pengingat seperti di atas, catatan ini memberikan rekomendasi bagi dibentuknya tim investigasi yang melibatkan unsur-unsur eksternal Polri. Dan, Kompolnas barangkali tidak bisa diandalkan terlalu banyak untuk itu.
Reaksi Pembalap LiarGuna memperoleh gambaran tentang psikologinya pembalap liar dan polisi, agar tidak tergopoh-gopoh sampai pada simpulan yang bias, saya bertanya ke personel Polri yang berpengalaman panjang bertugas di bidang lalu lintas.
Apa isi kepala polantas saat menangani balapan liar, begitu pokok pertanyaannya. Logika dasar polantas adalah ketika ada balap liar, peserta akan serta-merta ketakutan lalu lari.
"Pasti kocar-kacir!" tegasnya.
Baca juga: Tragedi Brimob di Tual: Reformasi Polri yang Sekarat
Sampai di situ saja sudah muncul pertanyaan: Kenapa Brimob yang menangani balap liar pada hari H di Tual?
Anggaplah itu kebetulan belaka. Artinya, karena di lokasi Brimob berada ternyata ada balapan liar, maka Brimob turun tangan. Bisa dipahami.





