Proyek Whoosh Perlu Dievaluasi, Balik Modal Bisa Tembus 100 Tahun

idxchannel.com
3 jam lalu
Cover Berita

Whoosh kembali menjadi sorotan setelah adanya potensi kerugian yang dialami WIKA hingga Rp2,27 triliun.

Proyek Whoosh Perlu Dievaluasi, Balik Modal Bisa Tembus 100 Tahun (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh terus menjadi sorotan setelah muncul indikasi kerugian yang harus ditanggung oleh PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) yang mencapai Rp4 triliun lebih. 

Kerugian tersebut, harus ditanggung PSBI yang merupakan pemegang 60 persen saham PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC). 

Baca Juga:
AHY Terus Kawal Utang Whoosh, Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Tetap Masuk Rencana

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Esther Sri Astuti menilai, proyek kereta cepat yang diberi nama Whoosh itu perlu dievaluasi mendalam lantaran balik modal bisa sampai 100 tahun.

"Menurut saya semua proyek pengadaan fisik berpotensi menimbulkan dugaan korupsi, tidak hanya Whoosh, tapi yang lain-lain," katanya saat dihubungi pada Senin (23/2/2026).

Baca Juga:
Purbaya Tegaskan APBN Masih Sanggup Bayar Cicilan Utang Whoosh

Sekadar informasi, konsorsium PSBI merupakan gabungan dari sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yakni PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau (KAI), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Jasa Marga (Persero) Tbk, dan PT Perkebunan Nusantara (Persero) atau PTPN I. 

Ester menjelaskan, pengawasan terhadap pengelolaan KCIC dapat dilakukan dengan cara sederhana, yakni membandingkan kualitas barang atau hasil pekerjaan yang diterima dengan harga pasar yang berlaku. Langkah tersebut dinilai bisa menjadi indikator awal untuk mendeteksi adanya penyimpangan.

Baca Juga:
Purbaya Akui Belum Dilibatkan Soal Bayar Utang Whoosh Rp1,2 Triliun per Tahun Pakai APBN

“Mudah ngeceknya, bandingkan saja dengan kualitas barang yang diterima dengan harga pasar yang ada,” lanjutnya.

Menurut Esther, strategi utama untuk meminimalkan potensi kerugian adalah melalui monitoring dan evaluasi proyek secara konsisten. Apabila ditemukan kejanggalan, maka harus diikuti dengan penegakan hukum.

Baca Juga:
Ini Kata Ekonom Soal Rencana Bayar Utang Whoosh Pakai APBN

Selain persoalan tata kelola, Esther juga menyoroti aspek pembiayaan proyek Whoosh. Dia menyebut, terdapat kesenjangan yang besar antara jumlah utang yang ditanggung pemerintah dengan potensi penerimaan dari operasional kereta cepat tersebut.

"Jumlah utang yang ditanggung pemerintah untuk Whoosh dan potensi penerimaan dari Whoosh ini gapnya sangatlah besar," ujar Esther.

Kondisi tersebut juga berdampak pada lamanya payback period atau balik modal. Berdasarkan perhitungannya, dengan tingkat okupansi Whoosh seperti saat ini, periode balik modal proyek membutuhkan waktu yang sangat lama.

"Ini mengakibatkan tingkat pengembalian (payback period) proyek Whoosh sangat lama. Saya pernah menghitung sekitar lebih 100 tahun lebih dengan tingkat okupansi Whoosh seperti sekarang," ujar dia.

(DESI ANGRIANI)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Gak Perlu Ngantre Dapatin Pecahan Rp10.000 dan Rp20.000 Buat Lebaran 2026, Begini Caranya
• 20 jam laludisway.id
thumb
Begini Cara Mudah Registrasi BCA ID di Aplikasi myBCA
• 23 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Terpopuler: Media Asing Ragukan Timnas Indonesia Juara AFF, Tribun Selatan GBLA Ditutup Imbas Kericuhan
• 12 jam laluviva.co.id
thumb
Pria Asal Riau Ditangkap di Terminal Kebon Jeruk, Bawa 1 Kg Kokain dari Malaysia
• 6 jam lalurctiplus.com
thumb
iPhone - Google Pixel Bisa Cepat Masuk RI usai Deal Produk AS Bebas TKDN
• 55 menit lalukumparan.com
Berhasil disimpan.