VP Google: Tidak Semua Startup AI Punya Masa Depan

mediaindonesia.com
1 jam lalu
Cover Berita

GELOMBANG startup berbasis kecerdasan buatan (AI) terus bermunculan dalam dua tahun terakhir. Namun di tengah euforia tersebut, peringatan datang dari internal industri sendiri. Darren Mowry, Vice President yang memimpin organisasi startup global di Google, menilai tidak semua model bisnis AI punya masa depan cerah. Dilansir dari TechCrunch, ia menyebut ada dua jenis startup yang menurutnya berisiko besar tidak bertahan jika tidak memiliki diferensiasi yang jelas.

Mowry mengibaratkan sebagian startup saat ini seperti mobil dengan lampu “check engine” menyala. Secara tampilan terlihat melaju, tapi ada masalah mendasar dalam fondasi bisnisnya.

Startup “Pembungkus” Model AI Dinilai Rapuh

Jenis pertama adalah startup yang dikenal sebagai LLM wrapper. Model bisnis ini membangun produk di atas model bahasa besar seperti GPT atau Gemini, lalu menambahkan antarmuka atau fitur ringan sebelum menjualnya ke pengguna.

Baca juga : Alphabet Incar Dana Segar Rp315 Triliun untuk AI Google di Tengah Bayang-Bayang Risiko Investasi

Menurut Mowry, pendekatan ini semakin sulit dipertahankan jika tidak ada nilai tambah yang kuat. “Kalau Anda hanya mengandalkan model di belakang layar untuk melakukan semua pekerjaan, dan pada dasarnya hanya memberi label ulang pada model itu, industri sudah tidak lagi punya banyak kesabaran untuk hal seperti itu,” ujarnya, seperti dikutip dari TechCrunch.

Jika kekuatan utama produk sepenuhnya bergantung pada teknologi pihak lain, maka ketika penyedia model memperbarui fitur atau menurunkan harga, posisi startup tersebut langsung tertekan. Tanpa keunggulan teknis, data eksklusif, atau fokus vertikal tertentu, daya saingnya tipis.

Agregator AI Masuk Zona Rawan

Jenis kedua yang disorot adalah startup agregator AI. Model ini menggabungkan berbagai model AI dalam satu platform atau API, lalu memberi pengguna opsi memilih layanan sesuai kebutuhan.

Baca juga : Google Docs Memperkenalkan Fitur Baru untuk Membacakan Dokumen

Sekilas terlihat praktis. Namun Mowry menilai model ini semakin sulit berkembang karena penyedia AI besar kini menawarkan layanan langsung yang lebih terintegrasi. Ia bahkan menyarankan pendiri startup untuk berhati-hati. “Hindari bisnis agregator,” katanya secara tegas dalam wawancara tersebut.

Menurutnya, tanpa diferensiasi yang nyata, agregator hanya menjadi perantara yang mudah digantikan. Margin tertekan, kompetisi tinggi, dan ketergantungan pada vendor utama menjadi risiko utama.

Pasar Semakin Selektif

Peringatan ini datang di saat pendanaan AI masih mengalir, tetapi investor semakin kritis. Demo produk yang impresif saja tidak cukup. Investor kini mencari keunggulan kompetitif jangka panjang dan kepemilikan intellectual property yang jelas.

Mowry menekankan hype tidak bisa jadi fondasi bisnis. Startup AI harus membangun nilai yang tidak mudah ditiru oleh perusahaan teknologi besar. Jika tidak, peluang untuk bertahan di tengah seleksi alam industri akan semakin kecil. (TechCrunch/Z-2)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ini Bukan Sekadar Permainan, Ini Board Game
• 9 jam lalukompas.id
thumb
Dapat Restu Suami, Cut Tari Comeback Akting Lewat Serial Samuel
• 20 jam lalukumparan.com
thumb
Bupati Sidoarjo Sidak RTLH di Sedati, Rumah Warga Akan Segera Diperbaiki
• 20 jam lalurealita.co
thumb
Komisi III DPR ke Hakim Kasus ABK 2 Ton Sabu: Hukuman Mati Alternatif Terakhir
• 1 jam laludetik.com
thumb
Haaland Unggah Sindiran Nakal ke Bintang Newcastle Setelah Ditekuk Manchester City, Guardiola: Sungguh Mimpi Buruk
• 16 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.