Para mahasiswa Iran kembali menggelar unjuk rasa pada Minggu (22/2) waktu setempat, saat kekhawatiran akan terjadinya perang dengan Amerika Serikat (AS) semakin meningkat, setelah perundingan nuklir kedua negara belum membuahkan hasil.
Unjuk rasa itu berlangsung setelah para mahasiswa Iran menggelar aksi peringatan untuk mereka yang tewas dalam unjuk rasa antipemerintah beberapa waktu terakhir.
Sebelumnya, unjuk rasa pada Desember tahun lalu yang awalnya dipicu oleh kesulitan ekonomi di Iran, dengan cepat meluas menjadi demo antipemerintah yang menandai salah satu tantangan terbesar bagi kepemimpinan ulama Teheran dalam beberapa tahun terakhir.
Presiden AS Donald Trump awalnya mendukung para demonstran Iran dan mengancam akan melakukan intervensi atas nama demonstran Iran ketika otoritas Teheran melancarkan operasi penindakan brutal dan mematikan. Namun ancaman Trump beralih ke program nuklir Iran, yang diyakini Barat bertujuan untuk mengembangkan senjata atom.
Washington dan Teheran sejak saat itu telah kembali ke meja perundingan. Tetapi pada saat bersamaan, Trump juga meningkatkan pengerahan militer besar-besaran di kawasan Timur Tengah, yang dimaksudkan untuk menekan Iran agar mencapai kesepakatan dalam perundingan dengan AS.
Unjuk rasa mahasiswa kembali muncul di Iran, seperti dilansir AFP, Senin (23/2/2026), menyusul aksi di kampus-kampus setempat pada Sabtu (21/2) untuk mengenang para korban tewas dalam unjuk rasa antipemerintah sebelumnya. Dilaporkan aksi pro-pemerintah dan antipemerintah terjadi pada saat bersamaan.
Kantor berita Fars, yang berafiliasi dengan pemerintah, pada Minggu (22/2) merilis sejumlah video yang menampilkan kerumunan puluhan orang melambaikan bendera Iran dan membawa foto-foto peringatan di sejumlah universitas di ibu kota Teheran.
Salah satu video menunjukkan kerumunan demonstran di kompleks Universitas Teknologi Sharif yang meneriakkan slogan berbunyi "Matilah Shah" -- merujuk pada monarki yang digulingkan oleh Revolusi Islam tahun 1979 silam.
(nvc/ita)





