Ramai Soal LPDP, Purbaya: 20 Tahun Lagi Dia akan Menyesal

republika.co.id
7 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Polemik penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang ramai di media sosial ikut disinggung Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Ia menilai, mereka yang meragukan masa depan Indonesia saat ini bisa saja berubah pikiran dua dekade mendatang.

Pernyataan itu disampaikan dalam taklimat media APBN KiTa Edisi Februari 2026 di Jakarta, Senin (23/2/2026). Purbaya merespons sorotan publik terhadap seorang warga negara Indonesia (WNI) penerima beasiswa LPDP, Dwi Sasetyaningtyas.

Baca Juga
  • Pengabdian Bagi Alumni LPDP
  • LPDP Angkat Suara atas Polemik ‘Cukup Kami yang WNI’
  • Alumnus LPDP 'Kapok' Jadi WNI, Segini Duit Rakyat untuk Program Itu

Nama Dwi ramai diperbincangkan setelah ia mengunggah video tentang kebahagiaannya saat anak keduanya resmi menjadi warga negara Inggris melalui naturalisasi. Unggahan tersebut memantik kritik sebagian warganet yang mempertanyakan komitmen penerima beasiswa yang dibiayai dana abadi pendidikan bersumber dari pajak masyarakat.

Menanggapi hal itu, Purbaya tidak berbicara panjang. Ia justru menekankan optimismenya terhadap arah Indonesia ke depan. “Mungkin 20 tahun lagi dia akan menyesal, karena 20 tahun lagi kita akan sangat bagus,” ujarnya.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Menurut dia, keyakinan itu bukan sekadar retorika. Di tengah tekanan global sepanjang 2025, ekonomi Indonesia masih tumbuh 5,11 persen. Defisit anggaran pun terjaga di level 2,92 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), lebih rendah dibandingkan sejumlah negara di kawasan.

“Kita menciptakan pertumbuhan dengan tetap menjaga prinsip kehati-hatian fiskal,” kata Purbaya.

Dwi merupakan alumnus S2 Delft University of Technology, Belanda, lulusan 2017. Suaminya, Arya Iwantoro, menempuh studi S2 dan S3 di Utrecht University pada 2017 hingga 2022. Keduanya menempuh pendidikan melalui skema beasiswa LPDP.

Isu ini kemudian berkembang menjadi perbincangan soal nasionalisme dan kontribusi setelah menerima pembiayaan negara. Namun, pemerintah menegaskan fokusnya tetap pada menjaga stabilitas dan memastikan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dapat dirasakan masyarakat luas.

“Dengan pengelolaan yang pruden, kita optimistis Indonesia akan semakin kuat,” ujar Purbaya.

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
sumber : Antara
Advertisement

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
ABK Dituntut Hukuman Mati Kasus 2 Ton Sabu, Komisi III Sebut Fandi Ramadhan Bukan Pelaku Utama
• 4 jam lalurctiplus.com
thumb
Kini Sudah Bebas, Berapa Lama Fariz RM Seharusnya Dihukum?
• 9 jam laluviva.co.id
thumb
Ketua MPR ingatkan kasus polisi aniaya anak Tual harus jadi pelajaran
• 22 jam laluantaranews.com
thumb
KIP Kabulkan Gugatan Hasil TWK Eks Pegawai KPK, Begini Respons KPK
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Terpopuler: Ci Mehong Gugat Cerai Suami, Piche Kota Terancam 15 Tahun Penjara
• 17 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.