Melihat Seberapa Besar Cinta Seseorang dari Cara Dia Bertengkar

erabaru.net
6 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Pernah suatu kali aku membaca sebuah kalimat di suatu tempat: “Untuk mengetahui apakah seseorang benar-benar mencintaimu, jangan lihat seberapa baik ia memperlakukanmu saat keadaan normal, tetapi lihat bagaimana ia bersikap kepadamu ketika sedang bertengkar.”

Sejak membaca kalimat itu, aku selalu mengingatnya.

Dalam sebuah hubungan, cara dua orang saling memperlakukan sangat dipengaruhi oleh kepribadian masing-masing.

Mungkin pacarmu bukan tipe yang sangat teliti, tidak pandai merangkai kata manis, atau jarang menunjukkan perhatian kecil.  Atau sebaliknya, mungkin dia sangat lembut, penuh perhatian, dan selalu memanjakanmu.

Menurutku, semua itu tidak terlalu penting.

Karena saat sedang jatuh cinta dan tidak ada konflik, suasana hati semua orang biasanya baik. Dalam kondisi seperti itu, wajar jika tak ada yang tega memperlakukan pasangannya dengan buruk.

Namun saat bertengkar, segalanya menjadi berbeda. Semua orang sedang diliputi amarah, emosi memuncak, ketidakpuasan ingin meledak.

Tetapi orang yang benar-benar mencintaimu tidak akan melukai dirimu hanya karena sedang marah. Baik itu kekerasan fisik maupun kata-kata kasar yang menyakitkan, semuanya bukanlah sesuatu yang akan dilakukan oleh orang yang sungguh mencintaimu.

Sedang marah atau sedang bertengkar bukanlah alasan untuk menyakiti pasangan.

Jika benar-benar mencintai, bukankah seharusnya dia tak tega melihatmu terluka?

Aku pernah memiliki seorang pacar selama dua tahun. Dari segi penampilan dan latar belakang, dia sangat baik. Dalam keseharian, dia memperlakukanku dengan penuh perhatian, setia, bahkan sangat lembut— jauh berbeda dari kesan luarannya.

Saat itu aku benar-benar merasa, “Dia sungguh mencintaiku.” Aku merasa belum pernah ada orang yang begitu perhatian dan begitu lembut padaku. Aku yakin, aku telah bertemu dengan seseorang yang tulus mencintaiku.

Namun setiap kali kami bertengkar… dia berubah.

Saat marah, dia terus-menerus menutup teleponku, memakiku dengan kata-kata kotor, bahkan menyebutku dengan hinaan dan sumpah serapah yang sangat menyakitkan.

Ketika dia pertama kali memakiku seperti itu, aku benar-benar terpaku. Aku bahkan sempat berpikir : “Ini pasti cuma halusinasi.”

Saat kami berdamai, dia merasa sangat bersalah dan terus meminta maaf. Hatiku pun melunak, dan aku memaafkannya.

Namun setiap kali bertengkar lagi, semuanya terulang kembali. Perilakunya tidak pernah berubah.

Akhirnya aku benar-benar sadar: orang ini tidak sungguh-sungguh mencintaiku.

Tak peduli seberapa baik dia bersikap padaku saat keadaan normal, fakta bahwa dia bisa dengan mudah melukaiku saat marah sudah cukup membuktikan betapa rendahnya kualitas kepribadiannya— betapa buruk sikapnya, dan betapa egois dirinya.

Terhadap dirinya, mungkin dalam keseharian aku terlihat biasa saja. Namun aku tahu, aku sangat peduli padanya. Itulah sebabnya, bahkan saat bertengkar, aku tidak sanggup memakinya. Aku tidak tega, dan aku merasa itu salah. Aku tidak seharusnya melukai seseorang yang aku cintai.

Bertengkar seharusnya menjadi sarana komunikasi, bukan alat untuk menyakiti.

Jika saat ini, di sisimu ada seseorang yang bahkan saat bertengkar pun tidak menyakitimu, yang masih mau mengalah demi menjaga perasaanmu— tolong, jagalah dan hargailah orang itu sebaik-baiknya.

Renungan

Kalimat: “Melihat apakah seseorang mencintaimu bukan dari seberapa baik dia bersikap saat normal, tetapi dari caranya memperlakukanmu saat bertengkar.”

benar-benar merupakan sebuah kalimat emas. Kalimat ini mampu membuka pemahaman baru tentang makna sebuah hubungan.

Pesan ini tidak hanya berlaku dalam hubungan cinta, untuk mengukur seberapa besar cinta pasangan terhadap kita, tetapi juga bisa digunakan untuk menilai karakter seseorang.

Dari sini, kita bisa menilai siapa yang layak menjadi sahabat sejati, dan siapa yang sebaiknya hanya dijadikan kenalan biasa.

Baik atau buruknya karakter seseorang dapat dilihat dari bagaimana dia mengelola emosinya saat berada di titik terendah.

Jika kalimat tadi kita renungkan dari sudut pandang lain:“Untuk melihat seberapa besar welas asih seseorang, jangan lihat seberapa sering ia berbuat baik, tetapi lihat bagaimana dia memperlakukan musuhnya. Jika terhadap musuh pun ia mampu bersikap ramah dan penuh empati, maka kepada orang biasa dia tentu akan jauh lebih penuh kasih.”

Tentu saja, dalam hidup selalu ada pengecualian. Kadang seseorang bisa bertindak di luar kebiasaan karena tekanan yang terlalu besar atau amarah yang benar-benar meluap hingga kehilangan kendali.

Dalam kondisi ekstrem seperti itu, perilaku seseorang tidak bisa sepenuhnya dijadikan tolok ukur untuk menilai baik atau buruknya karakter.(jhn/yn)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
MHIB Optimistis Kolaborasi dengan MNC Insurance Bisa Tingkatkan Kualitas Layanan di Tiga Segmen Ini
• 2 jam laluidxchannel.com
thumb
Motor RX King Terbakar Usai Tabrak Ambulans di Bogor, Pengendara Kabur
• 11 jam laludetik.com
thumb
RANS Bersih-Bersih Usai Start Tersendat, Jabari Narcis Jadi Korban Pertama
• 15 jam laluviva.co.id
thumb
Polda Maluku Tegaskan Proses PTDH Bripda MS Cepat dan Transparan
• 20 jam laluviva.co.id
thumb
Indonesia Bangun Gudang Bulog di Kampung Haji Berkapasitas 1.000 Ton
• 4 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.