Puasa Ramadan sering kali jadi momen spesial untuk anak-anak belajar banyak hal baru, mulai dari menahan lapar, bangun sahur, sampai ikut berbuka bersama keluarga. Tapi sebelum mengajarkan praktik puasa, penting untuk mengenalkan dulu dasarnya, Moms. Yakni, rukun puasa Ramadan.
Dengan memahami rukunnya, anak tidak hanya ikut-ikutan puasa, tapi benar-benar mengerti maknanya. Rukun puasa sederhana, jadi mudah dijelaskan dengan bahasa yang ringan dan sesuai usia si kecil.
Bagaimana Menjelaskan Rukun Puasa pada Anak?Bisa mulai dengan penjelasan paling simpel, Moms. Katakan pada anak:
“Rukun itu seperti syarat utama. Kalau tidak dilakukan, puasanya jadi tidak sah.”
Ibarat membangun rumah, rukun adalah pondasinya. Tanpa pondasi, rumahnya tidak bisa berdiri. Begitu juga puasa.
Dalam puasa Ramadan, ada dua rukun utama yang perlu anak pahami.
1. Niat puasa
Jelaskan bahwa niat adalah janji dalam hati untuk berpuasa karena Allah. Untuk anak, Anda bisa menyederhanakannya seperti ini:
“Niat itu seperti bilang ke diri sendiri, ‘Besok aku mau puasa.’”
Tidak harus selalu diucapkan keras-keras. Yang penting, anak sadar dan sengaja ingin berpuasa. Biasanya niat dilakukan pada malam hari setelah tarawih atau saat sahur sebelum waktu Subuh.
Agar lebih mudah, Anda bisa mengajak anak membaca niat bersama sebelum tidur atau saat sahur. Ini juga bisa jadi rutinitas yang hangat dan menyenangkan.
2. Menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa
Setelah niat, barulah masuk ke praktiknya: menahan diri. Terangkan dengan bahasa yang dekat dengan keseharian mereka:
“Dari Subuh sampai Magrib, kita tidak makan, tidak minum, dan tidak melakukan hal-hal yang bikin puasa batal.”
Untuk anak-anak, fokuskan dulu pada tiga hal utama:
tidak makan
tidak minum
tidak sengaja membatalkan puasa
Tak perlu penjelasan rumit. Sesuaikan dengan usia. Yang penting mereka paham konsep “menahan diri”.
Cara Jelaskan Puasa supaya Anak Lebih PahamAnak biasanya lebih mudah belajar lewat contoh dibanding ceramah panjang. Anda bisa mencoba beberapa cara ini:
Gunakan cerita. Misalnya, ceritakan bahwa puasa itu latihan supaya kita lebih sabar dan kuat.
Pakai analogi sederhana. Katakan bahwa puasa seperti “mengistirahatkan perut” atau “latihan disiplin”.
Beri apresiasi. Saat anak berhasil puasa setengah hari atau sampai Magrib, beri pujian. Ini membuat mereka merasa bangga.
Jangan memaksa. Karena anak masih belajar, sehingga jika belum kuat seharian, itu wajar.
Puasa Bukan Cuma soal Lapar
Di atas segalanya, ajarkan bahwa puasa bukan sekadar menahan makan dan minum. Ini juga tentang belajar sabar, jujur, dan berbuat baik.
Anda bisa menambahkan pesan seperti:
“Kalau puasa, kita juga harus lebih baik. Tidak marah-marah, tidak berbohong, dan suka menolong.”
Dengan begitu, anak memahami bahwa puasa punya makna yang lebih dalam, bukan cuma soal fisik.





