Kelebihan Agama dari Sekularisme (2)

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Melanjutkan artikel sebelumnya. Kelima, percaya bahwa dengan matinya seseorang, hidup ruhnya tidak berakhir. Faktor ini mempercayai adanya kehidupan akhirat.

Mempercayai adanya kehidupan akhirat adalah salah satu rukun iman yang ke-5 dalam Islam, yaitu Iman kepada Hari Akhir (Yaumul Qiyamah). Akhirat adalah alam setelah kematian dan kehidupan abadi yang akan datang setelah dunia hancur, tempat manusia menerima balasan atas perbuatannya.

Berikut adalah penjelasan mengenai keyakinan pada akhirat menurut Islam beserta dalil-dalilnya.

1. Konsep Kehidupan Akhirat dalam Islam

Islam mengajarkan bahwa dunia hanyalah tempat "bercocok tanam" (menanam amal), sedangkan akhirat adalah tempat memanen hasilnya. Kehidupan akhirat adalah kehidupan yang hakiki dan kekal, berlawanan dengan dunia yang sementara.

Akhirat adalah tempat di mana seluruh perbuatan manusia—baik yang sekecil zarah (atom) maupun yang besar—akan diadili dan dibalas dengan seadil-adilnya oleh Allah SWT.

Meyakini akhirat mencakup percaya pada kematian, alam barzakh, hari kebangkitan (yaumul ba'ats), hari perhitungan (hisab), timbangan amal (mizan), surga, dan neraka.

2. Dalil-Dalil Kehidupan Akhirat (Al-Qur'an)

Banyak ayat Al-Qur'an yang menegaskan kewajiban meyakini akhirat dan keunggulannya dibandingkan dunia. Berikut beberapa contohnya.

“Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal." (QS. Al-A'la ayat 17).

"...Dan apa saja (kekayaan, jabatan, keturunan) yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kesenangan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Tidakkah kamu mengerti?" (QS. Al-Qasas ayat 60).

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu..."(QS. Ali 'Imran ayat 185).

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia..." (QS. Al-Qashash ayat 77).

3. Hikmah Mempercayai Akhirat

Pertama, Meningkatkan Ketakwaan: Tumbuhnya kesadaran bahwa setiap tindakan akan dipertanggungjawabkan membuat seorang muslim lebih berhati-hati dan takut berbuat maksiat.

Kedua, Motivasi Beramal Saleh: Semangat beribadah meningkat karena mengetahui adanya ganjaran surga dan kebahagiaan abadi.

Ketiga, Qanaah dan Tidak Tamak: Merasa cukup dengan pemberian Allah karena menganggap dunia hanya persinggahan sementara.

Keempat, Ketenangan Hati: Memahami bahwa ketidakadilan di dunia akan dibalas dengan keadilan mutlak di akhirat.

Kelima, beriman kepada hari akhir adalah pembeda antara mukmin dan orang yang ingkar karena mengingkari akhirat sama dengan menyia-nyiakan ajaran para nabi.

Keenam, percaya dengan ibadah sebagai cara mengadakan hubungan dengan Tuhan.

Dalam Islam, percaya dan menjalankan ibadah sebagai cara mengadakan hubungan dengan Tuhan (Allah SWT) adalah inti dari ajaran agama itu sendiri. Ibadah dalam Islam bukan sekadar ritual fisik, melainkan juga bentuk pengabdian total, ketundukan, dan upaya mendekatkan diri (taqarrub) kepada Pencipta.

Ketujuh, percaya kepada Tuhan sebagai sumber dari norma-norma dan nilai hidup.

Berikut ini adalah penjabaran konsep dan dalil mengenai Tuhan sebagai sumber nilai dalam Islam.

1. Tauhid sebagai Fondasi Nilai

Tauhid—mengesakan Allah—adalah dasar keyakinan setiap muslim. Tauhid meniscayakan bahwa Allah adalah pencipta, pemilik, dan pengatur alam semesta. Konsekuensinya, hanya Allah yang berhak menentukan apa yang baik (ma'ruf) dan apa yang buruk (munkar).

Implikasi: Norma sosial, etika ekonomi, dan hukum-hukum hidup tidak didasarkan pada keinginan manusia semata, tetapi pada kehendak Ilahi.

2. Dalil Al-Quran tentang Tuhan sebagai Sumber Norma

"Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku."(QS. Thaha: 14).

Ayat ini menegaskan bahwa tujuan hidup dan perilaku (ibadah) berpusat pada Tuhan.

"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan..." (QS. An-Nahl: 90).

Ayat ini menunjukkan bahwa nilai-nilai moral seperti keadilan dan kebajikan bersumber dari perintah Allah.

"Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan."(QS. Al-Qashash: 77).

3. Dalil Hadis dan Konsep Akhlak

Rasulullah SAW diutus untuk menyempurnakan nilai-nilai moral yang bersumber dari Allah.

"Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR. Al-Baihaqi).

Iman kepada Tuhan memotivasi seorang muslim untuk bertindak etis, bahkan ketika tidak ada manusia yang melihat (taqwa).

4. Norma Agama (Syariat) sebagai Aturan Hidup

Norma agama bersumber dari Allah yang terdapat dalam Al-Quran dan Sunah, bersifat mutlak, dan mengikat moral umat. Ini mencakup hablun minallah (hubungan dengan Allah) dan hablun minannas (hubungan dengan sesama manusia).

Kesimpulan

Percaya kepada Tuhan sebagai sumber nilai dalam Islam berarti meyakini bahwa:

Kedelapan, percaya dengan keridaan Tuhan sebagai tujuan hidup di dunia ini.

Berikut adalah penjelasan mendalam mengenai keridaan Tuhan sebagai tujuan hidup berdasarkan ajaran Islam dan dalil-dalilnya.

1. Hakikat Hidup: Beribadah dan Mencari Ridha-Nya

Tujuan manusia diciptakan adalah untuk beribadah. Ibadah dalam Islam tidak terbatas pada salat dan puasa, tetapi mencakup seluruh perbuatan yang diridai Allah, baik dalam hubungan dengan Allah (hablum minallah) maupun sesama manusia (hablum minannas).

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (beribadah) kepada-Ku."

Ridha Allah adalah karunia yang lebih besar daripada surga itu sendiri.
Dalil (QS. At-Taubah: 72):"...Tetapi keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar."

2. Mengubah Tujuan: Dunia sebagai Sarana, bukan Tujuan

Islam tidak melarang manusia mencari harta atau kesenangan dunia, tetapi melarang menjadikan dunia sebagai tujuan utama. Umat Islam didorong untuk menjadikan dunia sebagai alat mencapai keridaan Allah.

"Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan di hadapannya... Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allah akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina."

3. Cara Menggapai Keridhaan Allah

Untuk mencapai keridhaan Allah, seseorang harus menyelaraskan kehendak pribadinya dengan kehendak Allah (syariat).

4. Dampak Hidup yang Berorientasi pada Ridha Allah SWT

Kesimpulan

Percaya dengan keridhaan Tuhan berarti menjadikan "Apakah Allah ridha dengan tindakanku?" sebagai pertanyaan utama sebelum berbuat. Ini adalah prinsip hidup yang membebaskan manusia dari keserakahan dan mengarahkannya menuju kedamaian abadi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jinseimocchatte!: Semangat Pantang Menyerah PIKOTARO untuk Anak-Anak Pejuang Kanker
• 10 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Tak Ditahan Meski Jadi Tersangka, Richard Lee Bikin Heboh! Hotman Paris Beri Reaksi Ini
• 6 jam lalugrid.id
thumb
Ary Gadun FM Minta Hakim Hapus Pasal Pencucian Uang dari Tuntutan Kasusnya
• 27 menit lalukompas.com
thumb
Sopir Tertidur Picu Tabrakan Adu Banteng Transjakarta di Cipulir, 24 Orang Luka-Luka
• 7 jam lalusuara.com
thumb
Catat! Jadwal Laga Klasik Persebaya vs PSM
• 12 jam lalucelebesmedia.id
Berhasil disimpan.