EtIndonesia. Dalam rentang 24 jam terakhir, serangkaian peristiwa besar terjadi hampir bersamaan di Tiongkok dan kawasan sekitarnya—mulai dari ledakan fasilitas militer, eskalasi serangan bersenjata di Asia Selatan, hingga badai pasir ekstrem yang memicu fenomena langka “matahari biru” di Beijing. Rangkaian kejadian ini memunculkan pertanyaan serius mengenai stabilitas keamanan dan ketahanan infrastruktur strategis di tengah tekanan domestik maupun eksternal.
Ledakan Beruntun di Guangdong dan Shandong
Pada 20 Februari 2026 pagi, ledakan besar dilaporkan terjadi di sebuah fasilitas yang memiliki keterkaitan dengan sektor militer di Kota Shantou, Provinsi Guangdong. Rekaman yang beredar di media sosial memperlihatkan kepulan asap tebal membumbung tinggi disertai kobaran api yang sulit dikendalikan selama beberapa jam.
Belum sepenuhnya reda dampaknya, pada 21 Februari 2026 siang, insiden serupa dilaporkan terjadi di Kota Zibo, Provinsi Shandong. Fasilitas yang disebut-sebut memiliki fungsi pendukung logistik militer mengalami ledakan hebat yang terdengar hingga radius beberapa kilometer.
Di negara dengan sistem pengamanan bahan berbahaya yang sangat ketat, ledakan di fasilitas kimia bukanlah hal yang sepenuhnya asing. Namun, dua insiden dalam waktu berdekatan yang sama-sama memiliki unsur militer menimbulkan perhatian luar biasa.
Menurut informasi yang beredar di kalangan keamanan, Kementerian Keamanan Negara Tiongkok melakukan intervensi darurat dan membentuk tim investigasi lintas provinsi. Arah penyelidikan awal disebut mengarah pada kemungkinan sabotase eksternal.
Nama Lashkar-e-Taiba Muncul dalam Penyelidikan
Sumber internal menyebut bahwa aparat keamanan menelusuri dugaan keterlibatan kelompok ekstremis asal Pakistan, Lashkar-e-Taiba.
Didirikan pada pertengahan 1980-an, Lashkar-e-Taiba dikenal sebagai salah satu organisasi jihad paling berpengaruh dan berumur panjang di Asia Selatan. Kelompok ini memiliki rekam jejak panjang dalam serangan berskala besar, antara lain:
- Serangan Parlemen India (2001) yang nyaris memicu konflik nuklir antara India dan Pakistan.
- Bom kereta Mumbai (2006) yang menewaskan hampir 200 warga sipil.
- Serangan Mumbai 2008, yang menewaskan 166 orang dan melukai ratusan lainnya setelah 10 militan menyerang sejumlah lokasi ikonik selama tiga hari.
Hubungan dekat antara Islamabad dan Beijing selama ini membuat dugaan keterlibatan kelompok berbasis Pakistan terhadap target Tiongkok terasa paradoksal. Namun kalangan intelijen menilai dinamika internal kawasan telah berubah.
Dugaan Konflik Intelijen dan Dampaknya
Sejak 2025, laporan keamanan regional menyebut Lashkar-e-Taiba mengalami pergeseran dukungan dan mempererat hubungan dengan elemen Taliban Afghanistan. Kelompok tersebut secara terbuka menuduh badan intelijen Tiongkok dan Iran membocorkan lokasi salah satu komandan senior mereka, Abu Qatal, yang kemudian tewas dalam operasi militer.
Sebagai respons, kelompok itu dikabarkan mengancam akan memperluas target serangan terhadap kepentingan Tiongkok, termasuk proyek-proyek besar dalam Koridor Ekonomi Tiongkok–Pakistan (CPEC).
Serangan terbaru di Lembah Tochi, Pakistan, pada pertengahan Februari 2026, dilaporkan menewaskan 12 personel militer Pakistan, termasuk seorang kolonel yang bertanggung jawab atas keamanan proyek koridor tersebut. Peristiwa ini mempertegas bahwa jalur investasi bernilai miliaran dolar itu kini berada dalam tekanan serius.
Ancaman di India dan Status Siaga Tinggi
Pada Februari 2026, otoritas India meningkatkan status siaga keamanan di New Delhi setelah muncul informasi ancaman terhadap kawasan padat seperti Pasar Chandni Chowk dan area sekitar Kuil Lal. Peningkatan kewaspadaan ini menunjukkan eskalasi regional yang lebih luas dan berpotensi memicu ketegangan lintas batas.
Infrastruktur Terganggu dan Kebakaran di Jalan Tol Beijing–Tibet
Di dalam negeri, gangguan juga dilaporkan terjadi di kawasan layanan Guanting pada Jalan Tol Beijing–Tibet yang baru diperluas pada 2024. Kebakaran besar melanda area tersebut pada 21 Februari 2026, memicu kepanikan sementara di kalangan pengguna jalan dan memaksa otoritas menutup akses selama beberapa jam.
Badai Pasir Dahsyat dan Fenomena “Matahari Biru”
Di tengah ketegangan keamanan, bencana alam turut memperburuk situasi.
Pada 20 Februari 2026, wilayah Ordos di Mongolia Dalam dilaporkan diselimuti dinding pasir raksasa. Sehari kemudian, 21 Februari 2026 sore, badai pasir dengan kekuatan angin 8–9 skala Beaufort menghantam Beijing.
Fenomena “matahari biru” muncul di langit ibu kota akibat hamburan partikel debu dalam jumlah besar—dalam meteorologi dikenal sebagai hamburan Mie. Warna matahari tampak kebiruan karena partikel pasir mengubah cara cahaya tersebar di atmosfer.
Pemandangan dramatis juga terjadi di kawasan wisata Tembok Besar Badaling. Ribuan wisatawan terjebak di tengah angin kencang dan debu tebal, sulit bergerak maju maupun mundur. Otoritas setempat akhirnya membatasi akses demi keselamatan.
Benang Merah di Tengah Rentetan Krisis?
Secara resmi, otoritas belum mengonfirmasi keterkaitan langsung antara ledakan fasilitas militer dan eskalasi ancaman eksternal. Namun kombinasi antara dugaan sabotase, serangan terhadap proyek strategis di luar negeri, serta gangguan domestik menimbulkan kekhawatiran mengenai stabilitas keamanan jangka panjang.
Dalam situasi ketika proyek-proyek infrastruktur global menjadi simbol kekuatan ekonomi dan pengaruh geopolitik, setiap gangguan—baik disengaja maupun tidak—memiliki dampak strategis yang luas.
Pertanyaan yang kini mengemuka di kalangan analis adalah: apakah rangkaian peristiwa ini sekadar kebetulan dalam periode yang padat, ataukah merupakan bagian dari tekanan multidimensi terhadap kepentingan strategis Tiongkok?
Investigasi resmi masih berlangsung. Namun jelas bahwa Februari 2026 menjadi salah satu periode paling menegangkan dalam dinamika keamanan regional tahun ini.


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5510883/original/009636800_1771841737-IMG_8331.jpg)

