Sungai Cisadane sudah tak berwarna susu. Bau pestisida di alirannya pun mulai memudar. Tapi bukan berarti tumpahan racun tak menyisakan bahaya. BRIN memprediksi, upaya pemulihan ekosistem yang tercemar bakal panjang, 1–3 tahun.
***
Menjelang petang, pria paruh baya dengan setelan kaus oblong kendur dan celana pendek itu masih mondar-mandir di pinggiran Sungai Cisadane. Ia sibuk membersihkan beberapa peralatan yang sebelumnya dipakai untuk menyebar benih ikan, sambil sekedar mengamati kondisi air Cisadane, Kamis (19/2). Namanya Abdul Aziz, warga Pakulonan Barat, Kabupaten Tangerang, Banten.
Aziz mendedikasikan hari tuanya untuk sungai bersama Banksasuci Foundation — organisasi nirlaba yang bergerak dalam pelestarian Sungai Cisadane. Sejak insiden tumpahan 20 ton pestisida ke aliran Cisadane pada Senin (9/2), Aziz tidak pernah tenang. Segala upaya ia dan komunitasnya lakukan untuk menetralisir air yang tercemar.
Pada tiga hari awal kejadian, saat kondisi sungai berwarna susu dan mengeluarkan bau seperti solar yang disusul limpahan ikan mati, Aziz bersama rekan-rekannya bertindak cepat. Mereka menyebar cairan ekoenzim ke aliran Cisadane di sekitar Serpong. Ekoenzim sebenarnya belum benar-benar teruji menghilangkan bahan B3 di air, tapi itu upaya paling cepat yang bisa dilakukan Aziz dkk.
“Kami sudah enggak mikirin apa-apa, sudah kita bergerak dulu [untuk] menetralisir,” kata Aziz kepada kumparan di Tangerang menceritakan kondisi awal pencemaran.
Sekitar 20 ton cairan ekoenzim dituangkan Aziz dkk di sepanjang Serpong hingga ke Bendungan Pasar Baru atau dikenal dengan Pintu Air 10 di Kota Tangerang. Cairan tersebut dikumpulkan Aziz dkk dari sumbangan sejumlah pihak dan hasil cairan yang mereka fermentasi secara mandiri.
Kondisi aliran Cisadane memang sangat memprihatinkan di tiga hari pertama kejadian. Air berubah seperti bekas cucian beras, berwarna putih dan mengeluarkan bau seperti solar yang menyengat. Akibatnya, ikan-ikan mati sampai pengelolaan air bersih (PDAM) dari aliran Cisadane terhenti.
Warga di bantaran sungai sempat girang menjumpai ikan-ikan mengambang. Seperti mendapatkan durian runtuh. Sejumlah warga bahkan nyemplung ke sungai dan memunguti ikan-ikan mabuk itu.
Zia, warga Lengkong Kulon, Kabupaten Tangerang, bercerita, hari itu kakaknya ikut turun ke sungai memunguti ikan dan membawa pulang sekarung lebih. Jenisnya macam-macam: dari ikan mujair, tawes, baung, hingga berod.
Warga memang tak perlu usaha ekstra menangkap ikan-ikan itu. Sebab ikannya sendiri yang mengambang dan berkumpul di pinggir sungai karena mabuk. Warga cukup memungut dan memasukkannya ke dalam karung.
Rezeki nomplok itu tak bertahan lama. Ikan-ikan tersebut nyatanya tidak layak dikonsumsi karena mengeluarkan aroma solar yang tajam saat dimasak. Alih-alih menjadi santapan, ikan hasil tangkapan warga tersebut akhirnya terbuang.
“Sempat dimasak, digoreng, dibakar…enggak enak semuanya,” kata Zia kepada kumparan, Kamis (19/2).
Bahkan musang peliharaan Zia pun enggan menyentuh ikat tersebut. Padahal, lanjut Zia, musangnya pemakan ikan yang lahap. Tapi saat diberikan ikan tersebut, sang musang abai saja. “Rasa ikannya enggak enak,” ucap Zia.
Zia dan warga sekitar bantaran sungai sebenarnya biasa menjumpai ikan-ikan mabok, salah satunya ketika sungai meluap akibat aliran banjir kiriman dari Bogor.
Saat banjir, air akan menjadi keruh dan menyebabkan ikan oleng karena kehabisan oksigen sehingga mudah ditangkap. Ikan yang ditangkap di genangan keruh tersebut tetap bisa dikonsumsi. Tapi fenomena ikan mabuk kali ini berbeda.
“Pas dimasak, digoreng maupun dipepes, pas dirasakan agak ada rasa solar gitu,” ujar Zia.
Selang beberapa waktu, warga akhirnya menerima pemberitahuan resmi bahwa ikan-ikan mati tersebut disebabkan tumpahan pestisida yang berasal dari kebakaran gudang penyimpanan pestisida milik PT Biotek Saranatama di Taman Tekno BSD City.
Namun, sebelum imbauan dikeluarkan, ada beberapa orang yang terlanjur mengonsumsinya dan mengakibatkan keracunan ringan.
“Menurut mereka setelah makan agak pusing,” ungkap Zia.
Aziz yang sudah lebih dari setengah abad tinggal di sekitar Cisadane mengatakan, fenomena pencemaran parah yang mengakibatkan ikan tumbang baru pertama kali terjadi. Dan yang membuat hatinya sesak adalah kebanyakan ikan yang menjadi korban adalah biota asli Cisadane: meliputi ikan patin, baung, tawes, berod, nila, dan ikan rancak.
Ikan-ikan kelas teri sampai yang bobotnya kakap terkapar dalam sekejap. Racun pestisida mengalir jauh, meracuni biota air, dari kali Jaletreng sampai ke tepi laut di daerah Tanjung Burung di wilayah PIK 2.
“Ini ikan mungkin kalau dikumpulin, 15 kontainer tuh penuh,” kata Aziz.
Tak Hanya Ikan, Air Bersih Juga Sempat MatiBukan hanya ikan yang mati akibat cemaran pestisida di Cisadane. Warga yang bergantung pada aliran sungai juga terdampak. PDAM yang mengalirkan air bersih dari Cisadane ke warga sempat berhenti beroperasi. Air sungai yang menjadi bahan baku utama tak bisa diolah karena mengandung kimia berbahaya.
Padahal, aliran Sungai Cisadane menjadi nadi pasokan air bersih industri dan pemukiman di sekitar BSD, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, sampai Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Pada hari pertama kejadian, Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Tirta Benteng Kota Tangerang — perusahaan daerah yang mengurusi pasokan air — menghentikan sementara produksinya karena air baku dianggap tidak layak dikonsumsi. Aliran ke pelanggan sempat terhenti.
“PDAM sendiri sempat terhenti di hari pertama [kejadian],” kata Ramdona, penjaga Bendungan Pasar Baru yang kebetulan juga pelanggan PDAM, Jumat (20/2).
Operasional PDAM kembali pulih pada hari kedua pasca-insiden, meski belum maksimal. Cairan pestisida yang mengalir ke sungai memang sudah mulai memudar, tapi bau solar plus aroma bangkai ikan masih tersisa. Warga diminta tidak memanfaatkan air Cisadane untuk beberapa waktu.
“Kemarin warga sana [bagian hilir] masih sempat banyak yang bau ikan. Airnya masih bau bangkai,” kata Aziz, Kamis (19/2).
Meski begitu, per 10 Februari 2026, Direktur Teknis Perumda Tirta Benteng, Joko, memastikan aliran air bersih sudah kembali disalurkan. Ia menjamin air sudah layak digunakan dan tak tercemar kimia.
Sebelum memulai kembali pengolahan, pihak PDAM terlebih dahulu membuang air yang hari sebelumnya terlanjur tercemar. Mereka mengisi air baru yang dianggap memenuhi standar.
Sampai 20 Februari 2026, PDAM Tirta Benteng telah beroperasi dengan lancar tanpa kendala. Air baku dari aliran Cisadane disebut sudah kembali normal dengan kadar keasaman/pH berada pada angka 7,1 untuk zona 1 (Neglasari, Cipondoh, Batuceper) dan zona 2 (meliputi Jatiuwung, Periuk, Cibodas dan Karawaci).
Angka tersebut dianggap sudah memenuhi batasan normal Peraturan Menteri Kesehatan yang memberikan garis ketentuan air layak konsumsi pada pH 6,5 sampai 8,5.
Tak hanya PDAM, perusahaan pengolahan air bersih swasta juga sudah mulai bergeliat kembali di sekitar Pintu Air 10 Kota Tangerang. Pantauan kumparan per 20 Februari, sejumlah mobil tangki air mengantre di depan Masjid Al-Muhajirin, Jalan KS Tubun, Kota Tangerang. Per hari itu, air Sungai Cisadane memang sudah tak mengeluarkan bau kimia pestisida seperti tiga hari awal.
“Pas hari kejadian itu memang sempat bau solar, bau gas, itu sampai dua ke tiga hari [setelah kejadian] masih kecium,” kata Ramdona.
Sebagai gambaran, Bendungan Pasar Baru atau Pintu Air 10, tempat Ramdona berjaga, berjarak sekitar 26 kilometer dari tempat kejadian di Taman Tekno BSD. Jadi, cemaran pestisida tersebut mengalir jauh dari sungai Jaletreng sampai ke hilir Cisadane.
Namun lewat berbagai upaya yang dilakukan berbagai pihak, serta arus sungai natural dari Bogor, membantu meminimalisir dampak tumpahan kimia tersebut.
“Kalau dari bau sudah enggak ada. Kalau dari minyak dua hari kemarin itu airnya [masih] agak kayak berminyak,” kata Ramdona.
Memulihkan Ekosistem CisadaneAir Cisadane memang sudah bisa kembali dimanfaatkan untuk warga. Sudah tak ada bau kimia, bekas tumpahan pun perlahan menghilang.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang bahkan memastikan Sungai Cisadane sudah aman digunakan. Sungai disebut telah normal dan memenuhi baku mutu sejak hari kedua kejadian.
“Secara kasatmata dan hasil uji, air sungai sudah memenuhi baku mutu sejak hari kedua,” ucap Kepala DLH Kota Tangerang, Wawan Fauzi, dalam rilisnya, Selasa (17/2).
Meski demikian, DLH Kota Tangerang tak menjelaskan spesifik indikator baku mutu yang digunakan. kumparan mencoba meminta penjelasan lebih lanjut mengenai uji laboratorium yang dilakukan DLH Kota Tangerang, namun permohonan wawancara yang dikirimkan tak direspons.
Kendati pemanfaatan air Cisadane disebut sudah kembali normal, bukan berarti semuanya pulih. Pekerjaan rumah selanjutnya adalah bagaimana mengembalikan ekosistem Sungai Cisadane seperti sebelum tercemar. Biota yang musnah tercemar racun merusak keseimbangan sungai.
Sebagai upaya kecil, kini Aziz semakin mengharapkan tradisi Fang Sheng Buddhis. Tradisi pelepasan ikan setiap hari yang kerap dilakukan Buddhis di komunitas Banksasuci membawa manfaat ganda. Aziz dkk selalu girang saat seseorang atau kelompok datang ke Sungai Cisadane menebar ikan.
“Setiap hari ada Fang Sheng. [Jumlahnya] tergantung—ada yang pribadi, ada yang keluarga, ada yang komunitas, ada Vihara. Itu mungkin ada yang 5 kilo, 10 kilo, ada 100 kilo,” beber Aziz.
Peneliti Ahli Utama Bidang Teknik Lingkungan dari Pusat Riset Limnologi dan Sumberdaya Air BRIN Prof Ignasius Sutapa memperkirakan pemulihan ekosistem Cisadane membutuhkan waktu sekitar 1–3 tahun.
Waktu panjang diperlukan karena kandungan pestisida yang tumpah ke kali bersifat toksik: berjenis cypermethrin dan profenofos.
Intinya, pestisida tersebut merupakan racun mematikan dan sulit terurai pada kondisi normal. Cairan kimia tersebut fungsinya memang untuk mematikan hama serangga sehingga ada tingkat kestabilan, meskipun pada saat yang bersamaan juga memiliki tingkat kelarutan alias bersifat cair.
Tapi menurut Ignas, senyawa beracun itu tetap bisa bertahan lama, khususnya di sedimen dan pinggir sungai.
“Kalau sudah masuk di sedimen…kemudian dia (senyawa pestisida) bisa tinggal dalam waktu yang relatif lama,” jelas Ignas.
Indikasi sebaran racun tersebut mengendap hingga ke sedimen sungai adalah ikan sapu-sapu ikut mabuk dan mati. Jenis ikan satu ini biasanya hidup di bawah air, menandakan bahwa pencemarannya sudah sampai sedimen, bukan hanya di badan air.
Jika pencemaran sudah sampai sedimen, waktu pemulihannya tidak sebentar. Terkecuali ada upaya berlebih yang dilakukan pemangku kepentingan. Salah satunya, kata Ignas, adalah pengerukan sedimen sungai.
“Apakah kita biarkan secara alami memulihkan diri itu bisa lama juga, mungkin 1 tahun, 2 tahun, 3 tahun misalnya,” ucapnya.
Secara kasatmata, Sungai Cisadane memang tak lagi memperlihatkan warna susu atau mengeluarkan bau solar. Namun bukan berarti bahaya sudah menghilang. Perlu uji laboratorium lanjutan untuk memastikan kualitas sungai. Indikasi air jernih tak menjamin kualitas bagus.
“Indikasi air jernih belum tentu kualitasnya bagus. Karena yang kasatmata itu kan hanya melihat secara fisik,” tutup Ignas.





