TANA TORAJA, FAJAR – Kasus truk rakitan penyedot solar di Tana Toraja mulai mengungkap fakta baru. Solar subsidi tersebut ternyata rencananya diduga akan dibawa ke Rantepao. Siapa bos penimbunnya?
Polisi menduga BBM ini merupakan pasokan untuk jaringan penimbun besar. Penyelidikan kini diarahkan untuk mengejar aktor intelektual di baliknya.
Kasat Reskrim Polres Tana Toraja, IPTU Syafaruddin, membenarkan informasi tujuan distribusi tersebut. Empat sopir yang ditangkap mengaku akan membawa solar ke wilayah tetangga.
“Ia benar, ini dibawa ke Toraja Utara,” tegas Syafaruddin Senin sore (23/2/2026). Polisi berjanji akan mendalami lebih jauh kelanjutan kasus ini.
Pengungkapan kasus ini bermula dari adanya laporan keresahan masyarakat setempat. Polisi segera bergerak cepat melakukan tindakan pencegahan di lapangan.
Syafaruddin menegaskan bahwa penyelidikan akan dilakukan secara sangat mendalam. Ia ingin memastikan seluruh mata rantai mafia ini terputus.
Polisi juga akan memeriksa potensi keterlibatan oknum Aparat Penegak Hukum (APH). IPTU Syafaruddin menjamin proses hukum dilakukan secara transparan dan profesional.
Pihaknya tidak akan tebang pilih dalam menangani tindak pidana ini. “Intinya kami tidak pandang bulu,” tegas Syafaruddin.
Ia meminta awak media bersabar menunggu hasil pengembangan penyidik resmi. Polisi tidak peduli siapa pun sosok yang membekingi praktik ilegal ini.
Investigasi sebelumnya mengungkap maraknya titik penimbunan BBM di Toraja Utara. Lokasi penimbunan diduga tersebar di tengah Kota Rantepao.
Beberapa kecamatan di sekitar Rantepao juga menjadi titik rawan penimbunan. Namun, hingga kini belum ada penindakan tegas dari pihak berwenang setempat.
Sejumlah SPBU diduga masih melayani pengisian BBM dalam kapasitas besar. Praktik ini mencakup jenis BBM Pertalite hingga Solar subsidi.
BBM hasil timbunan tersebut diduga kuat dijual ke luar daerah. Distribusinya menjangkau wilayah Kabupaten Enrekang hingga ke Morowali, Sulawesi Tengah.
Wilayah industri menjadi pasar utama bagi para mafia BBM ini. Hal ini sangat merugikan kuota subsidi untuk rakyat kecil.
Masyarakat kini menanti keberanian polisi mengungkap sosok bos besar mereka. Penangkapan empat sopir diharapkan menjadi pintu masuk membongkar sindikat ini.
Pengawasan distribusi BBM di perbatasan kabupaten harus semakin diperketat ke depannya. Polisi terus bekerja keras mengumpulkan bukti-bukti tambahan di lapangan. (edy)




