Stefani Yolin Israel Kambu asal Kabupaten Asmat, Papua Selatan, menjadi satu dari 1.009 wisudawan Universitas Padjadjaran tahun akademik 2025/2026 di Bandung, Jawa Barat, 5-6 Februari 2026. Namun, lebih dari sekadar lulus, Stefani mencatatkan prestasi tidak biasa. Dia merengkuh gelar sarjana kedokteran di usia 19 tahun.
Dengan hasil ini, Stefani mencatatkan prestasi sebagai wisudawan termuda program Sarjana pada Upacara Wisuda Lulusan Gelombang II Tahun Akademik 2025/2026. Stefani meraih gelar sarjana Fakultas Kedokteran (FK) Unpad dalam usia 19 tahun 2 bulan.
Hasil ini menjadi penantian panjang bagi Stefani. Sejak di bangku SMA, Stefani yang berasal dari Asmat, ini telah menargetkan masuk FK Unpad. Kesempatan itu lalu benar-benar datang saat mendapat beasiswa kedokteran dari kerja sama Pemerintah Kabupaten Asmat dengan FK Unpad.
Meski begitu, Stefani tetap mengikuti seleksi. Ia pun lolos Seleksi Mandiri Universitas Padjadjaran (SMUP) sebelum resmi diterima sebagai mahasiswa penerima beasiswa.
“Saya mungkin bukan mahasiswa yang paling menonjol di FK Unpad. Banyak teman lain yang sangat berprestasi. Namun, hal itu memotivasi saya untuk terus berkembang dan membuktikan anak Papua pasti bisa,” ungkap Stefani dalam siaran pers Unpad, Senin (23/2/2026).
Stefani mengakui, selama menempuh pendidikan di FK Unpad, ia mendapat banyak ilmu dari teman dan dosen. Selain materi kuliah, ia belajar pentingnya manajemen waktu sebagai kunci keberhasilan menyelesaikan studi.
Ia menyadari, disiplin dalam mengatur waktu menjadi hal yang krusial di tengah padatnya jadwal dan tuntutan akademik. Selain itu, lanjutnya, keterlibatan dalam organisasi dan kepanitiaan turut membentuk kemampuan kepemimpinan dan soft skills yang penting bagi dokter.
“Untuk semua anak-anak Papua, jangan pernah takut bermimpi besar. Usaha tidak akan mengkhianati hasil, dan bersama Tuhan, segala tantangan pasti bisa dilewati, meski kadang harus melalui air mata, " tuturnya.
Prestasi yang diraih Stefani bagaikan oase di tengah pelayanan pendidikan yang belum optimal di Tanah Papua yang kini terdiri dari enam provinsi.
Papua Selatan, misalnya, masih berjuang keras merengkuh kesejahteraan warga. Indeks Pembangunan Manusia di tempat asal Stefani itu hanya 69,54 dan rata-rata lama sekolah 8,64 tahun pada tahun 2025.
Angka ini masih jauh dari IPM di tingkat nasional pada tahun 2025 yang mencapai sebesar 75,90. Rata-rata lama sekolah penduduk Indonesia juga tercatat 9,2 hingga 9,3 tahun.
Terkait prestasi yang diraih anak didiknya, Rektor Unpad Profesor Arief Sjamsulaksan Kartasasmita mengatakan, semua lulusan harus mampu berdiri sejajar dan bahkan unggul di tengah persaingan regional ASEAN. Semua mesti menujukan kontribusinya untuk meningkatkan kualitas untuk masyarakat dan bangsa.
Ia menegaskan ilmu yang dimiliki harus membawa kebermanfaatan. Alasannya, semua itu bisa membuat lulusan Unpad selalu hadir dan berguna di tengah masyarakat.
“Unpad bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi tempat belajar menjadi manusia yang bertanggung jawab, baik kepada diri sendiri, kepada masyarakat, dan kepada masa depan bangsa, " ucapnya.





