REPUBLIKA.CO.ID, CIMAHI -- Potret toleransi beragama tergambar nyata di Kampung Adat Cireundeu di Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Jawa Barat. Penganut kepercayaan Sunda Wiwitan hidup harmonis berdampingan dengan umat Islam di sana.
Di bulan Ramadhan 1447 Hijriah ini misalnya, menjadi momen untuk semakin menunjukkan potret toleransi antara umat beragama. Ketika yang Muslim berpuasa, maka mereka yang tidak menjalankan ritual keagamaan itu mesti menghormati.
Baca Juga
Menkeu: Presiden Prabowo Segera Umumkan THR 2026
Pertumbuhan Kawasan Hunian Perlu Diimbangi Fasilitas Layanan Darurat
Literasi Finansial Jadi Strategi Inklusi Bank Syariah Digital
Suasana sejuk dan damai sudah terasa kala Republika menginjakkan kaki di Kampung Adat Cireundeu pada Senin (23/2/2026). Kampung itu masih terlihat asri dengan berbagai pepohonan. Tanpa gedung bertingkat, warga di sana tampak damai menikmati hidup.
Penghayat kepercayaan yang mengedepankan bagaimana hubungan antara manusia dengan sang pencipta melalui keselarasan hubungan dengan alam itu tak banyak jumlahnya. Hanya sekitar 300 jiwa. Itu pun ada beberapa yang memutuskan berpindah keyakinan karena banyak alasan.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
"Di kami (Kampung Adat Cireundeu) berjalan baik, kami saling menghormati satu ajaran dengan ajaran agama yang lainnya. Jadi masyarakat adat di sini meskipun tidak puasa, tapi menjaga etika dan menghormati yang puasa," kata Ais Pangampih Kampung Adat Cireundeu, Abah Widi.
Abah Widi menceritakan indahnya toleransi di kampungnya yang sudah terjaga sejak dulu. Kampung Adat Cireundeu diperkirakan sudah ada sejak abad ke-16 atau sekitar 500 tahun yang lalu. Keberadaan kampung adat tersebut dikuatkan dengan penelitian adanya batu penyanggah rumah saat itu.
Para sesepuh atau karuhun yang ada di dalamnya di antaranya Eyang Nursalam, Eyang Ama, hingga Aki Madrais yang disebut membuat 'lembur' atau kampung saat itu. Sejak saat itu Abah Widi meyakini kepercayaan Sunda Wiwitan sudah ada, dan diteruskan oleh para anak, cucu hingga cicitnya. Kepercayaan itu terus dipupuk ratusan warganya.