Saya kira saya sudah cukup siap menghadapi Ramadan tahun ini. Saya sudah tahu bagaimana caranya untuk tidak lelah dan cara menahan lapar. Saya sudah hafal betul bagaimana mengatur aktivitas sebagai pribadi dan dosen. Saya juga mengerti bagaimana tenggorokan itu terasa seperti padang pasir di siang hari bolong. Saya juga memahami bagaimana perut bisa berbunyi seperti protes yang tak kunjung didengar.
Akan tetapi pada semua itu, kalau dipikir-pikir, sebenarnya sangatlah mudah karena bisa ditebak sejak awal. Ada kepastian di sana. Ada garis finish-nya yang jelas: azan Magrib berkumandang, masalah selesai.
Sesuatu yang tidak saya duga adalah musuh yang jauh lebih licik "menghantam" saya, yaitu yang bersembunyi dan bersemayam di ujung jari dan di ujung lidah saya sendiri.
Antara “Aktif” dan “Lapar”Sebagai seorang dosen senior yang mengajar di Indonesia dan Vietnam, saya ini orang yang terbiasa aktif: aktif bergerak, aktif berpendapat, aktif terlibat dalam percakapan. Saya merasa, justru kebiasaan itulah yang membuat Ramadan terasa seperti ujian sesungguhnya. Bukan ujian fisik, melainkan ujian atas sesuatu yang jauh lebih dalam: kemampuan saya untuk diam ketika diam adalah pilihan yang lebih bijak, dan kemampuan saya untuk berhenti ketika tangan saya sudah terlalu terbiasa bergerak sendiri.
Saya menyadari bahwa ada "lapar" lain yang lebih berbahaya dari lapar perut: lapar bicara, lapar berpikir, lapar membaca, lapar menulis, dan lapar hiburan. Sungguh, semuanya jauh lebih sulit dijinakkan.
Filsuf Stoa, Epictetus, dalam Discourses (sekitar 108 M) pernah berkata bahwa kebebasan sejati bukan soal bebas melakukan apa saja, melainkan tentang kemampuan kita memilih respons atas sesuatu. Manusia bebas bukan yang bebas dari aturan, tetapi yang bebas dari dorongan-dorongan yang mengontrolnya tanpa ia sadari.
Sebagai seorang yang pernah belajar filsafat, saya sudah membaca itu berpuluh tahun lalu sewaktu menempuh pendidikan pasacasarjana di Jerman dan pascadoktoral di Jerman, Australia, Amerika Serikat, dan Turkiye, dan saya merasa sudah sangat mafhum.
Jujur saja, baru di Ramadan ini saya betul-betul merasakannya, yaitu di saat jari saya nyaris refleks membuka aplikasi, lalu saya berhenti sejenak dan bertanya: Ini karena saya yang memilih, ataukah ini cuma kebiasaan yang sedang menjalankan saya?
Pertanyaan itu ternyata bukan pertanyaan kecil.
Masyarakat yang Akhirnya LelahDi era digital seperti sekarang, Byung-Chul Han, filsuf kontemporer asal Korea-Jerman, dalam bukunya The Burnout Society (2015) menyebut kita hidup dalam masyarakat yang ia namakan achievement society, suatu masyarakat yang terobsesi pada produktivitas dan stimulasi tanpa henti. Kita tidak pernah benar-benar berhenti.
Bahkan saat istirahat, kita mengisi kekosongan dengan scroll, dengan notifikasi, dengan video pendek yang mengundang tawa lima detik lalu hilang begitu saja. Dr. Han menyebutnya sebagai kelelahan yang aneh: Bukan kelelahan karena kerja keras, melainkan kelelahan karena tidak pernah membiarkan diri kita sunyi. Kita takut pada keheningan. Maka kita isi setiap celah waktu dengan kebisingan yang kita pilih sendiri.
Saya mengenali diri saya persis dalam gambaran itu.
Puasa, kalau hanya soal menahan lapar dan haus, sebenarnya bukan privilege manusia. Hewan pun bisa tidak makan berjam-jam, karena memang kemampuan mereka terbatas, dan tidak ada pilihan makanan lain. Tetapi apa yang membedakan dengan puasa manusia adalah dimensi kehendak (freewill) di dalamnya. Ada keputusan sadar yang harus diperbarui setiap saat: saya bisa, tapi saya memilih untuk tidak. Dan justru di situlah letak beratnya.
Puasa dalam Dimensi LainSaya belajar bahwa ada beberapa bentuk puasa yang jauh lebih menuntut dari sekadar menahan makan.
Pertama adalah puasa bicara. Ini bukan berarti saya harus membisu sepanjang hari. Tapi ada satu pertanyaan sederhana yang kini selalu saya tanyakan sebelum berbicara atau berkomentar: apakah yang akan saya ucapkan ini lebih baik dari diam? Pertanyaan itu terdengar mudah, tapi praktiknya luar biasa melelahkan, karena memang sejatinya mulut ini terbiasa reaktif.
Ada berita, saya ingin berkomentar. Ada perdebatan di kolom komentar, saya ingin ikut masuk nimbrung. Ada gosip yang mengalir, saya ingin berkontribusi. Ramadan telah mengajari saya bahwa tidak semua percakapan butuh kontribusi saya, dan tidak semua pendapat saya perlu disuarakan.
Kedua adalah puasa pandangan. Puasa ini bukan dalam arti harfiah menutup mata, melainkan menjadi lebih selektif soal apa yang saya lihat dan izinkan masuk ke kepala saya. Setiap hari kita mengonsumsi konten dalam jumlah yang, kalau diukur dalam satuan kertas, mungkin setara dengan beberapa ensiklopedia.
Pertanyaan muncul: Berapa banyak yang benar-benar memberi nutrisi pada cara berpikir kita, pada empati kita, pada kedalaman kita sebagai manusia? Selebihnya adalah apa yang dulu disebut para bijak sebagai "sampah visual", apa saja yang masuk, mengisi ruang, lalu pergi tanpa meninggalkan apa pun.
Ketiga adalah puasa konsumtif. Ramadan, paradoksnya, sering justru menjadi bulan belanja paling agresif. Diskon Ramadan, promo buka puasa, gaya hidup "balas dendam" setelah seharian menahan diri — semuanya menyambut kita dengan tangan terbuka. Jujur, saya pernah terjebak di sana. Puasa konsumtif bukan soal pelit pada diri sendiri, melainkan soal berhenti membiarkan keinginan sesaat mendiktekan keputusan jangka panjang.
Ruang di Antara Stimulus dan ResponsViktor Frankl, psikiater yang selamat dari kamp konsentrasi Nazi dan kemudian menulis Man's Search for Meaning(1946), punya satu gagasan yang terus saya ingat: Di antara stimulus dan respons, selalu ada ruang. Sebenarnya di ruang itulah kebebasan saya bermukim.
Semakin kita melatih diri untuk memperlebar ruang itu, yang dimaksudkan untuk tidak langsung bereaksi atas setiap dorongan, semakin kita menjadi manusia yang utuh, bukan sekadar makhluk yang dikendalikan refleks.
Ramadan, bagi saya, adalah latihan memperlebar ruang itu. Sebuah proyek pengendalian diri yang berlangsung selama satu bulan penuh, setiap hari, setiap jam, bahkan setiap detik ketika jari ini hampir refleks membuka layar.
Tujuannya bukan mematikan kesenangan. Saya tidak percaya pada asketisme yang berlebihan, pada pandangan bahwa menikmati hidup adalah dosa. Apa yang saya percaya adalah: Ada hidup yang lebih penuh di sisi lain dari kebiasaan yang tidak pernah saya pertanyakan.
Ramadan yang Membuat “Lelah”Ramadan adalah kesempatan setahun sekali untuk berhenti sejenak, mempertanyakan kebiasaan-kebiasaan itu, dan memilih ulang mana yang benar-benar layak dibawa terus dan mana yang sebenarnya hanya menghabiskan hidup kita untuk hal-hal yang sia-sia.
Di akhir hari pertama Ramadan, saya duduk dalam keheningan yang tidak biasa. Perut saya tidak lagi protes. Tapi pikiran saya lelah dengan cara yang berbeda, yaitu kelelahan dari usaha untuk tidak reaktif, untuk tidak konsumtif, untuk tidak mengisi setiap detik kekosongan dengan stimulasi.
Dan anehnya, kelelahan itu terasa melegakan.
Karena untuk pertama kalinya dalam waktu lama, saya bisa mendengar suara yang lebih pelan dari semua kebisingan itu: Suara yang mungkin selalu ada, tapi selama ini tenggelam. Suara hati yang hanya bisa berbicara ketika kita cukup diam untuk mendengarnya.
Ternyata, mengistirahatkan pikiran dan lisan jauh lebih melelahkan dan sekaligus jauh lebih bermakna daripada sekadar mengistirahatkan perut.





