Ramadan, War Takjil, dan Psikologi Kebersamaan di Tengah Perbedaan

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bulan Ramadan selalu menghadirkan atmosfer yang berbeda. Jalanan lebih hidup menjelang magrib, aroma gorengan dan kolak menyeruak di sudut kota, serta antrean panjang di lapak takjil menjadi pemandangan yang akrab setiap tahun. Fenomena ini populer dengan sebutan “war takjil” momen berburu makanan berbuka puasa yang sering kali berlangsung penuh semangat.

Menariknya, war takjil tidak hanya diikuti oleh umat Islam yang menjalankan puasa. Banyak masyarakat non muslim yang turut meramaikan suasana. Ada yang penasaran dengan menu khas Ramadan, ada yang ingin ikut merasakan atmosfernya, bahkan ada yang membeli untuk teman kantor yang sedang berpuasa. Dari sudut pandang sosial, ini bukan sekadar aktivitas kuliner. Ini adalah fenomena psikologis yang menarik.

Dalam psikologi sosial, ada konsep yang disebut social identity theory. Teori ini menjelaskan bahwa manusia cenderung mengelompokkan diri berdasarkan identitas tertentu agama, suku, atau komunitas. Namun yang menarik dalam situasi tertentu batas identitas itu bisa melebur ketika ada tujuan atau pengalaman bersama. War takjil menjadi contoh sederhana bagaimana pengalaman kolektif mampu mencairkan sekat identitas.

Ketika orang-orang dari latar belakang berbeda berdiri dalam antrean yang sama terjadi proses interaksi sosial yang natural. Tidak ada label yang menonjol, tidak ada sekat yang tegas. Yang ada hanyalah peran sebagai pembeli yang ingin mendapatkan takjil terbaik sebelum azan berkumandang. Situasi ini menciptakan apa yang disebut sebagai shared social experience atau pengalaman bersama yang memperkuat rasa kebersamaan.

Dari sisi psikologi perilaku, Ramadan juga meningkatkan empati. Orang yang berpuasa belajar merasakan lapar dan haus, sehingga lebih mudah memahami kondisi orang lain. Di sisi lain mereka yang tidak berpuasa tetapi tetap menghormati waktu berbuka menunjukkan bentuk prosocial behavior perilaku yang mengutamakan kepedulian dan harmoni sosial.

War takjil juga memperlihatkan bagaimana budaya bisa menjadi alat pemersatu bangsa. Aktivitas sederhana seperti berburu kolak atau es buah ternyata mampu menciptakan ruang interaksi lintas keyakinan yang cair dan menyenangkan. Tanpa perlu diskusi panjang tentang toleransi, masyarakat mempraktikkannya secara nyata di lapangan.

Ramadan pada akhirnya bukan hanya ritual spiritual, tetapi juga momentum sosial. Ia mengajarkan pengendalian diri, empati, serta kesadaran bahwa kita hidup dalam masyarakat yang beragam. Dari antrean sederhana di pinggir jalan, kita belajar bahwa harmoni tidak selalu lahir dari forum resmi, melainkan dari pengalaman sehari-hari yang kita jalani bersama.

War takjil mungkin terlihat sebagai tren musiman yang ringan dan lucu. Namun jika dilihat lebih dalam, ia adalah cermin psikologi kolektif masyarakat Indonesia bahwa di tengah perbedaan, kita tetap mampu berbagi ruang, rasa, dan kebersamaan.

Dan mungkin, di situlah esensi Ramadan yang sesungguhnya bukan hanya menahan lapar, nafsu dan dahaga tetapi juga memperkuat rasa kemanusiaan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Suriah Krisis Pasokan Gas Rumah Tangga, Warga Kesulitan Berbuka Puasa
• 7 jam lalumetrotvnews.com
thumb
AHY Dorong Creative Hub untuk Perkuat Ekonomi Kreatif Banten
• 9 jam lalutvrinews.com
thumb
AS Beri Tarif Nol Persen untuk Tekstil Indonesia, Ini Respons APSyFI
• 12 jam laluidxchannel.com
thumb
Harga Pangan Naik: Daging Ayam Kini Rp45 Ribu per Kg, Daging Sapi Capai Rp135 Ribu per Kg
• 8 jam lalukompas.tv
thumb
Manuver Cerdas Khas Inter Milan: Siap Bajak Leon Goretzka Secara Cuma-Cuma Musim Panas Nanti
• 3 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.