Berkah Ramadan membuat orang-orang berlomba memperbanyak ibadah. Masjid menjadi salah satu tujuan utama. Tak heran jemaah meluber. Salah satunya di Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta Pusat.
Jemaah yang membeludak selama Ramadan berimbas pula pada upaya menjaga kebersihan. Masjid yang bersih rapi tentu membuat jemaah nyaman beribadah.
Salah satu yang dijaga kebersihannya adalah toilet. Masjid Agung Sunda Kelapa, bahkan sampai mengerahkan tambahan tenaga ekstra untuk menjaga kebersihan.
Kepala Bidang Kebersihan Masjid Sunda Kelapa, Effendi mengungkapkan, relawan ini untuk membantu menjaga kebersihan masjid khusus untuk Ramadan.
"Iya relawan kalau khusus Ramadan aja," ujar Effendi kepada kumparan, Senin (23/2).
Relawan diperlukan untuk membersihkan toilet masjid. Relawan ini berjumlah tiga orang.
"Kalau untuk relawan kita nambah 3 orang. Di kebersihan toilet, dua wanita satu pria," ucap Effendi.
Effendi menjelaskan alasan toilet menjadi area khusus untuk ditambah personel kebersihan. Hal itu karena area ini adalah yang paling sulit.
"Yang paling berat di toilet karena toilet ini banyak yang jemaah pakai ya. Karena macam-macam orang datang ke situ. Istilahnya ada yang mandi lah, kencing lah semua," ungkap Effendi.
Effendi menjelaskan sebenarnya operasional kebersihan keseharian bukan hanya toilet saja, tapi juga mencakup keseluruhan kawasan Masjid Agung Sunda Kelapa.
"Iya seluruh (kawasan) ini. Sampai gedung-gedung semua, gedungnya, staf apa ruangan kantor, semua lapangannya, sekitarnya semuanya di sini. Sampai semua toilet, tempat wudu semua," tutur Effendi.
"Sikat WC, dindingnya, urinoirnya. Tiap hari disikat," sambungnya.
Pada hari biasa, operasional kebersihan dilakukan pada pagi hari dan harus selesai sebelum pukul 11.00 WIB. Lalu pada sore hari dibersihkan kembali.
"Kita bekerja normalnya kan start-nya jam 08.00. Itu selesai jam 11.00 atau jam 11.00 kurang harus sudah selesai karena persiapan jemaah kan jam 11.00 zuhur sudah pada datang ya. Jam 11.00 target harus sudah selesai," kata Effendi.
"Sebelum pulang (sore hari) kontrol lagi minimal pembilasan, baru kita boleh pulang. Tim saya enggak banyak. Cuma ada sekitar 10 orang," sambungnya.
Dengan anggota tim yang terbatas, sebenarnya Effendi mengkhawatirkan terjadinya penurunan kesehatan saat Ramadan. Oleh karena itu, tenaga tambahan diperlukan dengan mengajak relawan.
"Kadang ini yang ada yang sakit gitu kita harus backup. Nah sementara kita kan kondisi sedang puasa kan lelah, letih kayak gitu. Beda kalau kita backup teman kita yang sakit di hari biasa. Kita bisa makan minum setelahnya. Yang saya khawatirkan sakit aja kalau ini tim kami," kata Effendi.
Selain itu, Effendi mengatakan Ramadan menuntut tanggung jawab yang bertambah dan menuntut kefokusan lebih tinggi. Dengan jemaah yang bertambah, kebersihan masjid turut dipantau juga oleh banyak orang.
"Kita harus fokus sekali gitu. Beda dengan hari biasa istilahnya ada sedikit "coretan" (kotor), itu tidak apa-apa, tapi kalau bulan Ramadan ini banyak yang komplain. Ada coretan sedikit aja, jemaah langsung lapor," ungkap Effendi.





