jpnn.com, YOGYAKARTA - Penggagas Komunitas Pandu Negeri Aryo Seno Bagaskoro menilai teror yang diterima Ketua BEM Universitas Gajah Mada (UGM) Tiyo Ardianto dan keluarga sebagai bentuk kemunduran peradaban bangsa.
Menurut Seno, kritik Tiyo terhadap pemerintah sebenarnya menjadi keresahan anak muda yang ingin ada perbaikan kondisi negara.
BACA JUGA: Marinus Gea Kritik Pernyataan Natalius Pigai soal Teror Ketua BEM UGM
“Ide yang disampaikan oleh Tiyo adalah akumulasi kristalisasi keresahan anak-anak muda. Substansi idenya adalah perbaikan terhadap status quo yang banyak orang merasa stagnan.” kata Seno kepada awak media, Senin (23/2).
Diketahui, Tiyo dan keluarga menerima teror setelah melontarkan kritik terhadap berbagai kebijakan pemerintah.
BACA JUGA: Ketua BEM UGM Diteror Setelah Kritik Pemerintah, Istana Merespons Begini
Misalnya, Tiyo menerima pesan WhatsApp bernada ancaman penculikan dari nomor dengan kode Inggris.
Selain ancaman penculikan, peneror juga mengirimkan pesan yang menuduh Tiyo sebagai agen asing dan mencari panggung.
BACA JUGA: Pukat UGM Anggap Rezim Jokowi Punya Andil Merevisi UU yang Melemahkan KPK
Menurut Seno, pemerintah seharusnya melindungi hak kebebasan berpendapat setiap orang, karena hal itu menjadi amanat konstitusi.
Dia berharap aparat penegak hukum mengusut tuntas pelaku teror untuk memastikan kemerdekaan berpendapat dilindungi.
"Negeri ini tidak boleh anti-kritik. Pemerintah sebaiknya mendengarkan substansi gagasannya, justru berterima kasih pada anak-anak muda seperti Tiyo yang masih mau peduli terhadap bangsanya.” lanjutnya.
Seno mengatakan respons yang tak tepat atau bernuansa sinis terhadap Tiyo dan keluarga yang diancam membuat publik curiga.
“Suara Tiyo datang dari kejujuran nurani berkata apa yang ada di hati dan pikirannya. Respons yang salah justru akan semakin membenarkan kejernihan argumentasinya.” ujar dia. (ast/jpnn)
Redaktur : Budianto Hutahaean
Reporter : Aristo Setiawan




