Penyintas  Bongao Jalani Ramadan dalam Keterbatasan

tvrinews.com
2 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Fityan

TVRINews-Manila

Warga Tawi-Tawi kehilangan tempat tinggal akibat kebakaran besar yang menghanguskan ribuan bangunan menjelang bulan suci.

Bagi Annalexis Abdulla Dabbang, rencana menyambut bulan suci Ramadan bersama keluarga berubah menjadi perjuangan untuk bertahan hidup. Hanya beberapa hari sebelum hilal terlihat, sebuah kebakaran hebat melanda pemukiman di Bongao, ibu kota Provinsi Tawi-Tawi, Filipina Selatan, dan menghanguskan seluruh harta benda mereka.

Bongao merupakan pusat wilayah minoritas Muslim di wilayah Bangsamoro. Kebakaran yang terjadi pada awal Februari ini tercatat sebagai salah satu musibah terburuk dalam beberapa tahun terakhir, yang menyebabkan lebih dari 5.000 warga kehilangan tempat tinggal.

Bertahan di Tengah Trauma

"Kami berenang demi menyelamatkan nyawa. Kami harus berenang dalam kegelapan untuk melarikan diri dari api, bahkan air laut pun terasa panas karena kobaran api tersebut," ujar Dabbang (27), seorang guru, sebagaimana dilaporkan oleh Arab News.Senin 23 Februari 2026.

Hanya dalam hitungan jam, rumah dan kenangan yang ia bangun sirna menjadi abu. Bersama suami dan putrinya yang berusia dua tahun, Dabbang kini mengungsi di gimnasium Universitas Negeri Mindanao. 

Tanpa tenda yang memadai, mereka terpaksa tidur di tribun penonton hanya beralaskan selembar matras.

Ramadan yang Penuh Pengorbanan

Datangnya bulan Ramadan di tengah pengungsian memberikan nuansa yang jauh berbeda bagi para korban. Tidak ada privasi untuk sahur, tidak ada ruang untuk menjamu tamu saat berbuka, dan tidak ada hidangan spesial di atas meja.

"Ramadan terasa berbeda sekarang. Menyakitkan, namun di saat yang sama terasa lebih nyata. Saat kami kehilangan rumah, kami mulai memahami arti pengorbanan yang sebenarnya," kata Dabbang. "Kami tidak menyiapkan hidangan spesial. Kami menyiapkan hati kami."

Senada dengan Dabbang, Abdulkail Jani yang kini mengungsi di sebuah lapangan basket bersama 70 keluarga lainnya, menyebut Ramadan tahun ini sebagai bulan ujian yang berat.

"Meski situasi kami sulit, selama kami masih hidup, kami akan tetap menjalankan ibadah Ramadan dengan sebaik-baiknya," tutur Jani.

Tantangan Sanitasi dan Ibadah

Kondisi di posko pengungsian yang padat juga menghadirkan tantangan teknis bagi umat Muslim yang ingin beribadah. Juraij Dayan Hussin, seorang relawan di Bongao, menyoroti sulitnya menjaga kekhusyukan di tengah keterbatasan fasilitas.

"Sangat sulit bagi pengungsi untuk menunaikan salat tanpa pakaian ibadah yang layak karena sebagian besar harta mereka terbakar," jelas Hussin. Ia juga menambahkan bahwa masalah sanitasi menjadi kendala utama, mengingat kebersihan adalah syarat esensial dalam berpuasa dan beribadah.

Meski kehilangan segalanya, keyakinan para penyintas di Tawi-Tawi tidak padam. Mereka memanjatkan doa bukan hanya untuk pemulihan tempat tinggal, tetapi juga untuk kesembuhan dari trauma mendalam akibat tragedi tersebut.

Editor: Redaktur TVRINews

Komentar
1000 Karakter tersisa
Kirim
Komentar

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemerintah Pusat Ngegas Belanja, Pencairan Bansos Naik 2 Kali Lipat
• 13 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Terpopuler: ETLE Udara Mudik 2026, Target BYD Disorot, hingga Impor Mobil Desa Jadi Perhatian
• 17 jam laluviva.co.id
thumb
Keindahan Jenewa dari Puncak Gunung Saleve, The Balcony of Geneva...
• 18 jam lalukompas.com
thumb
Penjualan ORI029 Meleset Jauh dari Target, Ini Penjelasan Kemenkeu
• 16 jam lalukatadata.co.id
thumb
Purbaya Klaim Defisit APBN RI Lebih Sehat Daripada Malaysia: Kita Lebih Jago
• 13 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.