Memahami Perbedaan Serangan Jantung dan Kematian Jantung Mendadak

mediaindonesia.com
9 jam lalu
Cover Berita

MASIH banyak masyarakat yang menyamakan serangan jantung dengan kematian jantung mendadak. Padahal, secara medis, kedua kondisi ini memiliki mekanisme pemicu yang berbeda. 

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr. Ardian Rizal, Sp.JP(K)-FIHA, menegaskan pentingnya memahami perbedaan ini untuk meningkatkan kewaspadaan kesehatan.

Ardian menjelaskan bahwa serangan jantung umumnya disebabkan oleh masalah mekanik pada pembuluh darah, sementara kematian jantung mendadak lebih berkaitan dengan sistem kelistrikan organ tersebut.

Baca juga :  Tak Hanya Serangan Jantung, Penyakit Ini Juga Bisa Akibatkan Kematian Mendadak pada Seseorang

"Kematian jantung mendadak biasanya karena gangguan listrik jantung yang kacau. Sementara serangan jantung karena sumbatan aliran darah di pembuluh koroner," ujar anggota Perhimpunan Aritmia Indonesia tersebut, dikutip Selasa (24/2).

Sebagai ilustrasi, Ardian menyoroti kasus atlet profesional yang tiba-tiba kolaps saat bertanding. Padahal, para atlet tersebut lazimnya memiliki kondisi fisik prima dan rutin menjalani pemeriksaan kesehatan. 

Menurutnya, insiden tersebut sering kali berkaitan dengan gangguan irama jantung yang memicu henti jantung mendadak.

Baca juga : Benarkah Orang Gemuk Lebih Rentan Kena Serangan Jantung? Ini Penjelasan dari Dokter

Data menunjukkan bahwa sekitar 26,3% kasus kematian jantung memang berkaitan dengan gangguan irama jantung. 

Bahkan, pada pasien dengan penyakit jantung koroner, kematian bisa terjadi secara tiba-tiba akibat aritmia fatal yang dipicu oleh kerusakan otot jantung.

Gangguan irama jantung sendiri memiliki spektrum yang luas, mulai dari gejala ringan hingga kondisi yang mengancam jiwa. 

Pada beberapa kasus, penderita hanya mengeluhkan sensasi jantung berdebar. Namun, pada kondisi lainnya, gangguan ini dapat memicu henti jantung dalam waktu yang sangat singkat.

Ardian memperingatkan bahwa tingkat keselamatan dalam kasus aritmia fatal tergolong rendah. Tanpa penanganan medis yang segera, peluang bertahan hidup bagi pasien dengan gangguan irama jantung fatal kurang dari 1%.

Mengingat risikonya yang tinggi, Ardian menekankan pentingnya bagi masyarakat untuk lebih mengenali gejala gangguan irama jantung. 

Melakukan pemeriksaan kesehatan jantung lebih dini menjadi langkah krusial agar potensi masalah pada sistem kelistrikan jantung dapat dideteksi sebelum berakibat fatal. (Ant/Z-1)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Purbaya Sebut Dana Impor 105 Ribu Mobil Pikap Kopdes Pinjam dari Bank BUMN
• 19 jam lalukatadata.co.id
thumb
BMKG Prakirakan Cuaca Jatim Hari Ini Berawan Tebal hingga Hujan Petir
• 6 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Setengah dari 397 Lapangan Padel di Jakarta Diduga Tak Punya PBG, Bakal Dibongkar Pramono
• 1 jam lalukompas.com
thumb
Prabowo Masih di Luar Negeri, Dasco Minta Impor Mobil Pikap dari India Ditunda
• 5 jam lalukompas.tv
thumb
AI Guncang Saham Teknologi, Begini Nasib Harga Bitcoin (BTC) Hari Ini (24/2)
• 9 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.