Nilai tukar rupiah melemah 0,14% ke level 16.826 per dolar AS pada perdagangan pagi ini, Selasa (24/2). Kurs rupiah tertekan seiring rilis data manufaktur terbaru AS yang lebih kuat dari perkiraan.
"Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS yang rebound setelah data menunjukkan aktivitas ekonomi dan manufaktur AS yang lebih kuat dari perkiraan,”ujar Analis Doo Financial Lukman Leong kepada Katadata, Selasa (24/2).
Berdasarkan Bloomberg, kurs rupiah dibuka melemah 33 poin ke level 16.845 per dolar AS. Rupiah pun bergerak kian melemah ke level 16.826 per dolar AS hingga pukul 09.30 WIB.
Pada penutupan perdagangan hari sebelumnya, dolar berada di level Rp 16.802, menguat 86 poin atau 0,51%. Kemudian langsung dibuka melemah pada perdagangan pagi ini.
Meski begitu Lukman mengatakan perlemahan ini diperkirakan akan terbatas lantaran ketidakpastian seputar tarif masih cenderung menahan dolar AS.
Optimisme juga datang dari Senior Economist KB Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana. Menurutnya kombinasi sentimen global dan domestik diharapkan dapat mendongkrak rupiah hari ini.
“Harapannya kembali terapresiasi ke 16.800 per US$,” katanya.
Beberapa faktor yang akan memengaruhi pergerakan rupiah hari ini, di antaranya tarik ulur tarif perdagangan Amerika, serta meningkatnya risiko US equity market yang didorong kekuatiran sektor teknologi, khususnya AI cukup mempengaruhi pergerakan rupiah.
Dari sisi internal, beberapa faktor seperti rilis defisit fiskal Indonesia di Januari 2026 yang memburuk dibanding tahun sebelumnya serta lelang SBN domestik hari ini yang diharapkan membaik.




