Rupiah Melemah usai Laporan Defisit APBN Rp 54,6 triliun di Januari 2026

viva.co.id
11 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di level Rp 16.818 per Senin, 23 Februari 2026. Posisi rupiah itu menguat 67 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 16.885 pada perdagangan Jumat, 20 Februari 2026. 

Baca Juga :
IHSG Dibuka Menghijau saat Bursa Asia Variatif Menanti Kejelasan soal Tarif Trump
Bursa Asia Bergejolak Terguncang Putusan Mahkamah Agung AS Soal Tarif Trump

Sementara perdagangan di pasar spot pada Selasa, 24 Februari 2026. hingga pukul 09.22 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 16.829 per dolar AS. Posisi itu melemah 27 poin atau 0,16 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 16.802 per dolar AS.

Ilustrasi mata uang Rupiah.
Photo :
  • pixabay.com/WonderfulBali

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, Kementerian Keuangan mencatat bahwa APBN membukukan defisit sebesar Rp 54,6 triliun per akhir Januari 2026, setara dengan 0,21 persen dari produk domestik bruto (PDB).

Defisit tersebut dengan rincian bahwa pendapatan negara mencapai Rp 172,7 triliun per Januari 2026, atau setara 5,5 persen dari target pendapatan negara sepanjang tahun ini sebesar Rp 3.153,6 triliun. 

Sementara itu, belanja negara sudah mencapai Rp 227,3 triliun per Januari 2026, setara 5,9 persen dari target belanja negara sepanjang tahun ini sebesar Rp 3.842,7 triliun. Artinya, belanja negara masih lebih banyak dari pendapatan negara.

Karenanya, defisit APBN mencapai Rp 54,6 triliun atau setara 0,21 persen dari PDB. Angka ini masih sangat terkendali dan berada dalam koridor desain APBN 2026.

Lebih lanjut, untuk defisit keseimbangan primer tercatat mencapai Rp 4,2 triliun. Sementara itu, target keseimbangan primer didesain defisit sebesar Rp 89,7 triliun. Adapun jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu maka tampak ada kenaikan dalam defisit APBN. 

Pada akhir Januari 2024, defisit APBN mencapai Rp 23 triliun atau setara 0,09 persen dari PDB (lebih rendah Rp 31,6 triliun dibandingkan realisasi akhir Januari 2026). Sebagai informasi, pemerintah mendesain defisit APBN 2026 setahun penuh sebesar Rp 689,1 triliun atau 2,68 persen terhadap PDB.

"Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 16.770 - Rp 16.800," ujarnya.

Sebagai informasi, pasar terus mengamati putaran ketiga pembicaraan nuklir antara AS dan Iran pada hari Kamis di Jenewa, meningkatkan harapan bahwa ketegangan dapat mereda. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi mengatakan kepada program "Face the Nation" CBS pada hari Minggu, bahwa ada peluang bagus untuk mencapai solusi diplomatik dan bahwa solusi tersebut berada dalam jangkauan mereka, komentar yang ditafsirkan pasar sebagai sinyal kesediaan untuk berkompromi.

Baca Juga :
Trump Mengancam Lagi! Negara yang 'Main-main' dengan Putusan MA Bakal Disanksi Tarif Lebih Tinggi
Defisit APBN Bulan Pertama 2026 Capai Rp 54,6 Triliun, Purbaya: Masih Sangat Terkendali
BI Catat Uang Beredar M2 Naik 10 Persen Januari 2026, tembus Rp10.117,8 Triliun

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Oknum Brimob Penganiaya Siswa Resmi Dipecat, Kapolda Maluku Jelaskan Tindakannya
• 9 jam laludisway.id
thumb
Bangga! Pembalap RI Pertama Sabet Podium WorldSSP, Aksi Berani Aldi Mahenda Tuai Pujian Dunia
• 22 jam lalubisnis.com
thumb
Cetak Sejarah, Rob Jetten Resmi Dilantik Jadi Perdana Menteri Termuda Belanda
• 13 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Purbaya Soroti Kelayakan Proyek Gas Blok Masela Digarap Inpex
• 5 jam lalueranasional.com
thumb
Kepala BPS: Rata-rata Penduduk RI Tempuh Pendidikan Sampai Lulusan SMP
• 9 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.