Potensi Limbah Cair Sawit untuk Bahan Bakar Pesawat Mulai Dilirik

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

Limbah cair pabrik kelapa sawit mulai dilirik untuk sustainable aviation fuel. Selain menghasilkan emisi lebih rendah, limbah cair kelapa sawit juga punya potensi yang besar hingga 2,5 juta kiloliter.

Pada Desember 2025, International Civil Aviation Organization (ICAO) menetapkan limbah cair kelapa sawit (palm oil mill effluent/POME) sebagai bahan baku berstandar internasional untuk sustainable aviation fuel (SAF). POME pun bertransformasi menjadi limbah bernilai tinggi dan komoditas strategis baru.

POME sebelumnya hanya merupakan limbah yang bahkan tidak bernilai. Namun, setelah diteliti, limbah cair dari minyak sawit itu ternyata memiliki fungsi yang beragam, salah satunya sebagai bahan bakar pesawat. Salah satunya diteliti oleh Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS).

Kepala Subdivisi Riset dan Advokasi Kebijakan IPOSS Dimas Haryo Pamungkas menjelaskan, limbah cair pabrik sawit merupakan limbah yang tidak bisa dihindari. Limbah cair yang juga disebut residu itu lahir dari proses pembuatan minyak sawit mentah (CPO).

POME, kata Dimas, terdiri dari minyak, air limbah, dan padatan. Minyak yang hilang selama proses pengolahan masuk ke kolam limbah, terutama berasal dari stasiun sterilisasi serta dari sludge tank atau tangki minyak kotor. Minyak yang berhasil dipulihkan atau disterilisasi itu kemudian disebut POME oil.

Dari perhitungan IPOSS, lanjut Dimas, produksi tandan buah segar kelapa sawit Indonesia mencapai 256 juta ton yang diproduksi dari 1.386 pabrik kelapa sawit (PKS). Dari total volume itu, sekitar 1 persen atau 2,5 juta kiloliter dapat menjadi POME oil.

POME oil harus diolah kembali untuk menjadi bahan baku SAF karena memiliki fraksi kerosin sebagai bahan bakar pesawat. ”Setelah diteliti, bahan bakar SAF yang menggunakan bahan baku POME akan menghasilkan penurunan emisi sebesar 79,6 persen dibandingkan bahan bakar pesawat biasa,” kata Dimas di Jakarta, Senin (23/2/2026).

Dimas mengatakan, penelitian tentang POME ini didorong oleh berbagai faktor, salah satunya meningkatnya emisi aviasi secara signifikan seiring pertumbuhan penumpang pesawat yang tinggi.

Tanpa intervensi, lanjut Dimas, emisi aviasi diperkirakan dapat mencapai 21,2 gigaton karbon pada 2050. Dengan begitu, kebutuhan akan bahan bakar berkelanjutan yang rendah karbon kian diminati. IPOSS menganalisis jika pada 2050 permintaan SAF di dunia meningkat hingga 515 juta ton.

”Lalu apa yang harus dilakukan setelah POME ditetapkan sebagai SAF, kami sedang mendorong mandatori 5 persen SAF pada 2030. Kita juga perlu membangun sistem traceability POME yang andal dengan meregulasikan skema yang diakui internasional,” ungkap Dimas.

Baca JugaImplementasi B50: Optimisme Pemerintah, Keraguan Pengguna
Biodiesel

Selain penggunaan bahan bakar pesawat, POME oil juga bisa digunakan untuk biodiesel. Menurut Dimas, hal ini seharusnya bisa menjadi jawaban atas kekhawatiran kekurangan produksi minyak sawit mentah untuk keperluan biodiesel 50 (B50).

”Jika selama ini kekhawatiran B50 akan mengganggu produksi dan ekspor minyak sawit, kehadiran POME oil ini bisa menjadi alternatif biodiesel di tengah stagnasi produksi CPO,” ujar Dimas.

Produksi CPO yang stagnan itu disampaikan beberapa kali oleh Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono. Ia mengatakan, produksi minyak sawit dari dua negara produsen utama dunia, yakni Indonesia dan Malaysia, cenderung stagnan dalam beberapa tahun terakhir. Di sisi lain, permintaan global terhadap minyak nabati justru terus meningkat.

Ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan ini, menurut Eddy, menjadi tantangan utama industri sawit pada 2026. Stagnasi produksi terjadi di tengah kebutuhan pangan dan energi yang terus tumbuh, baik di pasar domestik maupun global.

Meski menghadapi keterbatasan pasokan, ekspor CPO Indonesia sepanjang 2025 masih positif. Berdasarkan data Gapki, volume ekspor CPO hingga Oktober 2025 mencapai 27,69 juta ton, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 24,84 juta ton.

Peningkatan ekspor ini, kata Eddy, terutama ditopang oleh harga minyak sawit yang lebih kompetitif dibandingkan minyak nabati lain. Sejak April 2025, harga minyak sawit tercatat berada di bawah harga minyak bunga matahari dan minyak kedelai.

”Indonesia tidak hanya berperan sebagai produsen terbesar minyak sawit dunia, tetapi juga merupakan konsumen terbesar. Kondisi ini dapat meningkatkan tekanan inflasi, khususnya pada sektor pangan dan energi,” ujar Eddy.

Di sektor energi, Indonesia menjadi salah satu negara rujukan implementasi biodiesel. Dari data Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi), program B40 saja telah melibatkan sekitar 1,9 juta tenaga kerja dari hulu hingga hilir serta menghasilkan penghematan devisa sekitar Rp 140 triliun pada 2025.

Sebelumnya, di sela-sela acara ”Lokakarya Jurnalis Program Biodiesel Sawit 2026” di Depok, Jawa Barat, Kamis (5/2/2026), Sekretaris Jenderal Aprobi Ernest Gunawan mengatakan, Indonesia kini menjadi salah satu pelaksana program biodiesel terbesar di dunia. Untuk 2026, kapasitas terpasang industri biodiesel mencapai 22 juta kiloliter dengan alokasi penyaluran sekitar 16,5 juta kiloliter. Realisasi 2025 sendiri telah mencapai hampir 15 juta kiloliter atau sekitar 96 persen dari target.

Walakin, menurut Ernest, B50 akan sulit diimplementasikan jika kapasitasnya tidak ditambah. ”Kapasitas kita hanya 18,6 juta kiloliter, B50 membutuhkan 19 juta-25 juta kiloliter. Jadi, kapasitas terpasang perlu ditambah dan ini bukan pekerjaan mudah,” ujar Ernest.

Baca JugaImplementasi B50 Harapan Swasembada Energi

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
280 Ide Nama Bayi Laki-laki Huruf J Modern, Maknanya Bagus!
• 8 jam lalutheasianparent.com
thumb
Menkeu Purbaya Pastikan THR 2026 bagi PNS Segera Cair! Tanggalnya di Tangan Presiden Prabowo
• 22 jam laluharianfajar
thumb
DPR Minta Perusahaan Produsen Mie Sedaap Setop Lakukan PHK Menjelang Lebaran
• 18 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
20 Negara Arab Islam dan Eropa Kecam Pencaplokan Israel Atas Tepi Barat, Ini Tuntutan Mereka
• 5 jam lalurepublika.co.id
thumb
Demi Keluarga, Sairan Pilih Kerja di Kolam Sidat Nusakambangan Usai Bebas
• 23 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.