Pantau - Anggota DPRD DKI Jakarta Hardiyanto Kenneth menilai pengaturan lalu lintas yang lebih tegas perlu dilakukan untuk mengatasi kemacetan akibat pembangunan flyover Latumenten di Grogol, Jakarta Barat.
Ia mengaku menerima banyak keluhan warga terkait kemacetan parah akibat penyempitan jalan selama proyek berlangsung.
“Banyak warga komplain ke saya. Proses pembangunan ini bikin macet luar biasa karena ada penyempitan jalan," ujarnya.
Saat inspeksi mendadak, Kenneth menemukan Jalan Latumenten yang sebelumnya memiliki tiga lajur kini menyempit menjadi satu lajur aktif sehingga menyebabkan antrean panjang terutama pada jam sibuk.
Kenneth juga menyoroti angkot JakLingko yang berhenti tepat setelah perlintasan kereta api sehingga memperparah kemacetan di titik bottle neck.
“Angkot berhenti persis setelah perlintasan kereta. Ini memperparah kemacetan. Harusnya, titik berhenti digeser sedikit ke depan setelah posisi bottle neck supaya arus kendaraan tetap bergerak," katanya.
Ia menambahkan keberadaan truk kontainer dan bus besar yang masih melintas di ruas jalan sempit tersebut membuat kondisi semakin tidak ideal.
“Truk kontainer dan bus besar masih lewat sini. Dengan kondisi tinggal satu lajur, ini jelas tidak ideal. Saya minta Dinas Perhubungan DKI Jakarta segera cari solusi konkret," tegasnya.
“Harus ada pengaturan lalu lintas yang lebih tegas, pengawasan di lapangan yang konsisten, dan solusi cepat untuk kendaraan besar maupun titik berhenti angkot," tambahnya.
Kenneth menegaskan proyek strategis tidak boleh mengorbankan kenyamanan dan keselamatan warga meskipun pembangunan flyover Latumenten ditujukan untuk mengurai kemacetan akibat perlintasan kereta.
“Kalau bisa diantisipasi sekarang, kenapa harus tunggu makin parah? Saya akan terus kawal proyek ini sampai benar-benar memberi manfaat bagi warga, bukan malah menambah beban di jalan," ujarnya.
Secara terpisah, Wakil Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Ujang Harmawan menyatakan pihaknya telah mengimbau pengguna jalan mencari rute alternatif dan masih menunggu keputusan Kementerian Perhubungan terkait pembatasan kendaraan besar.
“Kami akan koordinasi dengan pengusaha angkutan wilayah barat. Pemprov juga sudah bersurat ke pusat. Nanti akan kami update," kata Ujang.
Flyover Latumenten dibangun sepanjang sekitar 380 meter dan ditargetkan menjadi solusi jangka panjang untuk mengurai kemacetan akibat perlintasan kereta api di kawasan tersebut serta direncanakan setelah rampung Jalan Latumenten hanya digunakan sebagai akses kendaraan umum.




