EtIndonesia. Ada sebuah kisah perumpamaan.
Suatu hari, Tuhan berkata kepada seorang manusia: “Aku menyukaimu. Aku ingin memberimu hadiah. Kamu boleh mengajukan satu permohonan. Apa pun yang kamu minta akan Aku kabulkan.”
“Benarkah?” tanya orang itu dengan gembira.
“Benar. Tapi apa pun yang kamu minta, tetanggamu akan mendapat dua kali lipat.”
Artinya, jika orang itu meminta satu gunung emas, tetangganya akan mendapat dua gunung. Jika dia meminta satu lusin wanita cantik, tetangganya akan mendapat dua lusin.
Orang itu berpikir sangat lama. Akhirnya dia berkata : “Kalau begitu, aku ingin kehilangan satu testis.”
Ini bukan lelucon. Ini gambaran nyata sifat manusia.
Manusia suka membandning – bandingkan. Sebanyak apa pun yang kita peroleh, jika orang lain mendapat lebih banyak, kita tidak akan merasa bahagia. Bahkan bisa merasa sakit hati dan melakukan hal-hal yang tidak rasional.
Misalnya, kamu bekerja dengan baik dan mendapat kenaikan gaji 5 juta rupiah. Awalnya kamu sangat senang.
Namun ketika tahu rekan kerjamu naik 5,25 juta rupiah, kebahagiaanmu langsung seperti balon yang tertusuk jarum—kempis seketika. Yang tersisa hanya perasaan kecewa.
Padahal sebelumnya kamu menerima gaji 50 juta dan sudah merasa puas.
Tetapi begitu mengetahui ada rekan yang masuk lebih belakangan namun digaji lebih tinggi, meskipun hanya selisih satu rupiah, kamu mulai merasa tidak adil. Mengapa perusahaan menilai dia “lebih baik” darimu?
Apakah “perbandingan” itu diciptakan oleh uang?
Tidak.
Perbandingan diciptakan oleh manusia.
Uang hanya membuat orang lebih mudah untuk membandingkan.
Contohnya dalam seni lukis abstrak.
Mana yang lebih bagus, karya Zhao Wuji atau Zhu Dequn?
Sulit dibandingkan, bukan?
Namun ketika harga lelang Zhao Wuji mencapai 2 miliar dan Zhu Dequn hanya 20 juta, tiba-tiba perbandingan terasa mudah. Tidak perlu mengerti seni, cukup tahu berhitung.
Dari “perbandingan” lahirlah “kecemburuan”. Dan kecemburuan membawa penderitaan, bahkan kegilaan.
Mengapa krisis finansial selalu berulang setiap beberapa tahun? Mengapa manusia tidak pernah jera?
Salah satu akar masalahnya adalah perbandingan.
Uangmu sebenarnya sudah cukup. Namun ketika melihat orang lain “mengelola keuangan” dan menghasilkan keuntungan dengan mudah, kamu mulai bertanya: apakah aku lebih bodoh?
Setiap hari kamu mendengar slogan, “Jika kamu tidak mengatur uang, uang tidak akan mengaturmu.” Akhirnya kamu ikut terjun.
Kamu tahu balon yang terus ditiup pasti akan meledak. Tetapi kamu berpikir: “Kereta kencana baru berubah jadi labu tepat pukul 12. Aku akan pergi pukul 11.50, pasti aman.”
Semua orang berpikir begitu. Namun balon justru meledak pukul 11.40. Dan semua orang jatuh ke dalam lubang yang sama.
Karena itu, bukan hanya jangan membandingkan diri dengan orang lain—bahkan jangan membandingkan diri dengan diri sendiri secara berlebihan.
Krisis finansial mungkin membuat hartamu menyusut, uangmu berkurang.
Tapi apakah itu membunuhmu?
Tidak. Itu bukan kanker atau wabah penyakit mematikan. Itu tidak bisa membunuhmu.
Mungkin setelah kehilangan uang, hidupmu sebenarnya tidak banyak berubah. Kalaupun harus mengurangi pengeluaran, kamu tetap bisa hidup sehat.
Sepuluh atau dua puluh tahun lalu, bukankah kamu lebih miskin daripada sekarang?
Saat itu pun kamu baik-baik saja. Tidak merasa terlalu menderita.
Krisis finansial tidak merampas segalanya darimu. Karena kamu masih ada.
Yang hilang hanyalah sesuatu yang dulu sebenarnya belum kamu miliki. Kamulah yang paling berharga.
Jangan salah paham. Ini bukan ajakan untuk meninggalkan uang sepenuhnya.
Uang tidak salah. Yang bermasalah adalah cara manusia memandangnya.
Uang hanyalah alat—alat yang indah.
Seperti sebuah piano yang indah. Di tangan orang yang bisa memainkannya, dia menghasilkan musik yang merdu. Di tangan orang yang tidak bisa, ia hanya menghasilkan kebisingan yang menyakitkan telinga.
Hikmah Cerita
Tulisan ini mengingatkan kita pada pepatah: “Membandingkan diri dengan orang lain bisa membuat hati sengsara.”
Ketika seseorang gemar membandingkan, ia akan mudah menjadi perhitungan dan iri hati. Dan dari situ lahir banyak emosi negatif yang membuat hidup tidak lagi bahagia.
Kisah perumpamaan ini juga mirip dengan konsep “kemiskinan batin”—ketika seseorang sebenarnya tidak kekurangan apa pun, tetapi tetap merasa kurang karena selalu melihat ke atas.
Coba renungkan kembali: Apakah yang membuat kita tidak bahagia benar-benar karena kekurangan… atau karena kita terlalu sibuk membandingkan? (jhn/yn)




