Mahasiswa UNY yang menjadi terdakwa kasus pembakaran tenda Polda DIY dalam demo ricuh di Mapolda DIY Agustus 2025 silam, Perdana Arie Putra Veriasa (20), resmi bebas dari Lapas Kelas IIB Sleman atau Lapas Cebongan, Selasa (24/2).
Perdana Arie telah menjalani penahanan di lapas tersebut selama lebih dari lima bulan.
Setelah bebas, Arie berharap bisa kembali melanjutkan perkuliahan. Saat ditahan ia berada di semester lima, dan kini ingin meneruskan ke semester enam.
“Harapannya bisa lanjut kuliah,” kata Arie, Selasa (24/2).
Kepala Kantor Humas dan Protokol UNY, Basikin, mengatakan Arie dimungkinkan dapat melanjutkan studinya di semester ini. UNY masih membuka registrasi untuk semester 6 khusus bagi mahasiswa dengan alasan tertentu.
“Berdasarkan informasi dari Koorprodi Pendidikan Sejarah, prodi siap menerima Mas Perdana Arie. Saat ini masih perpanjangan pembayaran UKT terutama bagi mahasiswa yang terkendala karena alasan tertentu,” kata Basikin dihubungi Pandangan Jogja, Selasa (24/2).
“Kalau bisa menyusul registrasi harusnya tidak cuti. Perkuliahan baru minggu ketiga,” tambahnya.
Basikin menyebut, pihaknya sempat mendampingi Arie saat proses hukum berlangsung. Dalam 5 bulan 3 hari ini, pihaknya melakukan pendampingan satu kali ketika Arie berada di Polda DIY.
“Untuk berapa kali pendampingan saya tidak tahu, saya hanya sempat menjenguk ketika masih di Polda,” kata Basikin.
“Tidak ada alasan khusus (mengapa tidak ada pendampingan saat persidangan), tapi memang dari awal tidak ada permintaan dari pihak keluarga ke UNY (Rektor) agar UNY mendampingi dalam persidangan,” pungkasnya.
Khatamkan Buku Diponegoro hingga Gramsci
Usai bebas, Arie mengatakan bahwa 5 bulan 3 hari mendekam di lapas memberi pengalaman yang tak mudah bagi Arie. Namun, alih-alih larut dalam tekanan, mahasiswa itu mengaku mengisi waktunya dengan membaca buku.
Dari sejumlah bacaan yang ia selesaikan, Arie secara khusus menyebut dua judul. Ia menamatkan buku sejarah tentang Pangeran Diponegoro serta buku Negara dan Hegemoni karya Antonio Gramsci.
“Yang diselesaikan kemarin itu ada sejarah Pangeran Diponegoro. Habis itu ada buku Negara dan Hegemoni, karyanya Antonio Gramsci, terus ada novel,” kata Arie ditemui di Lapas usai dibebaskan, Selasa (24/2).
Selain membaca, ia juga melakukan kegiatan seperti olahraga, ibadah, hingga bertukar pikiran dengan tahanan lain. Baginya, penjara bukan alasan untuk berhenti belajar.
“Olahraga, ibadah, dan lain-lain, saya ya selalu nyempetin baca buku, sama ngobrol-ngobrol, nyari-nyari ilmu sama tahanan-tahanan lainnya di dalam juga,” ujarnya.
Ia menyebut masa penahanan sebagai pengalaman yang penuh rasa. Ada rindu keluarga dan teman-teman, sekaligus kelegaan ketika akhirnya dinyatakan bebas.





