REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM -- Di tengah persaingan ketat antar perguruan tinggi dan derasnya transformasi digital, kampus tak lagi cukup jika hanya mengandalkan reputasi lama. Perguruan tinggi perlu menyusun strategi pemasaran yang tepat untuk mendatangkan calon mahasiswa dengan membangun citra, memperluas visibilitas, dan menjangkau publik di ruang-ruang yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Hal itulah yang dilakukan Universitas Islam Indonesia (UII). Alih-alih bertumpu pada promosi digital semata, UII justru membawa identitas kampusnya ke ruang publik melalui transportasi umum. Di Jakarta, livery "I’m UII" kini hadir di armada TransJakarta, menyapa ribuan penumpang setiap harinya.
Rektor UII, Prof Fathul Wahid mengungkapkan, pilihan promosi di transportasi publik dilatarbelakangi kesadaran bahwa memori publik cenderung pendek. Karena itu, UII merasa perlu terus mengingatkan masyarakat akan eksistensi dan kiprahnya.
"Itu untuk mengingatkan publik, karena kami sadar memori publik kan pendek ya. Makanya kami ingatkan terus bahwa kami ada, kami berkiprah, kami punya prestasi, kami punya alumni yang menebar banyak manfaat. Harapannya bisa mempengaruhi mereka dalam pengambilan keputusan," ujarnya ditemui seusai Workshop Peningkatan Kapasitas Pengelolaan Perguruan Tinggi yang digelar di Universitas Islam Al-Azhar, Senin (16/2/2026).
.rec-desc {padding: 7px !important;}Sebelumnya, UII juga memasang identitas serupa di bus Trans Jogja serta rangkaian kereta seperti Kereta Api Sancaka dan Kereta Api Taksaka yang melintasi rute strategis antarkota. Bagi Fathul, transportasi publik bukan sekadar media beriklan, tetapi ada filosofi yang menyertainya.
Prof Fathul menyampaikan pemilihan Jakarta sebagai salah satu lokasi promosi ini, rupanya memiliki nilai historis. UII lahir di Jakarta sebelum kemudian berkembang di Yogyakarta. Karena itu, kehadiran iklan di Ibu Kota dimaknai sebagai simbol 'pulang kampung'. Sementara pemasangan iklan di kereta dengan rute hingga Surabaya menjadi simbol perluasan kiprah UII ke berbagai daerah.
"UII dulu lahirnya di Jakarta, jadi kita itu ini 'pulang kampung' kira-kira gitu ke Jakarta. Dan kemarin, ketika kami memasang iklan di kereta sampai ke Surabaya, itu simbol perluasan, kira-kira seperti itu," katanya.
Di sisi lain, penggunaan transportasi publik juga dipandang sebagai bentuk kontribusi terhadap pengurangan polusi dan konsumsi bahan bakar fosil yang tidak terbarukan. Dengan demikian, promosi ini juga untuk membawa pesan keberlanjutan. Kampus ingin terasosiasi dengan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan, sejalan dengan upaya mengurangi konsumsi energi tak terbarukan.
Saat ditanya kemungkinan membuat promosi di moda transportasi sendiri, Fathul menjawab santai.
"Kalau sampai punya transportasi umum sendiri tidak. Kami berbagi tugas dengan pelaku usaha, enggak boleh itu memonopoli pahala," ungkapnya.



