Survei: Gen Z Jadi Generasi Paling Kurang Bahagia saat Bekerja, Ini Alasannya

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Menurut survei terbaru oleh Jobstreet by SEEK, para karyawan Gen Z di Indonesia merupakan pekerja yang merasa sangat bahagia bila work-life balance, atau keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, bisa tercapai. Namun, di saat yang bersamaan, para Gen Z juga merupakan generasi yang paling kurang bahagia dalam pekerjaan.

Hal ini terungkap dalam laporan terbaru bertajuk Work Happiness Index 2025: Indonesia yang dirilis awal Februari 2026. Laporan itu disusun berdasarkan survei terhadap 1.000 karyawan di Indonesia dalam rentang usia 18–64 tahun dan terbagi dalam tiga generasi umur, yaitu Gen X, Milenial, dan Gen Z.

Survei tersebut mengungkap, meskipun baru beberapa tahun berada dalam angkatan kerja, Gen Z menjadi generasi dengan tingkat kebahagiaan paling rendah. Tingkat kebahagiaan Gen Z hanya mencapai 76 persen, lebih rendah dari Milenial di angka 84 persen dan Gen X di angka 85 persen.

Menurut laporan, hal yang mendasari rendahnya tingkat kebahagiaan kerja para Gen Z adalah merasa kurang dihargai dan kesulitan untuk menghubungkan pekerjaan sehari-hari dengan tujuan hidup yang lebih besar.

Selain itu, mereka juga kurang puas dengan aspek-aspek dalam kehidupan pekerjaan, seperti sulitnya mencapai work-life balance. Padahal, bagi para Gen Z, faktor pendorong kebahagiaan kerja paling kuat adalah keseimbangan kehidupan profesional dan pribadi.

“Prioritaskan work-life balance, jangan korbankan kesehatan mental dan fisik hanya untuk pekerjaan. Luangkanlah waktu untuk merawat diri sendiri, membangun hubungan intrapersonal, serta aktivitas-aktivitas yang membawa kebahagiaan,” ujar salah satu responden Gen Z yang tak disebutkan namanya.

Para karyawan Gen Z memiliki karakteristik yang cukup berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya. Generasi muda ini cenderung berfokus pada kesejahteraan diri mereka, menyukai pekerjaan yang bersifat fleksibel alias bisa bekerja dari rumah, serta ingin pekerjaan mereka memiliki makna tersendiri dalam kehidupan mereka.

Lantas, apa yang bisa dilakukan perusahaan dan para bos untuk mendorong potensi para Gen Z? Menurut Jobstreet, perusahaan bisa mulai menciptakan lingkungan kerja yang menjunjung tinggi keseimbangan antara kehidupan profesional dan pribadi.

Selain itu, para pemimpin juga didorong untuk mendengarkan aspirasi Gen Z serta mengapresiasi pencapaian yang diraih dalam pekerjaan.

“Kebahagiaan jangka panjang lebih mungkin tercapai ketika karyawan merasa pekerjaan mereka memiliki makna dan mereka memiliki keseimbangan untuk menikmati hidup di luar pekerjaan,” jelas Acting Managing Director Jobstreet by SEEK Indonesia, Wisnu Dharmawan, dalam keterangan resmi.

“Pemimpin perusahaan memiliki peran krusial untuk menjembatani kesenjangan ini dengan membina komunikasi yang terbuka dan mengakui pencapaian setiap individu secara lebih transparan,” tegasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ketua MPR Nilai Usulan Ambang Batas Parlemen 7 Persen Terlalu Memberatkan
• 23 jam lalumatamata.com
thumb
Tradisi Ramadan di Berbagai Negara, Antara Ibadah dan Budaya
• 2 jam lalukatadata.co.id
thumb
Kesaksian Mencengangkan Kakak Kadung Korban Penganiayaan Brimob di Tual
• 14 jam lalutvonenews.com
thumb
Koalisi Pelindung Ibadah Gugat Ketentuan Umrah Mandiri ke Mahkamah Konstitusi karena Dinilai Bertentangan dengan UUD 1945
• 19 jam lalupantau.com
thumb
Polda Banten Bantah Tukang Ojek di Pandeglang Tersangka: Masih Penyelidikan
• 22 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.