Dua bocah kakak-beradik bernama Juni Arta Dwi Prasetyo (16) dan Rizki Tri Prasetyo (11) tampak sibuk di belakang rumah kontrakannya di pinggir Sungai Gajah Wong perbatasan Banguntapan, Kabupaten Bantul dengan Giwangan, Kota Yogyakarta, Selasa (24/2).
Mereka dengan cekatan memilah botol bekas, kardus, hingga plastik.
Sampah-sampah yang masih basah akan dikeringkan dahulu sebelum disetor ke pengepul. Sampah plastik yang sudah bersih harganya lebih tinggi.
Kontrakan seharga Rp 500 ribu per bulan ini dihuni oleh kakak-beradik bersama dengan bapak kandung dan ibu sambungnya yang juga sama-sama pencari rongsok. Kontrakannya sederhana, dindingnya berpapan triplek.
Berbekal karung, saban hari dua bocah ini menyusuri jalanan Kota Yogyakarta untuk mencari rongsok. Mereka baru pulang ketika jam menunjukkan pukul 12.00 WIB.
Mereka keliling ke wilayah seperti Sidokabul, Nitikan, hingga Wirosaban. Jarak dari rumah kontrakannya sekitar tiga sampai lima kilometer.
"Dulu waktu itu pas Covid-19 saya masih sekolah aslinya. Dulu belum punya HP sering wira wiri ke sekolahan buat ambil tugas (karena sekolah daring) terus akhirnya pas itu ibu saya sakit jadi saya nggak bisa masuk sekolah karena ngurusin ibu saya. Saya berbulan-bulan nggak masuk sekolah akhirnya saya dikeluarkan dari sekolahan," cerita Arta.
Arta keluar sekolah di kelas 5 SD. Arta kemudian memutuskan untuk belajar mencari rongsok. Dia minta diajari oleh sang bapak.
"Keliling muter, ke pinggir sungai, pinggir jalan, ke sungai-sungai. Berapa bulan itu ibu (kandung) saya langsung meninggal karena sakitnya itu," katanya.
Saat itu bapak menawari Arta akan lanjut sekolah atau tidak.
"Saya jawabnya nggak. Nggak usah lanjut sekolah, saya sudah gede. Saya tak mencari rongsok saja. Keliling muter-muter sedapatnya," ujarnya.
Arta mengatakan langkahnya ini diambil untuk membantu perekonomian keluarga.
"Membantu orang tua walaupun sedikit-sedikit. Bisa jajan sendiri sama menabung sedikit demi sedikit," katanya.
Pendapatannya sehari-hari tak menentu tergantung rongsok yang didapat.
"Rata-rata kadang Rp 15 ribu kadang sampai Rp 20 ribu kalau timbang di jalan (tiap hari)," katanya.
Adik Ikut Cari RongsokSementara itu adiknya, Rizki, hanya bersekolah sampai TK. Rizki sangat lekat dengan kakaknya. Sehingga ketika kakaknya memutuskan mencari rongsok dia memilih ikut.
"Lha dulu saya nggak mau sekolah, adik diajakin sekolah ikut-ikutan sama saya. Nggak mau sekolah juga. Jadi sampai sekarang kaya gini cari rongsok berdua, nggak sekolah," tuturnya.
Arta mengatakan ketika di rumah dirinya mengajari adiknya untuk menulis, membaca, dan menghitung.
"Belajar sendiri. Saya dikit-dikit ajarin adik baca tulis. Biar adik bisa lancar baca tulisnya, hitung-hitungannya," katanya.
Ingin Jadi PengusahaArta sendiri mengaku sudah tak ingin bersekolah formal lagi karena usianya sudah mencapai 16 tahun.
"Umurnya kan ya udah tinggi sudah 16 tahun. Jadi bingung mau masuk kelas berapa. Saya ijazah SD juga belum punya," katanya.
Namun, dia mau jika ada bantuan untuk kejar paket atau kursus keahlian seperti otomotif.
"Bengkel biasa kulo (saya). Garap-garap sendiri," jelasnya.
Arta mengatakan yang bikin dia terus semangat adalah dukungan orang tua. "Jadi tiap kali saya mau berangkat bapak dukung, saya pasti semangat dan doa," bebernya.
Kelak, dirinya bercita-cita ingin jadi pengusaha. Dia ingin bisa bermanfaat bagi orang lain.
"Ke depan saya yang penting jadi orang yang berguna jadi orang yang sukses punya usaha sendiri. Punya kemauan yang bisa bantu orang tua juga. Ya jadi orang berguna bisa banyak," katanya.
Dia juga punya cita-cita agar keluarganya bisa membeli rumah dan tak mengontrak lagi.
"Syukur-syukur bisa beli rumah," ucapnya.
Kata Orang TuaSusilo (58 tahun) ayah kandung Arta dan Rizki mengatakan awal mulanya Arta sudah tak mau sekolah sejak Covid-19. Arta mengatakan padanya ingin sekali ikut bekerja.
"Anak saya tanya gimana caranya cari biar kita bisa bekerja bareng. Tadinya saya ajari cari barang bekas atau rongsok di sepanjang sungai atau sepanjang jalan," kata Susilo.
"Ya kondisi ekonomi juga membuat mereka pengin sekali membangun orang tua dengan sarana mencari rongsok," jelasnya.
Meski tak mengenyam pendidikan formal, Susilo tetap memberikan pendidikan pada anaknya. Terutama soal sopan santun. Apalagi, anaknya ini bekerja di jalan.
"Sopan santun terhadap orang di jalan, terhadap orang tua," katanya.
Dalam diri Susilo dirinya terbuka jika ada pihak yang hendak membantu sekolah kedua anaknya. Beberapa ada yang hendak menolong soal sekolah tapi sampai saat ini belum ada respons lanjutan.
"Ada instansi orang yang menolong memang sudah banyak orang-orang yang menginginkan Arta sekolah lagi atau adiknya sekolah lagi tapi sampai saat ini saya sendiri menunggu nggak ada yang kembali merespons," katanya.
"Saya terbuka kalau memang ada orang yang mau menyekolahkan anak saya. Saya terbuka. Tapi dengan catatan tidak ada ketentuan yang mempersulit atau memberatkan saya. Kalau saya sendiri sudah nggak bisa mencari solusi untuk itu. Karena apa, pembayarannya juga kita juga sudah menyerah," bebernya.
Susilo mengatakan penghasilan keluarganya sebagai pencari rongsok tak menentu. Selama ini, hasil bekerja hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan dan tempat tinggal.





