Apakah Kamu Memelihara Sapi di Rumah?

erabaru.net
8 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Dahulu kala, di sebuah desa kecil di pedesaan Myanmar, hiduplah sebuah keluarga. Sang istri bernama Shali. Dia tinggal bersama suaminya dan tiga anak mereka di sebuah gubuk kecil.

Suatu hari, mertua laki-laki dan perempuan tiba-tiba pindah ke rumah mereka karena rumah mereka habis terbakar.

Sejak saat itu, tiga generasi—tujuh orang—tinggal berdesakan dalam satu rumah kecil. Rumah yang memang sudah sempit menjadi semakin tidak nyaman. Lama-kelamaan, Shali tak tahan lagi. Dia memendam keluh kesahnya dan akhirnya pergi menemui seorang guru Zen untuk mencurahkan isi hatinya.

Shali berkata :  “Rumahku yang kecil saja sudah sempit. Sekarang mertua juga datang tinggal bersama kami. Tiga generasi tujuh orang tinggal bersama. Bagaimana mungkin kami bisa hidup seperti ini? Tolong beri aku jalan keluar!”

Sang guru Zen mendengarkan dengan tenang, lalu perlahan bertanya: “Apakah keluargamu memelihara sapi?”

Shali bingung:  “Ada… tapi apa hubungannya dengan masalah rumahku?”

Guru Zen tersenyum : “Begini saja. Bawalah sapimu masuk ke dalam rumah dan pelihara di dalam. Tujuh hari lagi, datanglah kembali menemuiku.”

Seminggu kemudian, Shali datang lagi dengan penuh keluhan.

 “Nasihat apa itu! Rumahku sudah sempit, sekarang dengan sapi di dalam, semakin sesak! Sapi bergerak sedikit, kami semua ikut bergeser. Bagaimana mungkin kami bisa hidup seperti ini?”

Guru Zen tersenyum lagi dan bertanya: “Apakah kamu memelihara ayam?”

“Ada… tapi maksudmu apa lagi?”

“Kembalilah, masukkan juga ayam-ayam itu ke dalam rumah. Tujuh hari lagi, datanglah lagi.”

Shali hampir melonjak marah. Nasihat macam apa ini? Namun dia berpikir, guru Zen tentu punya maksud tertentu. Maka dia pulang dan melakukan seperti yang diperintahkan.

Seminggu kemudian, dia datang lagi dengan wajah penuh amarah.

“Apakah kamu sedang mempermainkanku? Sekarang rumahku penuh suara sapi dan ayam berlarian! Kotoran di mana-mana, bau menyengat! Bagaimana aku bisa hidup seperti ini?”

Guru Zen mendengarkan dengan sabar sampai Shali selesai meluapkan emosinya.

Lalu dia berkata dengan lembut:  “Pulanglah. Keluarkan sapi dari rumah. Tujuh hari lagi datang kembali.”

Shali pulang dengan kesal.

Tujuh hari kemudian, dia kembali.

 Guru Zen bertanya:  “Bagaimana keadaanmu sekarang?”

Shali menjawab jujur: “Jauh lebih baik. Sejak sapi dikeluarkan, rumah terasa lebih lapang.”

Guru Zen berkata lagi:  “Sekarang keluarkan juga ayam-ayam itu. Maka masalahmu akan selesai.”

Shali menuruti nasihat itu. Aneh tapi nyata, setelah itu dia bisa hidup rukun bersama mertua dan keluarganya. Rumah kecil itu pun terasa penuh kehangatan dan kebahagiaan.

Makna Cerita

Cerita ini mengajarkan bahwa beban psikologis bisa terasa semakin ringan ketika cara pandang kita berubah.

Jika kita mampu bersikap lebih optimis dan lapang dada, kebahagiaan kecil bisa berubah menjadi kebahagiaan besar.

Sering kali, penderitaan hidup lebih dipengaruhi oleh cara kita memandangnya.

Ada pepatah mengatakan:  “Bahkan dari neraka pun, ada jalan menuju surga.”

Kuncinya adalah menemukan jalan itu dengan pikiran yang terang. Seperti Shali—yang sebenarnya hanya perlu mengubah sudut pandangnya.

Hikmah Versi Lain

Namun jika direnungkan lebih dalam, mungkin ada makna lain.

Shali sudah terbiasa menjadi “penguasa” di rumahnya sendiri.  Ketika mertua datang tinggal bersama, dia merasa ruang dan otoritasnya berkurang.

Ibarat seorang pejabat tinggi yang terbiasa memimpin wilayahnya sendiri, lalu tiba-tiba atasan yang lebih tinggi datang dan berada di atasnya. Rasa tidak nyaman itu tentu sulit diterima.

Atau seperti sekelompok rekan kerja yang biasa makan bersama dengan bebas. Ketika atasan duduk di meja yang sama, suasana berubah. Candaan dan kebebasan menjadi terbatas.

Mungkin guru Zen ingin membuat Shali menyadari:  “Keadaanmu sebenarnya tidak seburuk yang kamu kira.”

Kadang manusia memang baru bisa menghargai apa yang dimilikinya setelah merasakan keadaan yang lebih buruk.

Ada sifat dasar dalam diri manusia: Untuk belajar bersyukur, sering kali harus lebih dulu merasakan kesulitan.

Seseorang yang belum pernah bekerja keras, sedikit saja menghadapi kesulitan akan merasa hidup sangat berat. Tetapi setelah melewati banyak ujian, dia akan melihat bahwa penderitaan dulu tidaklah sebesar yang ia bayangkan.

Intinya, masalah sering kali bukan pada keadaan, melainkan pada cara kita memaknainya.(jhn/yn)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Van der Sar Bongkar Penyebab Andre Onana Gagal di MU, Singgung Kekacauan Internal hingga Hilang Percaya Diri
• 6 jam lalutvonenews.com
thumb
Riset Celios Soal Beban Ganda Gen Z: Butuh Waktu Lama Dapat Kerja, Biayanya Tinggi
• 20 jam lalukompas.tv
thumb
Aksi Heroik Petugas BPBD! Bayi Berhasil Dievakuasi dari Kepungan Banjir Sepinggang di Tello Baru Makassar
• 11 jam laluharianfajar
thumb
Setahun Perjuangan Ucu-Iwan Tingkatkan Kualitas Pendidikan di Enrekang
• 21 jam laluharianfajar
thumb
Bayi Perempuan Ditemukan di Bawah Deker Jalan Trans Sulawesi
• 13 jam lalurealita.co
Berhasil disimpan.