Jakarta, tvOnenews.com - Edwin van der Sar mengaku heran melihat perjalanan karier Andre Onana yang penuh pasang surut sejak bergabung dengan Manchester United (MU). Mantan CEO Ajax itu menilai situasi yang dialami kiper asal Kamerun tersebut tidak sesuai dengan kualitas yang pernah ia lihat selama bekerja bersama di Belanda.
Saat masih memimpin Ajax, Van der Sar mengikuti perkembangan Onana dengan sangat dekat dan yakin sang pemain akan bersinar di Old Trafford. Keyakinan itu muncul karena performa gemilang Onana bersama Ajax hingga Inter Milan, termasuk keberhasilannya menembus final Liga Champions.
Namun kenyataannya, perjalanan Onana di klub Liga Inggris itu justru diwarnai kritik tajam, inkonsistensi, dan tekanan besar dari publik. Sejumlah kesalahan pada momen penting membuat kepercayaan terhadapnya perlahan menurun, meski secara teknik ia dinilai memiliki kemampuan luar biasa.
"Saya bekerja dengan Andre Onana selama tiga atau empat tahun di Ajax," kata Van der Sar kepada The Overlap.
"Dia datang sebagai kiper pilihan ketiga dan sangat bersemangat untuk naik peringkat dan menjadi pilihan pertama. Saya pikir, dan saya masih berpikir, bahwa dia memiliki kualitas yang luar biasa – refleks dan kemampuan mengolah bola – tetapi entah bagaimana, dia kadang-kadang melakukan kesalahan yang membuat Anda berpikir 'Itu gila, bagaimana dia bisa melakukan itu'."
Menurut Van der Sar, faktor terbesar yang memengaruhi performa Onana tidak lepas dari kondisi MU dalam beberapa tahun terakhir. Klub tersebut dinilai belum memiliki stabilitas, baik dari segi pelatih, lini pertahanan, maupun struktur tim secara keseluruhan.
"Sebuah tim menginginkan stabilitas, untuk mengetahui apa yang dilakukan kiper mereka sehingga lini belakang dapat saling memahami, dan saya pikir itulah yang terjadi [masalah] dengan Andre," jelasnya.
"MU tidak memiliki stabilitas selama enam atau tujuh tahun terakhir – lini belakang berganti-ganti, bek tengah dan gelandang berganti-ganti, pelatih berganti-ganti – jadi, sulit bagi pemain baru untuk masuk ke lingkungan di mana ekspektasi sangat tinggi, tidak hanya untuk penjaga gawang tetapi juga untuk pemain sayap atau gelandang. Banyak pemain yang datang ke sini dalam delapan atau sembilan tahun terakhir belum mencapai level yang diharapkan orang-orang."




