EtIndonesia. Situasi di Iran dalam dua hari terakhir berkembang sangat cepat dan penuh ketegangan. Gelombang demonstrasi mahasiswa kembali meletus di berbagai kampus besar, aparat keamanan dikerahkan secara masif, ledakan misterius mengguncang ibu kota, sementara di saat yang sama pergerakan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah meningkat tajam.
Perkembangan pada 22–23 Februari ini dinilai sebagai salah satu momen paling genting Iran dalam beberapa pekan terakhir.
Bentrokan di Universitas Teheran, Gas Air Mata Ditembakkan
Pada Sabtu, 22 Februari 2026, rekaman yang beredar luas di media sosial memperlihatkan suasana mencekam di Universitas Teheran. Pasukan keamanan Iran, termasuk aparat kepolisian dan unsur militer, terlihat menembakkan gas air mata ke arah mahasiswa yang melakukan aksi protes di dalam dan sekitar area kampus.
Aparat berupaya membubarkan massa dengan tindakan represif, termasuk pemukulan terhadap demonstran. Meski situasi kacau dan dipenuhi kepulan gas air mata, sejumlah mahasiswa tetap bertahan di lokasi sambil meneriakkan slogan-slogan perlawanan.
Salah satu simbol yang mencuri perhatian adalah penggunaan kertas putih oleh para demonstran. Banyak mahasiswa mengangkat lembaran kosong sebagai bentuk protes simbolik—sebuah metode yang mengingatkan publik pada gerakan “kertas putih” yang pernah muncul di berbagai kota di Tiongkok beberapa tahun lalu sebagai simbol penolakan terhadap pembatasan kebebasan berekspresi.
Dalam sejumlah video, mahasiswa terdengar meneriakkan:
- “Hidup Sang Raja!”
- “Darah yang telah tertumpah tidak akan pernah terhapus!”
Seruan tersebut merujuk pada nostalgia terhadap era monarki sebelum Revolusi Islam 1979.
Simbol Monarki Kembali Muncul di Kampus
Gelombang protes tidak hanya terjadi di Universitas Teheran. Pada hari yang sama, aksi serupa juga berlangsung di Universitas Teknologi Sharif, salah satu kampus teknik paling bergengsi di Iran.
Mahasiswa terlihat mengibarkan bendera bergambar singa dan matahari, simbol monarki Iran pada masa Dinasti Pahlavi. Sejumlah demonstran bahkan menyebut aksi ini sebagai “pertarungan terakhir” dan secara terbuka menyerukan kebangkitan kembali Dinasti Pahlavi.
Di beberapa kampus lain, mahasiswa—sebagian masih mengenakan ransel kuliah—berkumpul spontan, meneriakkan tuntutan agar pemerintahan Islam mundur.
Milisi Basij Masuk Kampus
Ketegangan meningkat ketika milisi Basij dikerahkan ke berbagai universitas. Seorang mahasiswa di Universitas Teheran merekam keberadaan anggota Basij di sebuah menara dekat kampus yang diduga digunakan untuk pemantauan dan perekaman aktivitas demonstran.
Pada Minggu, 23 Februari 2026, pasukan khusus Iran dilaporkan memasuki Universitas Ferdowsi Mashhad untuk membubarkan demonstrasi. Bentrokan sempat terjadi dan situasi di lapangan digambarkan sangat kacau.
Di Universitas Teheran sendiri, sekitar 50–60 anggota Basij memasuki area kampus sambil mengibarkan bendera pemerintahan Islam. Ribuan mahasiswa melakukan perlawanan. Bentrokan fisik tidak terhindarkan dan berlangsung hampir sepanjang hari.
Ledakan Misterius Guncang Teheran
Masih pada Minggu pagi, 23 Februari, warga Teheran yang melintas di jalan tol merekam ledakan di beberapa titik kota.
Hingga kini belum ada konfirmasi resmi mengenai:
- Lokasi pasti ledakan
- Penyebab kejadian
- Jumlah korban (jika ada)
Beredar spekulasi bahwa sumber ledakan berasal dari fasilitas bawah tanah—kemungkinan gudang persenjataan atau pusat komando rahasia. Beberapa rekaman memperlihatkan kobaran api dan asap hitam tebal membumbung tinggi.
Belum dapat dipastikan apakah ledakan ini berkaitan dengan aksi sabotase, kecelakaan militer, atau kemungkinan operasi intelijen asing.
Pergerakan Militer AS Meningkat Drastis
Di tengah gejolak internal Iran, perhatian global tertuju pada pergerakan militer Amerika Serikat.
USS Gerald R. Ford di Mediterania
Kelompok tempur kapal induk ini dilaporkan berada di kawasan Laut Mediterania. Pada 22 Februari, kapal perusak USS Winston S. Churchill terpantau melintasi Selat Gibraltar.
Foto yang beredar di media sosial mengklaim kapal induk tersebut telah tiba di Haifa, Israel, namun informasi ini belum terverifikasi.
USS Abraham Lincoln di Laut Arab
Kelompok tempur ini beroperasi di Laut Arab dekat wilayah selatan Iran, didukung kapal perusak kelas Arleigh Burke dan kapal selam nuklir.
Dua kapal selam nuklir tambahan—USS Georgia dan USS South Dakota—juga dilaporkan beroperasi di Samudra Hindia.
F-22 dan Penguatan Udara
Sebanyak 12 jet tempur F-22 terlihat siaga di RAF Lakenheath pada 22 Februari.
Citra satelit di Pulau Kreta menunjukkan:
- 11 pesawat tanker KC-135
- 2 pesawat pengintai RC-135
- 1 jet tempur F-15
Peningkatan penerbangan pesawat angkut militer C-17 dari daratan AS ke Eropa juga terdeteksi dalam 24 jam terakhir.
Sikap Inggris dan Respons Diplomatik Iran
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer dilaporkan menolak penggunaan pangkalan Inggris untuk menyerang Iran.
Sementara itu, pada 22 Februari 2026, Iran menyatakan bersedia:
- Mengekspor separuh cadangan uranium yang diperkaya tinggi
- Mengencerkan separuh sisanya
- Mengizinkan pengawasan badan nuklir internasional
Langkah ini dipandang sebagai sinyal kompromi diplomatik di tengah tekanan militer yang meningkat.
Menurut laporan The New York Times, Presiden Donald Trump mempertimbangkan opsi serangan terbatas terhadap Iran dalam beberapa hari mendatang jika kesepakatan nuklir tidak tercapai.
Ketegangan Global Meluas
Pada hari yang sama, bentrokan bersenjata besar juga dilaporkan terjadi di Meksiko setelah seorang pemimpin kartel narkoba tewas dalam operasi keamanan.
Memasuki tahun 2026, dinamika geopolitik global bergerak sangat cepat. Iran kini berada di persimpangan antara kompromi diplomatik dan kemungkinan eskalasi militer berskala besar.
Perkembangan beberapa hari ke depan akan sangat menentukan arah kawasan Timur Tengah—dan mungkin juga stabilitas global secara lebih luas.





