Penulis: Ricardo Julio
TVRINews, Jakarta
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko Infra), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menekankan pentingnya kontemplasi dan aksi nyata dalam mewujudkan swasembada air nasional. Hal tersebut disampaikan AHY dalam kegiatan Water Town Hall Meeting yang berlangsung di Jakarta, Selasa 24 Februari 2026.
Dalam sambutannya, Menko AHY menyoroti bahwa isu air bukan sekadar kebutuhan hari ini, melainkan fondasi ketahanan bagi generasi mendatang. Ia membedah empat agenda utama terkait pengelolaan air.
Menko AHY mengingatkan masyarakat dan pemangku kepentingan untuk tidak terjebak dalam "ilusi" bahwa Indonesia memiliki cadangan air yang tak terbatas hanya karena statusnya sebagai negara maritim dan kepulauan terbesar.
"Kita menghadapi sebuah ilusi, sepertinya kita kelebihan air karena sungai kita banyak dan panjang. Tapi nyatanya, data membuktikan tidak semua daerah kecukupan air setiap harinya," ujar AHY.
Ia merefleksikan sejarah bahwa peradaban besar dunia, seperti Mesir dengan Sungai Nil, Tiongkok dengan Yellow River, hingga kerajaan di Nusantara seperti Gowa Tallo dengan Sungai Jeneberang dan Tarumanegara, eksis karena mampu menguasai pengelolaan air.
AHY memaparkan data mengkhawatirkan mengenai kondisi air di tingkat global yang harus menjadi alarm bagi Indonesia, terkit kelangkaan Air bahwa saat ini, 50% populasi global menghadapi water scarcity (kelangkaan air) yang parah. Kemudian tercatat angka kematian mencapai 829 ribu orang akibat kurangnya akses air minum layak, sanitasi, dan higienitas. Sekitar 80% air tawar global digunakan untuk sektor pertanian. Krisis air telah menyebabkan penurunan hasil panen (crop yields) sebesar 5% hingga 30% di berbagai penjuru dunia.
"Kondisinya tidak baik-baik saja. Kita harus waspada karena konflik geopolitik saat ini semakin banyak bersumber dari perebutan akses air," tambahnya.
Menko AHY turu menekankan pentingnya mitigasi dampak buruk air. Ia menyebutkan bahwa air bisa menjadi berkah sekaligus malapetaka jika tidak dikelola dengan baik.
"Kekeringan menyebabkan malapetaka, sedangkan banjir sudah benar-benar hadir di tengah kehidupan masyarakat kita. Kita harus memitigasi dampak bahaya akibat kekurangan maupun kelebihan air," tegasnya.
Lebih jauh, AHY mengajak seluruh pihak menjadikan momen bulan suci Ramadan sebagai waktu untuk melakukan kontemplasi mendalam mengenai kedaulatan air demi masa depan anak cucu bangsa.
Editor: Redaktur TVRINews





