REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA - Tingkat hunian hotel di Daerah Istimewa Yogyakarta anjlok pada awal Ramadhan 1447 Hijriah. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (PHRI DIY) mencatat okupansi hotel hanya berada di kisaran 5 hingga 10 persen dalam pekan pertama bulan suci.
"Okupansi turun sangat drastis. Data kita menunjukkan hanya sekitar 5 persen hingga 10 persen," kata Ketua PHRI DIY Deddy Pranowo Eryono, Senin (23/2/2026).
Baca Juga
Pemkot Yogya Soroti Kebersihan Kota Selama Ramadhan, Termasuk di Masjid Jogokariyan
Siswi SLB di Yogyakarta Diduga Jadi Korban Pelecehan Gurunya Sendiri
Tempat Hiburan Malam di Yogya Dibatasi Selama Ramadhan, Satpol PP Rutin Patroli di Street Coffee
Deddy mengatakan, penurunan okupansi hotel di awal bulan Ramadhan ini memang kerap terjadi setiap tahunnya. Namun, kondisi tahun ini dinilai lebih berat akibat turunnya daya beli masyarakat serta minimnya wisatawan nonmuslim dan wisatawan asing. "Lebih parah karena daya beli masyarakat turun dan wisatawan non muslim yang belum kelihatan hilalnya," ujarnya. .rec-desc {padding: 7px !important;} Secara keseluruhan, PHRI DIY mencatat sebanyak 479 anggota yang terdiri dari hotel berbintang, nonbintang, dan restoran terdampak penurunan tersebut. Mengatasi hal tersebut, sejumlah strategi terus didorong. PHRI DIY mengajak seluruh anggotanya menyiapkan sejumlah strategi dan program menarik selama bulan suci. Langkah mitigasi yang dilakukan antara lain pemberian promo harga kamar atau penyesuaian tarif sesuai kebijakan masing-masing manajemen hotel. Selain itu, pelaku usaha juga melakukan efisiensi operasional guna menekan biaya. Deddy juga mendorong pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan yang dapat mendongkrak kunjungan wisatawan menjelang Idul Fitri. Diskon tarif transportasi umum serta rencana penerapan kebijakan work from anywhere (WFA) bagi ASN dan karyawan swasta dinilai dapat menjadi stimulus bagi sektor perhotelan di Yogyakarta, sekaligus mempersiapkan lonjakan kunjungan saat musim libur Lebaran.