Agrinas Sudah Bertemu Produsen Mobil Lokal Sebelum Putuskan Impor Pickup India

katadata.co.id
2 jam lalu
Cover Berita

Direktur Utama Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota, mengungkapkan ia telah melakukan pertemuan dan negosiasi dengan sejumlah produsen mobil dalam negeri sebelum akhirnya memutuskan untuk mengimpor 105 ribu unit pick up  (pikap) dari India untuk operasional Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). 

“Isu bahwa kami tidak memberikan kesempatan atau tidak memberikan ruang kepada produsen lokal, saya rasa itu tidak benar,” kata Joao dalam konferensi pers di kantornya, di Jakarta Timur, Selasa (23/2). 

Menurutnya, Agrinas Pangan sudah melakukan kegiatan secara transparan dan semua produsen telah diberi kesempatan yang sama. 

Ia menyatakan pihaknya telah mengadakan pertemuan dengan pabrikan pick up Indonesia, baik yang berasal dari Jepang maupun Cina. Agrinas telah mengundang sejumlah produsen otomotif nasional, termasuk Grup Astra yang menawarkan berbagai merek seperti Suzuki, Isuzu, Daihatsu, dan Toyota. 

Menurut Joao, Astra menawarkan Toyota Hilux dalam dua varian, yakni 4x4 atau mesin tenaga empat roda dan 4x2 atau tenaga mesin dua roda. Namun, penawaran tersebut tidak mencapai kesepakatan karena faktor harga dan keterbatasan kapasitas produksi.

Suzuki Carry dan Daihatsu Gran Max sebagai dua produsen pick up utama disebutnya belum mampu memproduksi sesuai permintaan. Menurut dia, dua pick up utama itu yang menimbulkan pertanyaan seolah-olah Agrinas tak memberikan peluang bagi pick up 4x2 dalam negeri. 

“Pertimbangannya, untuk Gran Max dan Carry sekarang 4x2-nya hanya mampu memproduksi sebanyak 100 – 120 ribu unit per tahun dan sebagian besar dipakai MBG (Makan Bergizi Gratis),” kata dia. 

Alasan Agrinas Impor Pick Up 4x4 Buatan India

Joao, mengatakan kendaraan 4x4 merupakan kebutuhan penting di sektor pertanian karena mampu menjangkau medan sulit yang tidak dapat dilalui kendaraan 4x2. Kondisi geografis lahan pertanian yang beragam, mulai dari jalan tanah, berlumpur, hingga area perkebunan terpencil, membuat kendaraan dengan penggerak empat roda menjadi pilihan yang lebih tepat.

“Bagi kami, di dunia pertanian, 4x4 itu menjadi suatu kebutuhan. Selama ini petani menggunakan 4x2 bukan karena itu ideal, tetapi karena harga 4x4 di Indonesia sangat tinggi dan sulit dijangkau,” ujar Joao.

Ia mencontohkan harga kendaraan 4x4 di pasar domestik bisa mencapai sekitar Rp 528 juta per unit. Harga tersebut dinilai tidak realistis bagi petani yang memiliki pendapatan terbatas, sehingga mereka terpaksa menggunakan kendaraan 4x2 meskipun memiliki keterbatasan di medan berat.

Joao menyoroti kondisi di Lampung sebagai salah satu contoh nyata pentingnya kendaraan 4x4. Ia mengatakan petani singkong di daerah tersebut menghadapi tantangan logistik yang besar, terutama dalam mengangkut hasil panen dari kebun menuju jalan utama.

“Biaya terbesar dalam produksi singkong bukan pada penanaman, tetapi pada logistik. Satu hektare singkong bisa menghasilkan 30 sampai 40 ton, dan itu harus diangkut dari kebun ke jalan sebelum dibawa ke pasar,” katanya.

Ia juga mengklaim proses pengadaan dengan skema impor itu menghasilkan efisiensi anggaran sebesar Rp 46,5 triliun.




Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Raya dalam kesederhanaan di tenda pengungsi
• 16 jam laluantaranews.com
thumb
Pemkab Banyuwangi salurkan bantuan modal usaha lewat program Wenak
• 19 jam laluantaranews.com
thumb
Jadwal Imsakiyah dan Waktu Buka Puasa Wilayah Solo Raya, Rabu 25 Februari 2026
• 5 jam lalukompas.tv
thumb
Dipecat! Bripda MS yang Aniaya Siswa di Tual hingga Tewas
• 13 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Gubernur Pramono Pastikan Korban Kecelakaan Bus Transjakarta Ditanggung Full
• 17 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.