Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah Indonesia berkomitmen untuk menghormati kontrak investasi proyek Lapangan Gas Abadi, Blok Masela, Maluku yang telah disepakati dengan perusahaan asal Jepang, Inpex Masela ltd.
"Saya ingin menekankan bahwa Indonesia tidak pernah mengubah peraturan dan kontrak yang telah ditandatangani. Kami selalu menghormati kontrak atau kewajiban kami," ujar Purbaya kepada perwakilan Inpex dalam dalam Rapat Koordinasi Proyek Strategis Nasional Onshore LNG Abadi Masela yang ia pimpin di Kementerian Keuangan, Selasa (24/2/2026).
Kendati demikian, Purbaya menjelaskan bahwa pemerintah tetap dapat menerbitkan regulasi baru yang bersifat umum untuk kepentingan kebijakan nasional. Dalam beberapa kasus, aturan tersebut bisa saja berdampak tidak langsung pada proyek yang sudah berjalan.
"Namun mungkin suatu saat kita membuat beberapa aturan atau regulasi yang mengawasi. Hal itu tidak secara sengaja memengaruhi kontrak, tetapi karena dampak keterkaitan, mungkin hal itu memengaruhi kontrak Anda," ujar Purbaya.
Jika hal tersebut terjadi, Purbaya meminta investor untuk segera berkoordinasi dengan pemerintah agar penyesuaian dapat dilakukan tanpa mengganggu kepastian investasi.
"Beri tahu kami jika itu terjadi. Kami akan menyesuaikan. Tetapi kami tidak pernah melanggar kesucian kontrak. Itu sangat penting untuk kepercayaan investasi di negara ini. Jadi, Pak, jangan takut," ujarnya.
Sebagaimana diketahui, Lapangan Abadi di Blok Masela adalah lapangan gas laut dalam dengan cadangan gas terbesar di Indonesia yang terletak sekitar 160 kilometer lepas pantai Pulau Yamdena di Laut Arafura dengan kedalaman laut 400-800 meter. Adapun potensi gas dari Lapangan Abadi ini diperkirakan 6,97 triliun kaki kubik (TCF) gas.
Kontrak bagi hasil (Production Sharing Contract/ PSC) Masela yang ditandatangani pada 1998 lalu dan telah diperpanjang hingga 2055 ini berpotensi menghasilkan 9,5 MMTPA (juta metrik ton per tahun) LNG dan 150 MMSCFD (juta kaki kubik standar per hari) gas pipa. Selain itu, Lapangan Abadi diperkirakan dapat menghasilkan produksi kondensat sebesar 35.000 barel per hari.
Konsep pengembangan lapangan greenfield (lapangan migas baru) yang memiliki kompleksitas tinggi dan risiko besar mencakup pengeboran deepwater, fasilitas subsea, FPSO (Floating Production Storage and Offloading), dan onshore LNG plant akan menjadi tantangan sekaligus peluang besar bagi PHE serta mitra-mitranya untuk merealisasikannya. Selain itu pengembangan lapangan ini juga berpotensi menyerap hingga 10.000 tenaga kerja.
Blok Masela juga direncanakan akan menghasilkan clean LNG melalui penerapan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) untuk mendukung program Pemerintah dalam mengurangi emisi karbon dan mendukung sustainability pada era transisi energi.
(pgr/pgr) Add as a preferred
source on Google




