Peran Ayah dalam Membentuk Cara Perempuan Memandang Laki-Laki

kumparan.com
17 jam lalu
Cover Berita

Dalam banyak keluarga, peran ayah masih sering dipahami secara terbatas. Tulisan ini berangkat dari pengamatan dan refleksi pribadi saya terhadap relasi ayah dan anak perempuan di sekitar lingkungan saya. Ayah identik dengan bekerja, mencari nafkah, dan memenuhi kebutuhan ekonomi, sementara urusan pengasuhan dan kedekatan emosional lebih sering dilekatkan pada ibu. Pembagian peran ini sudah begitu lama dinormalisasi hingga kehadiran ayah dalam kehidupan anak perempuan kerap terasa sebatas fisik, bukan emosional. Ayah ada di rumah, tetapi tidak selalu hadir sebagai sosok yang bisa diajak berbagi cerita atau memahami perasaan anaknya.

Di sekitar saya, tidak sedikit anak perempuan yang tumbuh dengan ayah yang jarang terlibat dalam pengasuhan sehari-hari. Ayah lebih banyak diam, sibuk bekerja, atau sekadar menjalani rutinitas tanpa upaya membangun komunikasi yang hangat. Jika pun ada percakapan, topiknya sering kali sebatas hal-hal dasar atau justru menyentuh pembicaraan sensitif yang membuat anak perempuan merasa tidak nyaman. Akibatnya, anak menjadi sulit membuka diri. Bukan karena tidak ingin berbicara, tetapi karena tidak merasa aman secara emosional untuk melakukannya. Tentu pengalaman setiap keluarga berbeda, dan tidak semua ayah hadir dengan cara yang sama.

Dalam banyak pandangan yang diwariskan secara turun-temurun, ayah juga dituntut untuk selalu kuat, tegar, dan tidak menunjukkan emosi. Ekspresi kasih sayang sering dianggap sebagai sesuatu yang tidak maskulin. Pola pikir ini membuat sebagian ayah menjadi kaku dalam menunjukkan perhatian, padahal sikap tersebut sangat dibutuhkan anak, terutama anak perempuan. Ketika ayah jarang menunjukkan empati atau kehangatan, anak belajar bahwa kedekatan emosional dengan laki-laki bukanlah sesuatu yang mudah diakses.

Temuan ini sejalan dengan berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan tidak hanya berdampak pada pemenuhan kebutuhan fisik anak, tetapi juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan emosional dan sosialnya. Dalam jurnal Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak, dijelaskan bahwa ayah yang terlibat secara emosional melalui komunikasi, perhatian, dan kehadiran yang responsive membantu anak membangun rasa aman dan kepercayaan diri. Sebaliknya, ketika peran ayah terbatas pada fungsi ekonomi semata, anak berisiko mengalami keterbatasan dalam mengenali dan mengekspresikan emosi secara sehat. Hal ini memperkuat anggapan bahwa kehadiran ayah yang minim secara emosional bukan sekadar persoalan individu, melainkan pola pengasuhan yang berdampak jangka panjang.

pengalaman-pengalaman awal ini tidak berhenti di masa kecil, dari sosok ayah, anak perempuan pertama kali belajar tentang bagaimana laki-laki bersikap. Cara ayah berbicara, memberi perhatian, merespons emosi, bahkan cara ia bersikap cuek atau marah, semuanya menjadi pengalaman awal yang membentuk persepsi. Anak perempuan yang terbiasa melihat ayahnya dingin dan kurang perhatian dapat menganggap sikap tersebut sebagai sesuatu yang normal. Begitu pula ketika seorang anak tumbuh dengan ayah yang keras atau kasar, ada risiko bahwa ia memandang perilaku tersebut sebagai hal yang wajar dalam relasi dengan laki-laki.

Penelitian lain juga menunjukkan bahwa hubungan emosional antara ayah dan anak berperan penting dalam membentuk kemampuan anak mengelola emosi dan membangun relasi sosial. Jurnal tentang keterlibatan dan kelekatan ayah menyebutkan bahwa anak yang memiliki kelekatan emosional yang baik dengan ayah cenderung memiliki regulasi emosi yang lebih matang. Kemampuan ini menjadi dasar dalam membangun hubungan yang sehat di kemudian hari. Ketika anak terbiasa dengan respons emosional yang dingin, tidak konsisten, atau penuh kemarahan dari ayah, pola tersebut dapat memengaruhi cara ia memahami kedekatan, konflik, dan perhatian dalam relasi dengan orang lain, termasuk dengan laki-laki di luar keluarganya.

Pengalaman-pengalaman ini sering kali terbawa hingga dewasa, meskipun tidak selalu disadari. Cara perempuan memandang laki-laki lain baik dalam pertemanan maupun hubungan romantic tidak lepas dari pengalaman awalnya dengan ayah. Anak perempuan yang dibesarkan dengan komunikasi yang lembut dan rasa aman cenderung memiliki kepekaan ketika diperlakukan tidak pantas. Setidaknya, akan muncul pertanyaan dalam benaknya ketika menghadapi sikap kasar atau pengabaian: mengapa ada laki-laki yang memperlakukannya seperti ini, sementara ayahnya sendiri tidak pernah melakukan hal tersebut.

Sebaliknya, anak perempuan yang tumbuh dengan ayah yang cuek, tidak peduli, atau minim keterlibatan emosional bisa saja terbiasa dengan pola relasi yang serupa. Dalam hubungan, ia mungkin lebih toleran terhadap pengabaian atau kurangnya perhatian, karena itulah bentuk relasi yang paling dikenalnya sejak kecil. Hal ini bukan berarti semua perempuan akan mengulang pola yang sama, tetapi pengalaman awal tersebut sering menjadi referensi bawah sadar dalam membangun hubungan dengan laki-laki.

Cara ayah mengekspresikan emosi juga berperan besar dalam membentuk cara anak perempuan memahami kedekatan. Ayah yang mampu menunjukkan emosi secara sehat mengajarkan bahwa laki-laki juga boleh merasakan, mengungkapkan, dan mengelola emosi. Sebaliknya, ayah yang menekan emosi atau mengekspresikannya melalui kemarahan dapat membentuk pemahaman yang keliru tentang relasi dan komunikasi. Pola ini kemudian memengaruhi cara anak perempuan berinteraksi dengan lingkungan sosialnya, termasuk bagaimana ia merespons konflik dan membangun keintiman.

Membahas peran ayah dalam membentuk cara perempuan memandang laki-laki bukanlah upaya untuk menyalahkan individu atau menuduh satu pihak. Tujuan utamanya adalah membangun kesadaran bahwa ayah memiliki peran yang jauh lebih luas dari sekadar pencari nafkah. Kehadiran ayah secara emosional ikut membentuk cara anak perempuan memahami relasi, batasan, dan penghargaan terhadap dirinya sendiri. Relasi yang sehat tidak muncul begitu saja ketika seseorang dewasa, melainkan berakar dari pengalaman awal dalam keluarga. Dengan membuka ruang diskusi tentang peran ayah, kita sedang membicarakan masa depan relasi yang lebih sehat bagi generasi berikutnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Samindo Resources (MYOH) Bidik Volume Batuan Penutup 34,5 Juta BCM Sepanjang 2026
• 6 jam laluidxchannel.com
thumb
Brimob Pukul Anak hingga Tewas, Menteri PPPA Dorong Kepastian Hukum
• 20 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Penyaluran Kredit Bank di Wilayah OJK Malang Tembus Rp110,48 Triliun pada 2025
• 7 jam lalubisnis.com
thumb
3 Mahasiswa yang Diamankan Saat Demo Ricuh di Polda DIY Diserahkan ke Rektorat
• 14 jam lalukumparan.com
thumb
Dibiayai Dana Abadi APBN, Ini Kewajiban Penerima Beasiswa LPDP Setelah Lulus
• 16 menit laludisway.id
Berhasil disimpan.