VIVA – Di saat Amerika Serikat meningkatkan tekanan militer terhadap Iran, hampir 5.000 personel Angkatan Laut AS di atas kapal induk terbesar dunia justru menghadapi persoalan mendasar: ratusan toilet yang rusak dan sistem perpipaan yang bermasalah.
USS Gerald R. Ford telah berada di laut sejak Juni tahun 2025 lalu. Penempatan kapal induk itu diperpanjang untuk kedua kalinya di tengah memanasnya situasi di Timur Tengah dan peringatan Presiden Donald Trump soal kemungkinan tindakan militer terhadap Iran.
Namun bagi para pelaut di atas kapal, ancaman konflik bukan satu-satunya tekanan. Delapan bulan berada di laut tanpa jeda perawatan penuh berdampak langsung pada kondisi fisik kapal. NPR melaporkan pada bulan Januari bahwa sistem perpipaan di kapal induk semakin memburuk.
Sejumlah peralatan mengalami kerusakan karena jadwal pemeliharaan dan peningkatan tertunda, termasuk sistem perpipaan. Seperti toilet tersumbat dan masalah saluran pembuangan. Laporan pada Januari menyebutkan sistem saluran pembuangan di kapal induk senilai 13 miliar dolar AS itu terus memburuk. Dari sekitar 650 toilet yang menggunakan sistem vakum, banyak yang tidak berfungsi.
"Karena ini sistem vakum, masalah pada satu toilet dapat menyebabkan semua toilet di bagian kapal tersebut kehilangan daya hisap, sehingga menyulitkan kru pemeliharaan untuk mengisolasi masalah. Kru menemukan berbagai macam benda, mulai dari kaos hingga potongan tali sepanjang empat kaki, yang menyumbat sistem. Namun, masalah yang paling umum tampaknya adalah bagian belakang toilet yang terlepas," lapor NPR.
Perpanjangan masa tugas juga memicu tekanan psikologis. Biasanya, penugasan kapal induk berlangsung selama 6 bulan selama masa damai, kata Mark Montgomery, seorang pensiunan laksamana muda, kepada Wall Street Journal. Para pelaut Ford telah berada di laut selama 8 bulan, dan masa tugas tersebut dapat diperpanjang hingga 11 bulan, katanya, yang akan menjadi salah satu penugasan terpanjang dalam sejarah Angkatan Laut AS.
Sebagian besar awak kapal merupakan pria dan wanita berusia awal 20-an. Dalam kondisi "mode hantu" demi menjaga kerahasiaan pergerakan kapal, komunikasi dengan keluarga sangat terbatas. Seorang pelaut mengatakan banyak kru merasa frustrasi dan ingin segera meninggalkan dinas setelah penugasan berakhir.





