Menjelang senja, Bela Setyaningrum membuka laptopnya dengan penerangan seadanya di dalam tenda yang untuk sementara menjadi rumahnya. Sudah dua pekan mahasiswa semester akhir jurusan psikologi itu bersama 22 keluarga lainnya mengungsi setelah rumah mereka terdampak pergerakan tanah.
Di tengah keterbatasan, rutinitas akademik tetap ia jalani. Skripsi harus dirampungkan, kelulusan tak bisa ditunda. Sebuah kipas angin kecil berputar pelan, mengusir pengap di antara perabot yang sempat diselamatkan. Selasa (24/2/2026), Bela kembali menata waktu di sela situasi darurat yang belum menentu.
Di luar deretan tenda oranye milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Lurah Jangli Theresia menemui sekitar 60 warganya. Ia menyampaikan bahwa masa bantuan akan berakhir dua hari lagi. Warga diimbau mulai mengelola kebutuhan secara mandiri, terutama untuk konsumsi harian.
”Tidak usah memikirkan yang berat-berat. Yang penting menjaga kebersamaan,” ujar Theresia di hadapan warga. Menurut dia, solidaritas menjadi modal utama menghadapi situasi ini.
Hampir sebulan terakhir, Kampung Sekip Sapta Marga III RT 7 RW 1, Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, dilanda bencana tanah bergerak. Tanah yang labil dengan sejumlah rekahan berpotensi longsor. Belasan rumah rusak parah dan ditinggalkan penghuninya.
Berdasarkan data Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Jawa Tengah, sejumlah wilayah di Kota Semarang masuk zona rawan tanah gerak. Salah satunya kawasan Jangli di Kecamatan Tembalang, yang berada dalam satu tarikan patahan memanjang dari Gombel, Banyumanik, hingga Gunungpati.
Sunarjo, salah satu warga, menuturkan, sebagian perabot rumahnya kini hanya tertutup terpal di tengah permukiman yang kosong. ”Warga hanya membawa pakaian dan barang penting ke tenda,” katanya.
Enam tenda berdiri di atas lahan milik warga yang dipinjamkan sementara. Rata-rata satu tenda dihuni sekitar sepuluh orang. Secara bergantian, warga kembali ke kampung untuk menjaga barang yang masih tertinggal.
Di tengah kondisi serba tak pasti, kepastian relokasi menjadi harapan utama. ”Harapan kami segera ada kabar akan ditempatkan di mana. Katanya mau direlokasi, tetapi lahannya masih dicari,” ujar Sunarjo.
Dalam ketidakpastian itu, warga memelihara satu hal yang tersisa, yaitu harapan akan tempat tinggal lebih aman, jauh dari ancaman tanah bergerak.





