Grid.ID - Tabungan murid di Pangandaran Rp 2,5 M diketahui belum dibayar. Dedi Mulyadi langsung beri respon dan lakukan ini.
Kasus tabungan siswa yang mandek di Kabupaten Pangandaran kembali mencuat setelah salah satu orang tua siswa mengadukan langsung kasus tersebut pada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Viral tabungan murid di Pangandaran Rp 2,5 M belum dibayar, Dedi Mulyadi langsung beri respon. Gubernur Jabar akan lakukan ini.
Kejadian itu berlangsung ketika Dedi Mulyadi melakukan perjalanan dengan sepeda motor ke Kabupaten Pangandaran untuk meninjau secara langsung kondisi Jalan Provinsi di wilayah Jawa Barat. Momen tersebut kemudian diunggah melalui akun YouTube resminya, Kang Dedi Mulyadi Channel, pada Senin (16/2/2026).
Saat ia berhenti untuk melihat rumah hasil renovasi program rutilahu dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat, seorang pria yang mengenakan kemeja putih menghampirinya. Pria itu segera menyampaikan keluhan terkait dana tabungan siswa SD, tempat anaknya pernah bersekolah, kepada Gubernur Jawa Barat tersebut.
"Di SD sudah empat angkatan tabungan siswa tidak dibayar, sebanyak Rp 2,5 miliar," adu pria berambut putih tersebut.
Sembari menepuk bahu pria itu, Dedi Mulyadi menggali keterangan lebih lanjut mengenai persoalan tabungan para siswa tersebut.
Ternyata, permasalahan itu terjadi di beberapa sekolah dasar yang berada di Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran. Pria yang menyampaikan keluhan tersebut menjelaskan bahwa sekolah yang terlibat bukan hanya satu, melainkan hampir separuh SD di wilayah tersebut.
"Hampir 50 persen SD di Parigi," katanya.
Pria itu menjelaskan, murid-murid SD diwajibkan untuk menabung di sekolah, tabungan dititipkan lewat guru kelas. Sekolah meminjamkan ke koperasi sebagai modal, dan modal tersebut dipinjamkan ke guru-guru. Sayangnya, kini koperasi tersebut sudah bangkrut, namun orang tua murid tak mendapat kepastian pembayaran tabungan siswa tersebut.
"Saya sudah minta catatan utang guru-gurunya, tapi tidak diberi," keluh pria tersebut.
Dedi Mulyadi, sambil menenangkan pria tersebut, berjanji akan membantu melakukan pemeriksaan lewat inspektorat.
"Ya sudah, nanti saya periksa lewat inspektorat. Kita periksa dulu. Kan, intinya orangtua ingin uangnya kembali," kata Dedi Mulyadi.
Dedi Mulyadi pun mencairkan suasana yang sempat tegang dengan berkelakar bahwa dirinya sebagai gubernur tak hanya membangun jalan, memasang listrik untuk warga, membangun jembatan, hingga menyelesaikan masalah tabungan sd.
"Sudah, kita tengahi, mudah-mudahan ada jalan lewat pintu dan kendela, alias jalan keluar," katanya.
Hambatan Penagihan: Guru Purnatugas dan Aset Sulit Dilepas
Kepala Bidang SD Disdikpora Kabupaten Pangandaran, Darso, mengungkapkan bahwa pihaknya menghadapi kendala dalam menagih piutang kepada sejumlah oknum guru, khususnya yang telah pensiun dan mengalami keterbatasan ekonomi.
"Ada pensiunan guru yang punya utang, tapi pas datang memakai baju tidak layak dan sandal jepit. Kerjanya sekarang hanya membuat sapu lidi," ungkap Darso, dikutip dari Kompas.com.
Meski demikian, Darso menegaskan bahwa utang tetap harus dibayar. Disdikpora kini menuntut para kepala sekolah untuk lebih proaktif menyelesaikan masalah ini secara mandiri tanpa hanya bergantung pada koperasi yang asetnya sulit terjual.
"Uang tabungan itu merupakan uang titipan orang tua peserta didik. Kalau mau pinjam silakan di luar, mau ke Bank atau ke koperasi," tegas Darso mengingatkan bahwa meminjam uang tabungan siswa adalah tindakan yang melanggar aturan.
Sampai sekarang, Tim Khusus (Timsus) yang bekerja sama dengan Inspektorat masih melakukan penagihan secara langsung dari rumah ke rumah terhadap guru-guru yang memiliki utang, guna memastikan hak para siswa di Pangandaran dapat dikembalikan. (*)
Artikel Asli




