Di Balik Dinding Sekolah: Pendidikan di Tengah Krisis Toleransi

katadata.co.id
8 jam lalu
Cover Berita

Pendidikan dan toleransi, dua kata yang sering diucapkan namun jarang dipahami sepenuhnya. Ia adalah fondasi dari masyarakat yang sehat. Tanpa keduanya, peradaban yang kita banggakan bisa runtuh menjadi abu; bukan karena kehancuran fisik, melainkan karena ketidakmampuan kita untuk hidup berdampingan. Jika pendidikan adalah alat untuk membentuk pikiran, maka toleransi adalah pedoman moral yang menjaga agar kekuasaan intelektual tak berujung pada tirani pikiran yang picik.

Setiap rezim kuat, setiap penguasa yang tahu cara mempertahankan kekuasaannya, mengerti betul bahwa pendidikan bukan hanya soal menyampaikan fakta, melainkan soal mengarahkan cara berpikir rakyatnya. Sejarah diatur ulang, diseleksi, dan disajikan dengan penuh kehati-hatian untuk meneguhkan narasi yang sesuai dengan kepentingan penguasa. Di titik ini, pendidikan tak lagi menjadi jalan untuk mencari kebenaran, tetapi alat untuk mengendalikan persepsi.

Namun, dalam masyarakat ideal, pendidikan seharusnya berfungsi sebaliknya. Pendidikan seharusnya membebaskan, membentuk individu menjadi kritis dan mandiri, dengan kemampuan untuk berpikir melampaui prasangka dan dogma yang diwariskan. Tapi ini hanya mungkin jika pendidikan menanamkan toleransi—kemampuan untuk mendengar dan menerima gagasan yang tak sejalan dengan milik kita, untuk mempertanyakan segala sesuatu tanpa takut dikecam.

Ketidakadilan dalam Pendidikan

Ironisnya, pendidikan yang seharusnya menjadi alat pembebasan sering kali justru menjadi instrumen ketidakadilan. Di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, akses terhadap pendidikan berkualitas masih menjadi hak istimewa segelintir orang. Sementara anak-anak di perkotaan menikmati fasilitas yang lengkap, anak-anak di pedalaman hanya bermimpi mendapatkan buku pelajaran. Ketimpangan ini tak hanya soal fasilitas fisik, tetapi juga tentang pola pikir yang terbentuk dari kesenjangan tersebut.

Seorang anak yang tumbuh dalam lingkungan yang penuh dengan kemiskinan dan kebodohan bukan hanya kekurangan pengetahuan; dia juga kehilangan kesempatan untuk memahami dunia dengan cara yang lebih luas dan toleran. Di sini, pendidikan gagal, bukan karena kurangnya gedung sekolah, tetapi karena tak adanya upaya untuk memberikan akses yang adil kepada semua. Dan saat pendidikan gagal, ketidakadilan meluas ke seluruh masyarakat. Toleransi pun mati, digantikan oleh kebencian yang muncul dari ketidaksetaraan.

Solidaritas sebagai Toleransi yang Sebenarnya

Toleransi, dalam banyak hal, adalah salah satu kata yang paling sering disalahartikan. Toleransi sejati bukanlah menerima segala sesuatu tanpa kritik, melainkan memberi ruang untuk mendengarkan argumen yang berlawanan, lalu mengevaluasinya dengan pikiran terbuka. Ini bukan soal menyerah pada pandangan mayoritas, tetapi tentang mengakui hak setiap orang untuk memiliki pendapat, bahkan jika pendapat itu tak nyaman atau bertentangan dengan nilai-nilai kita.

Namun, apa yang kita lihat di dunia hari ini sering kali adalah bentuk toleransi palsu—sebuah sikap berpura-pura menghargai perbedaan, tetapi pada akhirnya menolak segala sesuatu yang terlalu mengganggu keyakinan kita sendiri. Di sekolah-sekolah, kita mungkin mengajarkan sejarah berbagai agama dan budaya, tetapi hanya sebatas fakta kering, tanpa melibatkan siswa dalam diskusi yang sebenarnya tentang implikasi sosial dari perbedaan tersebut. Pada akhirnya, siswa mungkin tahu tentang keberadaan agama lain, tetapi mereka tak belajar untuk benar-benar menghormati atau memahami keyakinan tersebut.

Seperti banyak hal lainnya dalam kehidupan, ketidakhadiran toleransi tak selalu terlihat jelas. Tak seperti perang atau bencana alam, intoleransi menyelinap dalam bentuk ketidakpedulian. Saat kita berhenti peduli pada mereka yang berbeda dari kita, kita menutup pintu terhadap kemungkinan dialog yang lebih dalam. Kita menciptakan batas-batas imajiner yang memisahkan “kita” dari “mereka”, dan dari sinilah segala bentuk diskriminasi bermula.

Masyarakat yang tak memiliki toleransi akan segera terpecah-belah. Di awal, mungkin perpecahan ini hanya muncul sebagai desas-desus di antara kelompok-kelompok kecil, tetapi lambat laun, mereka tumbuh menjadi kebencian yang terorganisir. Kebencian ini tak memerlukan alasan yang rasional, hanya ketidakpedulian yang terus-menerus. Dalam dunia yang demikian, pendidikan tak lagi mampu mengubah apa pun, karena yang tertinggal hanyalah masyarakat yang dibangun di atas ketakutan, bukan pada pengetahuan.

Agar terciptanya toleransi sesama manusia, solidaritas menjadi konsep dan pondasi penting dalam mengajarkan perbedaan. Solidaritas melibatkan orang-orang untuk saling memahami satu sama lain dan mendorong sebuah perubahan yang sebelumnya di suatu masyarakat tidak dapat menerima dengan mudah nilai-nilai dan kebudayaan yang berbeda. Solidaritas mengutamakan pada penanaman di dalam masyarakat akan pentingya saling “membantu” sebelum membangun prasangka-prasangka dan perbedaan terhadap sesama manusia. Solidaritas, dengan begitu, menggiring manusia bersama-sama membangun hubungan saling timbal-balik dan kesadaran atas pentingnya sifat kepemimpinan yang paling mendasar.

Seringkali kita menjumpai kasus-kasus baik dari siswa-siswa sekolah dan/atau mahasiswa-mahasiswa menghadapi permasalahan rasisme, perundungan, hingga kekerasan. Maka dari itu, solidaritas dapat dipahami pula sebagai penyedia suaka. Solidaritas dapat menjadi tempat perlindungan bagi perundungan, perbedaan, kelompok-kelompok minoritas, dan marginal, sekaligus menjadi pusat pentingnya mendukung hak-hak asasi manusia demi kepentingan bersama melalui nilai-nilai yang ditanamkan dalam pendidikan dan perjumpaan lintas budaya. 

Pendidikan untuk Membentuk Masa Depan

Jika kita ingin selamat dari masa depan yang gelap, pendidikan harus mengambil peran yang lebih besar daripada sekadar menyampaikan fakta-fakta mati. Pendidikan harus menjadi alat untuk meruntuhkan dinding-dinding yang memisahkan manusia dari sesamanya. Setiap kelas, setiap buku, harus menjadi jendela ke dunia yang lebih luas, di mana perbedaan adalah hal yang dirayakan, bukan ditakuti.

Namun, untuk mencapai itu, kita harus terlebih dahulu menyadari betapa rentannya masyarakat kita terhadap intoleransi. Kita harus mengakui bahwa kita semua, pada titik tertentu, telah menjadi korban sistem pendidikan yang gagal memahami esensi toleransi. Dan hanya dengan mengubah cara kita mendidik, kita dapat berharap untuk menciptakan generasi yang lebih baik—generasi yang tak hanya pintar, tetapi juga adil dan bijaksana.

Di tangan para guru dan pendidik terletak masa depan yang penuh tantangan. Mereka harus berani menantang status quo, menghadapi kritik, dan mengajarkan hal-hal yang mungkin tak populer. Karena pada akhirnya, tanpa pendidikan yang benar, tak ada masa depan. Dan tanpa toleransi, kita hanya membangun masa depan yang penuh kebencian.

Dalam dunia yang ideal, pendidikan bukanlah soal mengejar nilai atau gelar, tetapi soal memahami kemanusiaan dalam segala bentuknya. Dan, toleransi bukanlah sikap pasif, tetapi perjuangan terus-menerus untuk menjembatani jurang perbedaan yang memisahkan kita. Jika kita tak bisa mempelajari hal ini sekarang, maka kita hanya mengulangi kesalahan yang sama, dan membiarkan kebodohan menang atas kemajuan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Video: Hitung Cuan Investasi Sektor Otomotif Saat Ramadan
• 5 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Wakil Walkot Tangsel Pilar Saga Terseret Polemik Loka Padel, Pemilik Minta Maaf
• 15 jam lalukompas.com
thumb
Serangan Balasan atas Pemboman Masjid, Pakistan Menyerang 7 Lokasi Persembunyian Kelompok Bersenjata
• 23 jam laluerabaru.net
thumb
BRIN: Konsumsi Ikan Mati karena Keracunan Picu Gangguan Kesehatan | DIPO INVESTIGASI
• 22 jam lalukompas.tv
thumb
Ramalan Zodiak Besok, 26 Februari 2026 untuk Aries, Taurus, Gemini, Cancer, Leo, Virgo: Temukan Keberuntunganmu
• 13 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.