Milan, VIVA – Langkah Inter Milan di Liga Champions musim ini harus terhenti secara menyakitkan setelah disingkirkan Bodo/Glimt pada babak playoff menuju 16 besar. Kekalahan agregat 2-5 dari wakil Norwegia tersebut menjadi pukulan telak bagi Nerazzurri, terlebih karena terjadi di fase krusial kompetisi elite Eropa.
Usai kekalahan tersebut, pelatih Inter Cristian Chivu memberikan pengakuan yang sangat jujur terkait performa timnya. Chivu tidak mencari-cari alasan dan secara terbuka mengakui bahwa Inter memang kalah cerdas dibandingkan lawannya.
“Kami harus jujur pada diri sendiri. Dalam dua pertandingan, Bodo/Glimt lebih pintar dari kami,” ujar Chivu dilansir dari Football Italia.
“Mereka tahu kapan harus menekan, kapan harus bertahan, dan bagaimana memanfaatkan setiap kesalahan kecil yang kami buat.”
Chivu menilai bahwa masalah utama Inter bukan semata kualitas individu, melainkan kurangnya daya saing secara kolektif di momen-momen penting. Ia bahkan secara tegas menyebut timnya tidak berada di level yang dibutuhkan untuk lolos ke babak berikutnya.
“Jika melihat dua leg ini secara keseluruhan, kami tidak cukup kompetitif. Ini Liga Champions, dan jika Anda tidak tampil di level tertinggi, Anda akan dihukum,” kata Chivu.
- Instagram @inter
“Bodo/Glimt bermain dengan intensitas, keberanian, dan organisasi yang sangat baik.”
Inter sejatinya lebih diunggulkan sebelum laga, baik dari sisi pengalaman maupun materi pemain. Namun di lapangan, Bodo/Glimt justru tampil lebih efektif dan efisien. Chivu menyoroti bagaimana tim lawan mampu merusak ritme permainan Inter dan membuat Nerazzurri kehilangan kontrol.
“Kami mendominasi penguasaan bola, tetapi itu tidak berarti apa-apa jika tidak disertai agresivitas dan ketajaman,” lanjutnya.
“Mereka membuat kami tidak nyaman sepanjang pertandingan.”
Chivu juga mengakui bahwa Inter kerap melakukan kesalahan sendiri yang tidak seharusnya terjadi di level Liga Champions. Kesalahan-kesalahan tersebut dimanfaatkan dengan sangat baik oleh Bodo/Glimt, yang tampil tenang dan disiplin.
“Kami melakukan terlalu banyak kesalahan sederhana, dan di kompetisi seperti ini, kesalahan kecil bisa berakibat fatal,” ucap Chivu.
“Bodo/Glimt tidak membutuhkan banyak peluang untuk mencetak gol.”





