Startup kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) asal China, DeepSeek, kembali menjadi sorotan setelah diduga menggunakan chip tercanggih milik Nvidia Blackwell untuk melatih model AI barunya.
Dilansir Reuters, seorang pejabat senior pemerintahan Presiden Donald Trump mengatakan bahwa penggunaan chip tersebut berpotensi melanggar aturan pengendalian ekspor AS, Senin (23/1).
Menurut pejabat itu, DeepSeek diyakini berencana menghapus indikator teknis yang bisa mengungkap penggunaan chip AI asal Amerika. Ia juga menyebut chip Blackwell tersebut kemungkinan terkumpul di pusat data DeepSeek di Mongolia Dalam, wilayah otonom China.
Pejabat tersebut tidak menjelaskan bagaimana pemerintah AS memperoleh informasi tersebut maupun bagaimana DeepSeek mendapatkan chip itu. Namun, ia menegaskan kebijakan AS jelas, mereka tidak mengirim Blackwell ke China.
Nvidia menolak berkomentar. Sementara itu, Departemen Perdagangan AS dan DeepSeek belum memberikan tanggapan resmi.
Kedutaan Besar China di Washington menyatakan Beijing menentang penarikan garis ideologis, perluasan konsep keamanan nasional secara berlebihan, penggunaan kontrol ekspor secara luas, serta politisasi isu ekonomi, perdagangan, dan teknologi.
Dalam konferensi pers rutin Kementerian Luar Negeri China, juru bicara Mao Ning mengatakan pihaknya tidak mengetahui detail kasus tersebut, dan kembali menegaskan posisi China terkait perlakuan Washington atas ekspor chip AS ke China.
Konfirmasi pemerintah AS berpotensi memperdalam perpecahan di kalangan pembuat kebijakan di Washington. Mereka masih bergulat menentukan batas akses China terhadap semikonduktor AI Amerika.
Penasihat AI Gedung Putih, Czar David Sacks, dan CEO Nvidia, Jensen Huang, berpendapat bahwa mengirim chip AI canggih ke China justru dapat mencegah perusahaan lokal seperti Huawei mempercepat pengembangan teknologi tandingan Nvidia maupun Advanced Micro Devices (AMD).
Namun, kelompok yang dikenal sebagai “China hawks” khawatir chip tersebut bisa dialihkan dari penggunaan komersial untuk memperkuat kemampuan militer China dan mengancam dominasi AS di bidang AI.
Chris McGuire, mantan pejabat Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih era Presiden Joe Biden, menilai dugaan ini menunjukkan betapa berbahayanya ekspor chip AI ke China.
“Jika perusahaan AI terkemuka China terang-terangan melanggar kontrol ekspor AS, kita tak bisa berharap mereka akan mematuhi syarat yang melarang penggunaan chip untuk mendukung militer China,” ujarnya.
Blackwell Dilarang, H200 Masih MenggantungSaat ini, aturan pengendalian ekspor AS yang diawasi Departemen Perdagangan melarang pengiriman chip Blackwell ke China. Pada Agustus lalu, Trump sempat membuka peluang bagi Nvidia untuk menjual versi Blackwell yang diturunkan spesifikasinya ke China. Namun, ia kemudian membalikkan sikap dan menyatakan chip paling canggih sebaiknya diprioritaskan untuk perusahaan AS dan tidak dikirim ke China.
Keputusan Trump pada Desember yang mengizinkan perusahaan China membeli chip Nvidia tercanggih kedua, yakni H200, menuai kritik keras dari kalangan hawkish terhadap China. Meski demikian, pengiriman H200 masih tertahan karena adanya pembatasan tambahan dalam persetujuan ekspor.
Saif Khan, mantan direktur teknologi dan keamanan nasional di Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih era Biden, menilai ketergantungan perusahaan AI China pada Blackwell yang diselundupkan menunjukkan kekurangan besar chip AI produksi dalam negeri mereka.
“Persetujuan ekspor H200 bisa menjadi semacam ‘penyelamat’ bagi mereka,” ujarnya.
Sejauh ini, pejabat pemerintahan Trump itu menolak berkomentar apakah kabar terbaru ini akan memengaruhi keputusan terkait izin pembelian H200 oleh DeepSeek. Pejabat tersebut juga menyebut model DeepSeek kemungkinan dilatih menggunakan teknik distillation, yakni memanfaatkan model AI yang lebih lama untuk mengevaluasi jawaban model baru, sehingga pengetahuan model lama ditransfer ke model yang lebih baru.
Model yang disebut-sebut menjadi sumber distilasi antara lain berasal dari perusahaan AI terkemuka AS seperti Anthropic, Google, OpenAI, dan xAI. Tuduhan serupa sebelumnya juga telah disampaikan oleh OpenAI dan Anthropic.
DeepSeek yang berbasis di Hangzhou sempat mengguncang pasar global awal tahun lalu lewat peluncuran model AI yang disebut mampu menyaingi sejumlah produk terbaik dari AS. Perkembangan itu memicu kekhawatiran di Washington bahwa China dapat mengejar ketertinggalan dalam perlombaan AI meski dibatasi sanksi teknologi.
Kasus ini menambah daftar panjang ketegangan teknologi antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia, sekaligus menegaskan bahwa persaingan AI bukan lagi sekadar soal inovasi, melainkan juga geopolitik dan keamanan nasional.





