Meningkatnya Risiko Konflik Pakistan–Taliban dan Dampaknya terhadap Asia Selatan

kumparan.com
8 jam lalu
Cover Berita

Ketegangan antara Pakistan dan rezim Taliban Afghanistan kembali meningkat, setelah Islamabad melancarkan serangan udara ke wilayah Afghanistan pada akhir Februari 2026.

Langkah ini diambil sebagai respons atas serangkaian serangan bunuh diri di Pakistan, termasuk bom mematikan di Islamabad yang menewaskan puluhan orang. Perkembangan terbaru ini memicu kekhawatiran bahwa Asia Selatan kembali menghadapi potensi konflik lintas batas yang lebih luas.

Menurut laporan Al Jazeera, pada 22 Februari 2026, militer Pakistan menyerang sejumlah target yang disebut sebagai kamp militan di sepanjang perbatasan Afghanistan. Pemerintah Pakistan menegaskan operasi tersebut berbasis intelijen dan ditujukan kepada kelompok yang dianggap bertanggung jawab atas meningkatnya serangan teror di dalam negeri. Namun, Kabul membantah tuduhan bahwa wilayahnya digunakan untuk merencanakan serangan terhadap Pakistan.

Serangan lintas batas ini terjadi setelah gelombang kekerasan meningkat tajam di Pakistan sepanjang awal 2026. Dikutip dari Financial Times, bom bunuh diri di sebuah masjid di Islamabad menewaskan lebih dari 30 orang dan melukai ratusan lainnya, menjadikannya salah satu serangan paling mematikan di ibu kota dalam lebih dari satu dekade.

Data keamanan Pakistan menunjukkan tren kekerasan memang meningkat: sepanjang 2025, lebih dari 1.800 warga sipil dan personel keamanan dilaporkan tewas akibat serangan kelompok bersenjata (Financial Times). Tekanan domestik inilah yang mendorong Islamabad untuk mengambil pendekatan militer yang lebih agresif di perbatasan baratnya.

Risiko Konflik Pakistan-Taliban: Warisan dan Retorika

Meski ketegangan terbaru tampak dipicu dinamika setelah 2021, hubungan antara Pakistan dan Afghanistan sebenarnya telah lama diwarnai rasa saling curiga. Akar masalah bermula dari sengketa Garis Durand, perbatasan era kolonial yang hingga kini tidak pernah diakui secara resmi oleh Kabul. Isu ini menciptakan ketegangan diplomatik sejak Pakistan berdiri pada 1947.

Pada dekade 1950–1960-an, hubungan kedua negara beberapa kali memburuk akibat dukungan Kabul terhadap nasionalisme Pashtun lintas batas. Ketegangan bahkan sempat memicu penutupan perbatasan dan insiden militer terbatas, meski tidak berkembang menjadi perang terbuka.

Fase konflik modern muncul setelah kembalinya Taliban berkuasa di Kabul pada 2021. Harapan awal Islamabad bahwa Taliban akan menekan Tehrik-i-Taliban Pakistan (TTP) tidak sepenuhnya terwujud. Sebaliknya, aktivitas militan di wilayah perbatasan meningkat tajam.

Sejak 2022, Pakistan beberapa kali melakukan serangan udara lintas batas ke provinsi timur Afghanistan yang dituduh menjadi basis TTP. Serangan pada April 2022 dilaporkan menewaskan puluhan orang dan memicu kecaman keras dari Kabul.

Insiden serupa kembali terjadi pada 2023 dan 2024, menandakan pola eskalasi bertahap yang kini berlanjut pada 2026. Retorika keras dari kedua pihak dapat membuat stabilitas kawasan semakin runyam.

Islamabad secara konsisten menuduh Taliban Afghanistan gagal menindak TTP dan afiliasi dengan ISIS-K (ISIS-Khorasan, sisa-sisa cabang dari ISIS yang beroperasi di kawasan Asia Selatan, termasuk Afghanistan).

Sebaliknya, otoritas Taliban menegaskan bahwa mereka tidak mengizinkan wilayah Afghanistan digunakan untuk melancarkan serangan terhadap negara lain.

Pola saling tuduh ini berbahaya karena mempersempit ruang diplomasi. Sejumlah analis keamanan menilai bahwa serangan lintas batas—meskipun disebut “terbatas”—berpotensi menciptakan spiral eskalasi jika menimbulkan korban sipil di Afghanistan. Dalam beberapa insiden sebelumnya, korban warga sipil justru menjadi pemicu utama memburuknya hubungan bilateral.

Dampak bagi Stabilitas Kawasan Asia Selatan

Potensi konflik Pakistan–Afghanistan memiliki implikasi luas bagi stabilitas Asia Selatan. Pertama, eskalasi militer dapat mengganggu koridor perdagangan regional, terutama di kawasan perbatasan Khyber Pakhtunkhwa dan jalur transit menuju Asia Tengah.

Penutupan perlintasan perbatasan pada krisis sebelumnya terbukti mengganggu rantai pasok dan memperburuk kondisi kemanusiaan. Kedua, konflik berkepanjangan berisiko memperkuat kelompok ekstremis transnasional. Kekosongan keamanan di wilayah perbatasan historis sering dimanfaatkan oleh jaringan militan untuk rekrutmen dan konsolidasi.

Jika koordinasi keamanan Pakistan–Taliban terus memburuk, ruang operasi ISIS-K dan TTP berpotensi melebar. Ketiga, ketegangan ini memiliki dimensi geopolitik yang lebih luas. Pakistan adalah negara bersenjata nuklir dan aktor penting di Asia Selatan. Instabilitas di perbatasan baratnya dapat memengaruhi kalkulasi keamanan regional, termasuk hubungan Islamabad dengan India serta dinamika keamanan Asia Tengah.

Dalam jangka pendek, konflik terbuka berskala besar antara Pakistan dan Taliban masih cenderung tidak terjadi. Kedua pihak memiliki insentif kuat untuk menahan diri: Pakistan menghadapi tekanan ekonomi domestik, sementara pemerintahan Taliban masih berupaya memperoleh legitimasi internasional.

Namun, risiko eskalasi terbatas tetap tinggi. Pola serangan balasan lintas batas yang berulang menunjukkan dinamika “escalate to deter”, di mana masing-masing pihak menggunakan tekanan militer terbatas untuk mengirim sinyal politik. Jika tren serangan militan di Pakistan terus meningkat dan Taliban gagal menunjukkan langkah konkret terhadap TTP, tekanan terhadap Islamabad kemungkinan akan membesar.

Asia Selatan kini menghadapi fase baru ketidakpastian keamanan. Di tengah perubahan pemerintahan beberapa negara dan kebangkitan demokrasi seperti di Bangladesh dan Nepal, konflik di beberapa negara yang juga dipengaruhi oleh faktor historis dan provokasi cenderung untuk muncul kembali.

Khususnya dalam kasus Pakistan dan Afghanistan. Tanpa mekanisme koordinasi yang efektif antara Islamabad dan Kabul, ketegangan Pakistan–Taliban berpotensi tetap menjadi titik panas kawasan sepanjang 2026—meski mungkin belum berkembang menjadi perang terbuka.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menagih Janji Reformasi Polri di Kasus Tual
• 7 jam lalurepublika.co.id
thumb
Jadwal Imsak dan Subuh Surabaya Rabu 25 Februari 2026 (7 Ramadan 1447)
• 20 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Detik-Detik Presiden Prabowo Tiba di Yordania, Disambut Langsung Putra Mahkota
• 7 jam lalukompas.tv
thumb
Respons Pemprov Banten Digugat Perdata karena Jalan Rusak di Pandeglang
• 22 jam laludetik.com
thumb
Menteri PU: 44 blok huntara di Aceh Utara selesai sebelum lebaran
• 15 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.