Harga Emas Menguat, Pasar Cermati Pidato Trump dan Ketidakpastian Tarif AS

bisnis.com
8 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Harga emas menguat di tengah sikap pelaku pasar yang mencermati ketidakpastian tarif impor Amerika Serikat (AS) dan memudarnya peluang pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.

Berdasarkan data Bloomberg, Rabu (25/2/2026), harga emas di pasar spot naik tipis 0,3% menjadi US$5.158,35 per troy ounce. Sementara itu, harga emas Comex tercatat menguat 0,56% ke level US$5.205,50 per troy ounce.

Harga logam mulia tersebut diperdagangkan di kisaran US$5.150 per troy ounce setelah anjlok 1,6% pada sesi sebelumnya, yang memutus reli empat hari beruntun.

Presiden Federal Reserve Bank of Boston, Susan Collins, pada Selasa menyatakan suku bunga kemungkinan akan tetap ditahan untuk beberapa waktu menyusul perbaikan data pasar tenaga kerja AS. Risalah rapat kebijakan The Fed pada Januari yang dirilis awal bulan ini juga menunjukkan para pejabat bank sentral berhati-hati untuk segera memangkas suku bunga.

Suku bunga yang lebih tinggi umumnya menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga.

Meski demikian, emas masih bertahan di atas level US$5.000 per troy ounce setelah pulih lebih dari separuh kerugian akibat aksi jual tajam selama dua hari pada awal bulan.

Baca Juga

  • Trump Serukan Era Keemasan AS saat Bacakan Pidato Kenegaraan
  • Ancaman Baru Trump & Dilema RI Hadapi Desakan Tinjau Ulang Kesepakatan Dagang
  • Segala Cara Trump Kenakan Tarif

Penguatan dalam beberapa sesi terakhir didorong ketidakpastian kebijakan perdagangan AS serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, di mana AS mengerahkan kekuatan militer terbesar sejak 2003. Perundingan dengan Iran dijadwalkan kembali berlangsung pekan ini.

Pidato Trump

Pelaku pasar juga tengah mencermati pidato kenegaraan (State of the Union) Trump di Washington. Presiden AS tersebut dilaporkan akan memaparkan gagasan tidak konvensional terkait pemangkasan pajak individu dan korporasi dalam pidato tersebut.

Di sisi lain, tarif impor menyeluruh 10% yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump resmi berlaku pada Selasa, menyusul putusan Mahkamah Agung yang membatalkan skema tarif resiprokal sebelumnya. Trump sempat mengancam menaikkan tarif menjadi 15%, namun belum menerbitkan kebijakan resmi terkait hal tersebut.

Pemerintahan AS juga tengah menyiapkan serangkaian investigasi keamanan nasional terhadap dampak sejumlah produk impor, termasuk baterai dan bahan kimia industri, yang berpotensi membuka ruang bagi tarif tambahan. Di saat bersamaan, sejumlah importir mengajukan permohonan pengembalian tarif kepada pemerintah.

Direktur Strategi Komoditas BNP Paribas SA, David Wilson, mengatakan potensi pengembalian tarif dapat berdampak signifikan terhadap defisit anggaran AS, dolar, dan obligasi pemerintah AS.

Kekhawatiran terhadap lonjakan utang pemerintah turut memicu apa yang dikenal sebagai “debasement trade”, yakni peralihan investor dari obligasi dan mata uang ke aset keras seperti emas. Tren ini menjadi pendorong reli emas dalam beberapa tahun terakhir sebelum terkoreksi tajam pada akhir Januari.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jadi Pesepak Bola & Penyanyi? Sabrina Mutiara Bisa Dua-duanya!
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
JPU Yakini Rp 28 M Bagian Suap Hakim Masuk Kantong Ary Gadun FM dan Marcella Santoso
• 1 jam lalukompas.com
thumb
Hangat dan Penuh Haru, Prabowo Disambut Mahasiswa Indonesia di Yordania hingga Ucapkan Selamat Ulang Tahun
• 7 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Merida Open: Ditekuk Petenis Kolombia, Langkah Janice Tjen Terhenti
• 14 jam lalukumparan.com
thumb
Balita hingga Lansia Dirawat, Mual dan Muntah Usai Santap Menu MBG 
• 3 jam lalukompas.id
Berhasil disimpan.