Indonesia terancam mengalami kelebihan pasokan kedelai setelah adanya kesepakatan untuk mengimpor kedelai sebanyak 3,5 juta ton dari Amerika Serikat (AS).
Ketua Umum Asosiasi Kedelai Indonesia (Akindo) Hidayatullah Suralaga mengatakan, saat ini kebutuhan kedelai nasional hanya mencapai 2,7 juta ton hingga 2,9 juta ton per tahun. Dengan demikian akan terjadi oversupply (kelebihan pasokan) yang terancam tidak terserap oleh pelaku usaha.
“Pada saat ini kebutuhan (konsumsi) kedelai nasional berkisar 2,7-2,9 juta ton. Jadi kalau kita impor 3,5 jt ton dari US, berarti akan terjadi kelebihan pasokan kedelai di dalam negeri,” kata Hidayatullah kepada kumparan, Rabu (25/2).
Importasi kedelai sejumlah 3,5 juta ton merupakan salah satu kesepakatan yang tertuang dalam Agreement on Reciprocal Trade (ART).
Hidayatullah menuturkan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2025, Indonesia mengimpor 2,56 juta ton kedelai dan sebanyak 86,55 persen berasal dari AS. Jika dikalkukasikan, Indonesia mengimpor sebanyak 2,21 juta ton kedelai dari AS pada 2025.
Dalam 5 tahun terakhir importasi kedelai setiap tahunnya memang berkisar antara 2,3 juta ton hingga 2,68 juta ton. Meski demikian, Hidayatullah mengaku belum bisa memperkirakan berapa jumlah kedelai yang akan diimpor Indonesia pada tahun ini.
“Akindo belum bisa memperkirakan berapa impor untuk 2026 ini. Mungkin bisa dilihat dari Neraca Komoditas Kedelai 2026 yang dibuat oleh Bapanas (Badan Pangan Nasional),” tuturnya.
Dalam dokumen ART Indonesia-AS, ada kesepakatan Indonesia mendukung dan memfasilitasi pengaturan komersial untuk mengimpor komoditas pertanian AS senilai USD 4,5 miliar atau setara dengan Rp 75,7 triliun (dengan kurs Rp 16.824 per dolar AS).
Komoditas yang diimpor antara lain 163.000 metrik ton kapas asal AS setiap tahun selama 5 tahun, 3,5 juta metrik ton kedelai asal AS setiap tahun selama 5 tahun.
Kemudian impor 3,8 juta metrik ton tepung kedelai asal AS setiap tahun selama 5 tahun dan 2 juta metrik ton gandum asal AS setiap tahun selama 5 tahun.




