Kementerian Perdagangan mengatakan tidak ada izin atau persetujuan impor (PI) khusus yang dikeluarkan pemerintah terkait rencana pengadaan 105 ribu mobil pick up oleh PT Agrinas Pangan Nusantara.
“Tidak ada PI untuk impor mobil baru. Jadi tidak memerlukan persetujuan,” kata Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Perdagangan, Ni Made Kusuma Dewi kepada Katadata, Rabu (25/2).
Agrinas berencana mengimpor 105 ribu unit pickup untuk kebutuhan operasional Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Kebutuhan ini dipasok dari dua perusahaan asal India, PT Tata Motors dan Mahindra Ltd.
Adapun jumlah tersebut terdiri dari Tata Motors yang akan memasok masing-masing 35 ribu unit pick up Yodha dan 35 ribu truk T.7 ke anak perusahaannya PT Tata Motors Distribusi Indonesia. Selain itu, 35 ribu unit pasokan pick up lainnya diimpor dari perusahaan Mahindra & Mahindra Ltd.
Senada dengan Kementerian Perdagangan, Direktur Utama Agrinas Pangan Nusantara Joao Angelo De Sousa Mota juga menyebut berdasarkan pengecekannya, impor ini tidak memiliki ketentuan khusus.
“Saya rasa kalau sesuai aturan, tidak ada yang kami langgar karena itu diperbolehkan kalau keberpihakan,” ujar Joao dalam konferensi pers di kantornya, Selasa (24/2).
Menurutnya, jika industri dalam negeri mampu menyuplai dan menjual mobil pick up secara bulk maka Agrinas tidak akan melakukan impor tersebut.
“Ini hasil negosiasi ketidakmampuan teman-teman untuk menyuplai Agrinas, sehingga memaksa kami untuk impor,” katanya.
Sudah Bertemu Produsen Lokal
Joao mengungkapkan ia telah melakukan pertemuan dan negosiasi dengan sejumlah produsen mobil dalam negeri sebelum akhirnya memutuskan untuk mengimpor.
“Isu bahwa kami tidak memberikan kesempatan atau tidak memberikan ruang kepada produsen lokal, saya rasa itu tidak benar,” kata Joao dalam konferensi pers di kantornya, di Jakarta Timur, Selasa (23/2).
Menurutnya, Agrinas Pangan sudah melakukan kegiatan secara transparan dan semua produsen telah diberi kesempatan yang sama. Ia menyatakan pihaknya telah mengadakan pertemuan dengan pabrikan pick up Indonesia, baik yang berasal dari Jepang maupun Cina.
Agrinas telah mengundang sejumlah produsen otomotif nasional, termasuk Grup Astra yang menawarkan berbagai merek seperti Suzuki, Isuzu, Daihatsu, dan Toyota.
Menurut Joao, Astra menawarkan Toyota Hilux dalam dua varian, yakni 4x4 atau mesin tenaga empat roda dan 4x2 atau tenaga mesin dua roda. Namun, penawaran tersebut tidak mencapai kesepakatan karena faktor harga dan keterbatasan kapasitas produksi.
Suzuki Carry dan Daihatsu Gran Max sebagai dua produsen pick up utama disebutnya belum mampu memproduksi sesuai permintaan. Menurut dia, dua pick up utama itu yang menimbulkan pertanyaan seolah-olah Agrinas tak memberikan peluang bagi pick up 4x2 dalam negeri.
“Pertimbangannya, untuk Gran Max dan Carry sekarang 4x2-nya hanya mampu memproduksi sebanyak 100 – 120 ribu unit per tahun dan sebagian besar dipakai MBG (Makan Bergizi Gratis),” kata dia.




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5510151/original/022495300_1771820094-Bus_Mudik_Gratis.jpg)