Harapan-Ketakutan Warga Iran Soal Potensi Serangan AS

detik.com
8 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Pemerintah Iran dan Amerika Serikat dilaporkan terus melakukan negosiasi, di tengah meningkatnya kekuatan militer AS di Timur Tengah dan tenggat waktu yang diberikan Donald Trump.

Situasi itu membuat sekelompok warga Iran mengaku berada dalam kecemasan dan ketidakpastian. Bercerita kepada BBC, mereka bilang kondisi di Iran kini "bukan perang, bukan damai".

Di antara mereka berkata kalau setiap pagi selalu diselimuti pertanyaan "apakah serangan sudah terjadi atau belum?"

Mereka juga bercerita ada dua skenario jika serangan datang. Di satu sisi, terjadi perang panjang yang menyakitkan warga dan menyebabkan kerusakan parah pada fasilitas hingga infrastruktur negara.

Di sisi lain, adanya harapan pelonggaran sanksi, jatuhnya rezim Ali Khamenei, dan terciptanya "kehidupan yang normal".

Dan, ketidakpastian yang terjadi saat ini telah membuat banyak kehidupan warga Iran terhenti dan memutuskan berlindung di dalam rumah.

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menyebut kondisi "bukan perang, bukan damai" itu sebagai hal yang berbahaya dan merugikan kepentingan nasional.

Di saat yang bersamaan, suasana di Iran masih memanas usai aksi protes besar-besaran pada Januari lalu.

Peringatan 40 hari bagi para demonstran yang tewas dilaporkan telah berlangsung.

Sektor ekonomi Iran terus melemah yang menyebabkan kenaikan tinggi harga dan penurunan nilai mata uang.

Sekelompok warga Iran mengirimkan cerita mereka ke BBC tentang kondisi yang terjadi kini di Iran, namun pandangan mereka tak mewakili spektrum luas pandangan publik di seluruh Iran.

Setiap nama narasumber dalam laporan ini telah diubah dengan alasan keamanan.

Cerita warga tentang kondisi di Iran

Reza bekerja sebagai sopir bus di Maku, Iran. Menurut Reza, ketidakpastian yang terjadi saat ini dipicu pemerintah Iran yang hanya ingin memberikan kesepakatan sekecil mungkin, tanpa menyadari terjadinya perubahan di domestik dan internasional.

"Sayangnya, pemimpin Iran tidak bersedia melunak karena merasa hal itu akan merusak citra domestik dan internasionalnya. Di sekitarnya juga tidak ada orang yang berani dan realistis untuk memperingatkan potensi kerusakan perang bagi negara atau bahkan bagi Republik Islam itu sendiri," ujar Reza.

Sekelompok warga bercerita kondisi di Iran berada dalam kecemasan dan ketidakpastian. (Getty Images)

Reza bercerita jika AS menyerang maka dampaknya akan jauh lebih besar dibandingkan perang 12 hari antara Iran dengan Israel yang terjadi pada Juni 2025.

"Kemungkinan besar akan terjadi perang panjang dan menyakitkan, yang akan memberikan pukulan kuat bagi Republik Islam sekaligus berisiko menghancurkan infrastruktur negara," kata Reza.

Dalam perang 12 hari, Kementerian Kesehatan Iran melaporkan lebih dari 610 orang tewas, dan 4.700 orang luka-luka. Selain itu, fasilitas bandara, nuklir, energi dan militer Iran juga menjadi sasaran.

Iran dilanda aksi protes di dalam negeri Januari lalu. Dalam aksi ini, pemerintah melakukan pemutusan jaringan komunikasi. Dampaknya, memberikan kerugian hingga triliunan rupiah bagi perekonomian Iran.

Mungkin Anda tertarik:

  • Ketegangan AS-Iran: Teheran mungkin memilih konfrontasi daripada 'menyerah'
  • Apa saja skenario yang mungkin terjadi jika AS menyerang Iran?
  • Ketegangan AS-Iran: Teheran mungkin memilih konfrontasi daripada 'menyerah'

Saeed, seorang insinyur otomotif, menyatakan bahwa ia "selalu melihat berita setelah bangun tidur, untuk melihat apakah serangan sudah terjadi atau belum."

Saeed berkata, terdapat sekelompok warga yang menyambut dan menunggu serangan AS ke Iran.

"Karena serangan itu menurut mereka dengan optimis akan menumbangkan Republik Islam. Mereka tidak ingin membayangkan versi negatifnya kalau serangan AS hanya terbatas dan tak menyebabkan perubahan rezim."

Dia bilang, serangan AS yang terbatas dan gagal hanya akan membuat penindasan yang lebih kejam ke rakyat, yang ia yakini menjadi "opsi utama pemerintah dalam menekan rakyat", terutama setelah respons mematikan terhadap pengunjuk rasa Januari lalu.

'Dari menimbun makanan hingga mencairkan aset'

Seorang pemuda dari Teheran berkata hal yang sama. Dia bilang, mayoritas orang yang ditemui, terutama di kalangan anak muda, setuju dengan serangan AS.

Alasannya, katanya, perang memberikan harapan perubahan atas kondisi kehidupan yang sulit saat ini di negaranya.

"Sebagian besar dari kami berjuang mewujudkan impian kami dan bekerja beberapa sif sehari, tetapi setiap hari kami semakin miskin."

Ia menambahkan, "Kami siap dengan cara apa pun agar Republik Islam hancur, bahkan jika kami sendiri terbunuh, seperti banyak rekan kami yang tewas dalam perang antara rakyat dan pemerintah di Januari."

Potret kehidupan di Teheran. (Getty Images)

Elaheh, dokter perempuan yang tinggal di Belgia menghubungi ibunya yang tinggal di Teheran.

Dalam pembicaraan itu, kata Eleheh, "Ibu berkata dia terus-menerus melihat video serangan aparat ke warga, mayat di ruang jenazah, dan upacara 40 hari keluarga korban, lalu ia menangis karena besarnya kematian, duka cita dan penderitaan ini."

Mendengar itu, Elaheh mengaku khawatir dengan kondisi yang terjadi. Lalu adiknya mengambil alih telepon. Mereka berdua justru menangis tersedu-sedu dan tidak mampu berbicara satu sama lain.

Menurut keterangan adiknya Elaheh, tingkat kekerasan dan pembunuhan yang dilakukan pemerintah terhadap rakyat masih sulit dipercayai oleh banyak orang.

Setelah lebih dari sebulan, kata Elaheh, banyak warga yang masih dalam keadaan linglung dan terkejut.

Gelombang kemarahan dan duka yang tak berujung menyelimuti banyak kota dan desa, sementara perilaku para pejabat semakin menambah kebencian dan membuat masyarakat terpolarisasi tajam melawan penguasa serta aparatnya.

Protes yang memuncak pada tanggal 7 dan 8 Januari lalu direspon dengan tindakan represif pasukan keamanan yang menyebabkan ribuan orang tewas dan terluka, serta puluhan ribu orang ditangkap di seluruh Iran.

Kantor Kepresidenan Iran merilis daftar 2.986 orang tewas dan mengklaim total korban jiwa mencapai 3.117 orang termasuk jenazah tanpa identitas.

Namun, aktivis HAM menyatakan banyak nama pengunjuk rasa yang tewas tidak ada dalam daftar tersebut dan angka aslinya jauh lebih tinggi. Mereka memandang bahwa pemerintah mencoba menyembunyikan dimensi sebenarnya dari kejahatan tersebut.

Kantor berita aktivis HAM (HRANA) hingga 13 Februari telah mengonfirmasi kematian 7.005 orang dan masih menyelidiki ratusan laporan lainnya.

  • AS menyerang tiga fasilitas nuklir Iran, apa dampaknya dan bagaimana Iran akan membalas?
  • AS gabung dengan Israel serang Iran akan ciptakan 'malapetaka' Bagaimana posisi UK?
  • Trump punya tiga pilihan dalam pertikaian Israel-Iran Apakah AS akan serang Iran?

Nasim, seorang editor di Karaj yang tinggal bersama anak tunggalnya, bercerita tentang persiapannya menghadapi serangan AS.

"Saya menempelkan selotip di jendela rumah, memilih lokasi aman di dalam rumah dari serangan bom, dan berencana keluar kota jika terjadi pertempuran hebat dan berkelanjutan. Saya khawatir kemacetan akan menutup jalan dari Teheran dan Karaj menuju utara sehingga saya tidak bisa keluar tepat waktu."

Nasim memprediksi kalau AS akan menyerang Iran pada akhir pekan ini. Namun dia tidak mengetahui seberapa besar serangan dan dampak yang akan ditimbulkan setelahnya.

Di tengah situasi itu, kini banyak warga yang kebingungan mulai membeli kebutuhan pokok dan bahan makanan, meskipun beberapa dari mereka mengaku tidak mampu membeli banyak karena lonjakan harga, dan makanan yang tidak bisa disimpan lama jika listrik serta gas diputus.

Beberapa warga juga dilaporkan mencairkan aset mereka karena takut kartu bank tidak berfungsi saat krisis. Sementara itu, beberapa perusahaan membatasi pengambilan kredit dan hanya menerima pembayaran tunai karena ketidakpastian akan situasi masa depan.

'Datanglah, serang, dan bebaskan kami'

Seorang ibu rumah tangga dari Teheran berkata bahwa rezim pemerintahan Iran saat ini telah membuat banyak warga berkata, "Trump, datanglah dan serang agar kami bebas dari mereka'."

Menurutnya, meski pernyataan itu menyakitkan, mayoritas orang termasuk dirinya mendukung serangan AS ke Iran.

Dia menganggapnya bukan sebagai serangan, melainkan operasi untuk membebaskan Iran dari "rezim Republik Islam yang jahat."

Ia menambahkan bahwa orang-orang saling mengirim unggahan di Instagram tentang "apa yang harus dilakukan dalam kondisi perang" dan para orang tua mulai melarang anak-anak mereka pergi ke sekolah.

Warga berjalan kaki di jalur pedestrian di ibu kota Iran, Teheran. (Getty Images)

Selama setahun terakhir, pendidikan di Iran berada dalam ketidakpastian. Sekolah dan universitas kerap ditutup,atau dialihkan ke pembelajaran jarak jauh, yang menurut pakar merusak kualitas akademis.

Ladan Moallem, guru berusia 40 tahun dari Bushehr, menyatakan: "Suka atau tidak, kita semakin dekat dengan perang dan orang-orang hanya bisa menonton."

Ia mencoba menghindari berita demi menjaga kesehatan mentalnya. Baginya, tidak ada jalan lain selain serangan Amerika untuk menyelamatkan rakyat dari Republik Islam.

"Karena meskipun 40 juta orang turun ke jalan [pada Januari], pemerintah telah menunjukkan bahwa mereka akan membunuh pengunjuk rasa tanpa ampun, nyawa sama sekali tak berarti bagi mereka. Kami ingin mereka pergi dengan harga apa pun."

Getty ImagesAhmed, penjual furnitur paruh baya di Yaftabad, Teheran, menggambarkan kondisi pasar yang sangat sepi jelang Idul Fitri.

Aksi protes tahun ini, berbeda dengan sebelumnya, karena mendapat reaksi berulang dari Gedung Putih.

Presiden AS Donald Trump beberapa kali mengancam akan menyerang pemerintah Iran jika pengunjuk rasa dibunuhsebuah langkah yang menurut analis belum pernah terjadi sebelumnya.

Dalam pernyataan terbarunya, Trump berkata dunia akan mengetahui "mungkin dalam 10 hari ke depan" apakah akan tercapai kesepakatan dengan Iran atau melakukan tindakan militer.

Dalam pesan yang dikirim ke BBC, beberapa pendengar dari Iran berbicara tentang stres dan kecemasan hebat akibat kondisi yang tidak terprediksi dan dampak dari protes Januari lalu. Yang lain khawatir tentang anggota keluarga mereka yang lanjut usia, yang lebih rentan dalam keadaan seperti ini.

Farzaneh, pensiunan berusia 58 tahun, mengaku setiap malam memeriksa jendela untuk melihat apakah perang telah dimulai. Ia merasa sangat putus asa, namun harus tetap bertahan demi orang tuanya yang lansia.

"Orang-orang sudah sangat lelah, dan terlepas dari apakah perang terjadi atau tidak, rakyat yang paling dirugikan dalam situasi ini."

Selain itu, beberapa audiens bercerita ke BBC, meski Tahun Baru Iran (Nowruz) sudah dekat, kehidupan masyarakat terlihat lesu dan tak ada suasana ceria musim semi di jalanan atau transportasi umum.

Ahmed, penjual furnitur paruh baya di Yaftabad, Teheran, menggambarkan kondisi pasar yang sangat sepi jelang Idul Fitri. Hal itu diketahui usai dirinya membeli persiapan jika terjadi perang, "Mulai dari selimut darurat, kantong tidur, hingga senter dan bahan makanan."

Selain itu, Ahmed juga mengeluhkan harga-harga kebutuhan yang menggila dan memberikan tekanan ekonomi luar biasa ke masyarakat.

Ahmad berkata, "Saya tidak mendukung perang, tetapi mengingat penindasan terhadap semua kelompok oposisi di dalam negeri, salah satu cara yang tersisa adalah intervensi asing."

"Akankah hasil dari perang itu akan menguntungkan rakyat Iran? Mungkin perang akan merugikan rakyat dan infrastruktur akan hancur. AS akan pergi seperti di Irak dan Afghanistan. Lalu terjadi kekacauan hingga perang saudara."

"Tetapi di sisi lain, hal itu mungkin menyebabkan perubahan pemerintahan dan pada akhirnya semua ini akan berakhir demi kepentingan rakyat. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan untuk kami."

  • Pemimpin Tertinggi Iran akui ribuan orang tewas dalam rangkaian demonstrasi
  • AS dorong China mencegah Iran menutup Selat Hormuz Apa akibatnya jika jalur minyak itu diblokir?
  • Mengapa terjadi demonstrasi besar-besaran di Iran?
>


(ita/ita)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Disebut Gantikan Hugh Jackman Jadi Wolverine, Ini Kata Daniel Radcliffe
• 22 jam lalutabloidbintang.com
thumb
BRIN Rilis Indeks Daya Saing Daerah 2025: Skor Tertinggi Ada di Jawa dan Bali
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Pemkab Sidoarjo Gelar Pameran Produk Unggulan Daerah “Pasar Murah  Ramadan 1447 H” di 10 Kecamatan
• 1 jam lalurealita.co
thumb
BRMS Klarifikasi Kabar Operasional Anak Usaha Dibekukan KLH
• 10 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
PLTA Kukusan 2 di Lampung Beroperasi, Pasang Target Produksi 35 GWh Tiap Tahun
• 11 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.