Demi Mengejar Persib Bandung dan Persija, Pelatih Persebaya Bernardo Tavares Wajib Taklukkan PSM Makassar

harianfajar
3 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, SURABAYA — Sepak bola kerap mempertemukan seseorang dengan masa lalunya pada waktu yang paling menentukan. Bagi Bernardo Tavares, malam di Stadion Gelora Bung Tomo, Rabu (25/2/2026), bukan sekadar pertandingan lanjutan Indonesia Super League. Ini adalah perjumpaan dengan sejarah yang pernah ia bangun sendiri.

Persebaya Surabaya membutuhkan kemenangan. Bukan hanya untuk memperbaiki posisi klasemen, tetapi juga menjaga napas persaingan dengan Persib Bandung dan Persija Jakarta di papan atas liga. Dua kekalahan beruntun membuat ruang kesalahan semakin sempit bagi Green Force.

Di tengah tekanan itu, lawan yang datang justru PSM Makassar — klub yang identik dengan perjalanan paling sukses dalam karier kepelatihan Tavares di Indonesia.

Situasi menjadi paradoks: untuk menjaga masa depan bersama Persebaya, ia harus mengalahkan masa lalunya.

Pertandingan yang Lebih dari Sekadar Tiga Poin

Kekalahan dari Bhayangkara FC dan Persijap Jepara membuat posisi Persebaya mulai goyah dalam perburuan empat besar. Kompetisi memasuki fase krusial, ketika selisih poin kecil bisa menentukan arah musim.

Kemenangan atas PSM menjadi kebutuhan mendesak.

Namun pertandingan ini tidak berdiri dalam ruang kosong. Ada dimensi emosional yang sulit dihindari.

“PSM Makassar cukup berarti bagi saya karena itu klub yang cukup lama saya latih, bukan satu atau dua bulan, tetapi tiga setengah musim,” ujar Tavares.

Dalam dunia sepak bola modern yang serba cepat, durasi tersebut bukan angka kecil. Tiga setengah musim berarti membangun ruang ganti, membentuk identitas permainan, dan menciptakan hubungan personal dengan pemain serta suporter.

PSM bukan sekadar mantan klub. Ia adalah bagian dari perjalanan profesional yang membentuk reputasi Tavares di Indonesia.

Dari Juku Eja ke Green Force

Ketika datang ke Makassar pada April 2022, Tavares membawa proyek jangka panjang. Ia tidak hanya membangun tim, tetapi juga mentalitas kompetitif yang lama hilang.

Puncaknya terjadi pada musim 2022/2023 ketika PSM Makassar menjuarai Liga 1 dan mengakhiri penantian gelar selama 23 tahun. Prestasi itu mengubah statusnya dari pelatih asing biasa menjadi figur penting dalam sejarah klub.

Namun sepak bola juga mengenal realitas keras di luar lapangan. Hubungan itu berakhir pada Oktober 2025 di tengah persoalan pembayaran gaji yang membuatnya memilih mundur.

Kini, hanya beberapa bulan setelah perpisahan tersebut, ia kembali berhadapan dengan klub yang pernah ia anggap rumah.

“Para pemain PSM sudah seperti keluarga bagi saya,” katanya.

Kalimat itu terdengar personal, tetapi Tavares segera menambahkan batas profesional.

“Saya sekarang pelatih Persebaya. Saya akan memberikan 200 persen profesionalitas untuk tim ini.”

Analisis Melawan Ingatan

Keuntungan terbesar sekaligus tantangan terbesar Tavares adalah pengetahuannya tentang PSM.

Ia memahami karakter pemain, pola permainan, bahkan budaya ruang ganti. Namun sepak bola tidak pernah statis. Tim berubah, pelatih berganti, dan dinamika berkembang.

Karena itu, pendekatan yang ia gunakan bukan nostalgia, melainkan analisis.

“Kami telah menganalisis tim lawan dan menyesuaikan dengan kondisi pemain kami,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa duel ini bukan sekadar emosional, tetapi juga pertarungan intelektual antara pengalaman masa lalu dan realitas taktik masa kini.

Tekanan Mengejar Papan Atas

Persaingan Super League musim ini berjalan ketat. Persib Bandung dan Persija Jakarta terus menjaga konsistensi, membuat tim-tim di bawahnya tidak memiliki banyak ruang kehilangan poin.

Persebaya berada di persimpangan: kemenangan akan menjaga peluang tetap hidup, sementara hasil negatif bisa memperlebar jarak dengan papan atas.

Dalam kondisi seperti ini, pertandingan sering kali ditentukan bukan oleh kualitas teknis semata, melainkan kesiapan mental menghadapi tekanan.

Gelora Bung Tomo akan penuh dukungan Bonek. Atmosfer tersebut bisa menjadi energi besar, tetapi juga tuntutan yang berat bagi tim tuan rumah.

Ketika Profesionalisme Mengalahkan Nostalgia

Sepak bola selalu menyimpan cerita tentang pelatih yang menghadapi mantan klubnya. Namun setiap kisah memiliki konteks berbeda.

Bagi Bernardo Tavares, laga ini bukan soal membuktikan siapa yang benar setelah perpisahan. Ini tentang profesionalisme — bagaimana seorang pelatih menempatkan emosi di belakang kepentingan tim yang kini ia pimpin.

Ia pernah membawa PSM menuju kejayaan.

Kini, untuk menjaga ambisi Persebaya tetap hidup, ia harus menjadi alasan mantan klubnya pulang tanpa poin.

Di atas lapangan nanti, tidak ada ruang bagi kenangan. Yang tersisa hanya satu tujuan: kemenangan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Imigrasi Bali Deportasi WN Amerika Serikat Terpidana Pembunuhan Berencana
• 15 menit lalutvrinews.com
thumb
Daring karena Cuaca Ekstrem, Siswa Tetap Dapat MBG
• 1 jam lalucelebesmedia.id
thumb
Jadwal Layanan SIM Keliling di Jakarta Hari Ini 25 Februari 2026, Berikut Lokasi Perpanjang!
• 9 jam laludisway.id
thumb
183 Hektare Sawah Maros Terendam Banjir
• 7 jam lalutvrinews.com
thumb
6 Artis Penerima Beasiswa LPDP, Jadi Alumni Kampus Top Dunia
• 20 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.