Santri tunanetra membaca Al-Quran braille di Pondok Pesantren Raudlatul Makfufin, Kota Tangerang Selatan, Banten, Selasa (24/2). Sebanyak 28 santri di pesantren khusus penyandang disabilitas netra tersebut menempuh pendidikan membaca sekaligus menghafal Al-Quran menggunakan huruf braille sebagai upaya meningkatkan literasi keagamaan.
Berlokasi jauh dari hiruk pikuk jalanan Serpong, pesantren yang dikenal juga dengan nama Taman Tunanetra ini telah berdiri sejak 26 November 1983. Selama lebih dari empat dekade, Raudlatul Makfufin menjadi ruang belajar agama Islam bagi para penyandang disabilitas netra.
Letaknya yang berada di tengah permukiman dan tidak langsung terhubung dengan jalan raya Buaran, Serpong, bukan tanpa alasan. Ketua Pesantren Raudlatul Makfufin, Wijaya (34), menjelaskan bahwa suasana yang relatif tenang diperlukan karena para santri sangat mengandalkan kepekaan terhadap suara dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Dalam proses pembelajaran, Al-Quran braille menjadi sarana utama. Jika umumnya satu buku Al-Quran braille hanya memuat satu juz, yayasan ini mencetak versi tiga juz dalam satu buku sebagai bentuk inovasi. Ketua Yayasan Raudlatul Makfufin, Ade Ismail, menyebut langkah tersebut bertujuan memperluas penyebaran Al-Quran braille agar dapat diakses lebih banyak penyandang tunanetra di berbagai daerah di Indonesia.





