EtIndonesia. Suatu kali saat berkumpul bersama teman dan sedang makan, tanpa sengaja saya menjatuhkan satu batang sumpit. Karena pelayan tidak kunjung datang, saya mencoba makan hanya dengan satu sumpit.
Ternyata, jauh lebih sulit dari yang saya bayangkan. Mengambil lauk hampir mustahil. Satu sumpit saja tidak bisa menjepit apa pun.
Dengan dua sumpit, kita bisa dengan mudah mengambil sayur, memilih daging, menyuwir ikan, menjepit kacang, bahkan menyuap nasi dengan leluasa. Namun begitu satu sumpit hilang, seolah-olah tidak ada makanan yang bisa dimakan.
Secara teori, menggunakan satu sumpit seharusnya masih bisa menghasilkan “setengah” kemampuan makan. Tetapi kenyataannya tidak demikian.
Jika fungsi sepasang sumpit dinilai “100”, maka ketika tinggal satu batang, nilainya bukan “50”, melainkan “0”.
Seperti rel kereta api yang hanya tersisa satu jalur—kecepatannya bukan berkurang setengah, melainkan kereta tak bisa berjalan sama sekali.
Demikian pula manusia. Jika seseorang memiliki bakat tetapi tidak memiliki karakter atau moral, maka bakatnya bukan sekadar berkurang setengah, tetapi bisa menjadi tidak berguna.
Jika seseorang memiliki ambisi tetapi tidak memiliki konsistensi, ambisi itu hanya akan menjadi angan-angan kosong.
Jika seseorang punya kemampuan bertindak tetapi tidak punya ketekunan, yang tersisa hanyalah penyesalan.
Karena itu, keberhasilan bukan ditentukan oleh tinggi rendahnya IQ atau EQ semata. Kunci keberhasilan terletak pada kemauan untuk terus belajar sepanjang hayat dan berlatih secara sadar.
Bakat ditambah latihan—itulah sepasang sumpit yang utuh. Dengan keduanya, seseorang bisa mengembangkan potensinya dan menjadi luar biasa.
Renungan
Tulisan ini memang singkat, tetapi sarat makna. Dari hal sederhana seperti sumpit, kita bisa belajar prinsip besar tentang kehidupan.
Namun ada satu sudut pandang tambahan.
Jika seseorang memiliki bakat tetapi tidak memiliki moral, dampaknya bukan sekadar “tidak berguna”. Justru bisa menjadi berbahaya.
Semakin besar kemampuan seseorang, semakin besar pula dampaknya. Tanpa hati nurani dan arah yang benar, kemampuan besar bisa berubah menjadi ancaman bagi masyarakat.
Karena itu, bukan hanya bakat dan latihan yang penting, tetapi juga integritas dan nilai-nilai moral yang menjadi landasannya.
Sumpit yang lengkap bukan hanya dua batang, melainkan dua batang yang digunakan dengan benar.
Kadang pelajaran hidup memang datang dari hal kecil. Dari satu batang sumpit yang jatuh pun, kita bisa belajar tentang kesempurnaan, keseimbangan, dan tanggung jawab.(jhn/yn)





